4 Tips Berbahasa Pada Anak Usia 3-4 Tahun: Pahami 2 Perintah

4 Tips Berbahasa Pada Anak Usia 3-4 Tahun: Pahami 2 Perintah

kurdefrin. com – Anak pada usia 3-4 tahun memiliki kemampuan bahasa reseptif dan produktif. Reseptif itu merupakan kemampuan memahami bahasa. Bisa di tempuh melalui menyimak atau mendengarkan dan membaca.

Kemampuan bahasa yang produktif adalah kemampuan menggunakan bahasa. Bisa ditempuh melalui kegiatan berbicara dan menulis.

Kemampuan bahasa reseptif adalah kemampuan untuk memahami bahasa. Sedangkan kemampuan bahasa produktif adalah kemampuan anak untuk mengungkapkan bahasa.

Karena anak usia 3-4 tahun belum bisa membaca, kemampuan bahasa reseptifnya dilakukan melalui aktivitas mendengarkan atau menyimak. Jadi, kemampuan Bahasa reseptifnya baru dapat dilakukan dengan satu aktivitas saja.

Anak usia 3-4 tahun belum dapat melakukan aktivitas menulis. Kemampuan Bahasa produktifnya itu hanya dapat dilakukan dengan aktivitas bebicara.

A. Kemampuan Memahami Bahasa

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 3-4 tahun ada dua. Pertama, Pura-pura membaca cerita bergambar. Kedua Memahami dua perintah yang diberikan secara bersamaan.

1. Kemampuan Pura-pura Membaca Cerita Bergambar

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 3-4 tahun yang pertama adalah Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri. Pura-pura itu artinya berbuat tapi tidak sebenarnya.

Perilaku “pura-pura” sebenarnya terpaksa dilakukan karena anak usia 3-4 tahun belum bisa melakukan yang sesungguhnya.

Gerak mata, bibir, kepala, dan ekspresi anak harus sesuai dengan perilaku seseorang yang benar-benar membaca cerita gambar.

Agar kemampuan pura-pura membaca cerita bergambar dapat terlaksana dengan baik, tahap pertama kita harus menyediakan medianya. Media yang harus kita siapkan adalah buku cerita bergambar. Buku itu haruslah buku khusus untuk anak.

Tahap kedua, berilah anak, contoh membaca cerita bergambar. Mulailah dengan menempatkan posisi duduk yang tepat. Lalu, cara membuka halaman buku yang baik agar anak dapat menirukannya.

Selanjutnya, mulailah membaca. Jaga jarak buku yang akan dibaca dengan mata. Biasanya 30 cm. Lakukan gerak mata dari kiri ke kanan. Gerak bibir seolah-olah sedang membaca secara bersuara.

Kemudian, gerakan kepala diharapkan mengikuti gerakan mata dan bibir. Mimik wajah harus ekspresif, seolah-olah mengkhayati isi cerita bergambar. Bisa juga diikuti gestur atau gerak anggota badan. Diharapkan anak benar-benar melihat contoh tadi.

Tahap ketiga berilah kesempatan pada anak untuk melakukannya. Amatilah mulai dari cara dia duduk, dan membuka halaman buku. Amati pula jarak antara mata dengan halaman buku. Jika sudah sekitar 30cm sudah benar.

Berikutnya, kita amati gerak mata anak saat membaca buku cerita bergambar. Amati pula gerak bibir, mimik wajah, dan gesturnya. Jangan lupa, amati pula ekspresi anak pada saat melakukan pura-pura membaca buku cerita bergambar.

Jika semua perilaku anak dalam melakukan pura-pura membaca buku cerita bergambar dilakukan dengan baik, seolah-olah anak membaca sesungguhnya. Itu tandanya anak berhasil melakukannya.

Keberhasilan “berpura-pura” pada anak usia 3-4 tahun bisa dilihat dari gerakan mata dan bibir, mimik wajah. Selain itu, keberhasilah “berpura-pura” dapat dilihat dari ekspresi dan gestur.

Manfaat melakukan perilaku “Pura-pura membaca buku cerita bergambar” adalah anak dapat melakukan membaca buku cerita bergambar secara sesungguhnya. Selain itu, gerak mata, bibir,mimik, gestur, dan ekspresi anak akan terlatih.

2. Memahami Dua Perintah yang Diberikan Secara Bersamaan.

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 3-4 tahun yang kedua adalah memahami dua perintah yang diberikan secara bersamaan.

Agar anak dapat memahami dua perintah secara bersamaan, kita harus mengucapkannya secara perlahan. Kalimat perintah yang diucapkan secara jelas, diharapkan anak dapat memahami perintah itu.

Kalimat perintah yang jelas ditandai dengan vokalnya jelas. Volume suara juga dapat didengar oleh anak. Nada perintahnya juga harus jelas.

Selain itu, jenis perintahnya harus perintah yang memungkinkan untuk dilakukan oleh seorang anak usia 3-4 tahun. Perintah tidak memberatkan anak. Karena, dalam satu waktu, anak harus mengerjakan dua perintah.

Akan lebih mudah dilakukan seorang anak, jika perintahnya berupa perbuatan yang berhubungan, berurutan, atau saling berkaitan. Tentu perintah semacam itu, akan memudahkan anak untuk melakukannya.

Misalnya: anak diminta mengambil sesuatu, lalu memberikannya kepada orang. Contoh: Ambil manisan di atas meja, lalu berikan kepada ibu. Atau Ambilkan manisan di atas meja, lalu berikan kepada ibu.

Antara perintah pertama dengan perintah kedua dalam contoh di atas terdapat perbedaan karakter perintah. Kalimat perintah pertama berkesan hanya sebagai pemberitahuan jika intonasinya tidak tepat.

Mengucapkan kalimat perintah dengan intonasi yang tidak tepat akan berakibat anak tidak memahami perintah. Akibat selanjutnya, anak tidak akan melakukan perintah tersebut. Akhirnya, kebutuhan orang yang memerintah tidak dapat tercapai.

Karena, komunikasi antara yang diperintah dengan yang memerintah tidak efektif. Ketidakefektifan itu disebabkan oleh ketidaktepatan penggunaan intonasi dalam kalimat perintah. Padahal, intonasi perintah harus tinggi pengucapannya.

Jadi, jika kalimat perintah pertama akan digunakan, bisa saja dengan bantuan intonasi yang tinggi. Bisa juga dengan bantuan gerakan sehingga anak memahami perintah itu. Gerakannya menunjuk pada manisan, dan pada diri kita.

Sedangkan pada kalimat perintah kedua dalam contoh di atas dapat dikatakan lebih komunikatif. Tingkat pemahaman anak terhadap perintah kemungkinan tinggi. Anak akan mudah memahami perintah, lalu menjalankan perintah itu.

Kalimat perintah kedua dalam contoh di atas juga lebih tepat, karena menggunakan partikel -kan. Salah satu syarat dalam kalimat perintah adalah menggunakan partikel -kah.

Secara otomatis, pengucapan kalimat perintah kita sudah jelas. Karena fungsi partikel -kan itu adalah menegaskan atau memperjelas.

Jika kita ingin efektif menggunakan kalimat perintah, sebaiknya kita gunakan partikel -kan. Tapi apakah alat untuk memperjelas kalimat perintah itu hanya menggunakan partikel -kan?

Tentunya, tidak. Syarat kalimat perintah yang lainnya adalah menggunakan intonasi yang tinggi jika perintah itu dilisankan. Menggunakan tanda baca seru jika perintah itu ditulis.

Tapi, dalam hal ini kita kan sedang membahas masalah memahami kalimat perintah pada anak usia 3-4 tahun. Tentunya, perintah ini cenderung disampaikan secara lisan. Karena anak usia 3-4 tahun belum dapat membaca tulisan.

Kalau kita memaksakan menyampaikan kalimat perintah dengan tulisan, tentunya perintah itu tidak dapat dibaca. Akibatnya, perintah secara tertulis tidak dapat dipahami. Akhirnya, tujuan memberi perintah, tidak tercapai.

Jadi, kalimat perintah yang pada anak usia 3-4 tahun ini lebih tepat disampaikan secara lisan. Dengan catatan, kalimat perintahnya disampaikan secara jelas, gambling, intonasinya tepat, dan menggunakan partikel -kan.

Indikasinya seorang anak memahami perintah adalah anak dapat melakukan perbuatan yang sesuai dengan perintah. Perbuatan melakukan perintah sesuai dengan yang diperintahkan.

Jika anak dapat melakukan perbuatan sesuai dengan perintah, maka terjadi komunikasi yang efektif. Komunikasi itu antara anak selaku yang diperintah, dengan ibu atau siapa selaku pemberi perintah.

Ada beberapa contoh dua kalimat perintah yang diberikan secara bersamaan untuk anak usia 3-4 tahun. Misalnya: Ambilkan sampah di lantai itu, lalu masukkan dalam tempat sampah! Rapikan puzzlemu, lalu letakkan di tempat mainan!

Contoh dua kalimat perintah di atas menggunakan partikel -kan. Diharapkan anak dapat memahaminya, lalu mengerjakan perintah tersebut.

Sebenarnya, kalimat perintah itu dapat diperhalus, Lho. Sebab partikel -kan cenderung kuat sekali makna perintahnya.

Ada cara untuk memperhalus kalimat perintah, yaitu dengan menggunakan partikel -lah. Misalnya: Lepaslah sepatumu, lalu letakkanlah di rak sepatu!

Coba kita bandingkan dua kalimat perintah berikut ini. “Lepaslah bajumu, lalu letakanlah di tempat pakaian kotor!” Lepas bajumu, lalu letakkan di tempat pakaian kotor?”

Kesan halus lebih terasa pada kalimat perintah yang pertama. Perintah itu terasa adem di hati.  Ini akibat adanya penggunaak partikel -lah. 4 Tips Berbahasa Pada Anak Usia 3-4 Tahun: Pahami 2 Perintah

Tapi, pada kalimat perintah yang kedua terkesan lebih keras, kasar. Makna perintahnya lebih kuat dan tegas. Ini akibat penggunaan partikel -kan.

Selanjutnya, penggunaan partikel -kan, atau -lah dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi. Kedua partikel tersebut merupakan alat dalam kalimat perintah dan bisa digunakan semua. Itu tergantung pada kebutuhan penggunanya.

B. Kemampuan Menggunakan Bahasa

Kemampuan menggunakan bahasa pada anak usia 3-4 tahun ada dua. Pertama, mulai menyatakan keinginan dengan mengucapkan kalimat sederhana terdiri atas 6 kata. Kedua, mulai menceritakan pengalaman dengan cerita sederhana.

1. Mengucapkan Kalimat Sederhana

Kemampuan menggunakan bahasa pada anak usia 3-4 tahun yang pertama adalah mengucapkan kalimat sederhana. Kalimat tersebut berisi pernyataan keinginan anak. Kalimat yang digunakan sederhana, terdiri atas 6 kata.

Keinginan seorang anak bisa bermacam-macam. Keinginan yang berkaitan dengan fisik dan nonfisik. Misalnya: ingin makan, minum, tidur, sekolah, baju baru,mainan, baru, membeli jajan, nonton televisi, mendengarkan lagu anak, bermain, dll.

Bunda, kita beri stimulus dengan memberi contoh mengucapkan kalimat terdiri atas enam kata. Respon yang diharapkan adalah anak mampu menirukan kalimat tersebut dengan benar.

Misalnya: “Adik main puzzle dengan Ayah Bunda.” “Dede mau bantu Bunda masak sayur.” “Ayah makan pisang raja yang matang.” “Adik main boneka Rusa sama teman.”  Anak diminta menirukan ucapan kalimat-kalimat tersebut secara bertahap.

Artikel terkait:

Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya

Inilah Cara Efektif Melatih Anak Balita Berbicara

Cara Paling Efektif Melatih Anak Berbicara yang Perlu Bunda Ketahui

9 Tips Tingkatkan Kemampuan bahasa pada Anak Usia 1-2 Tahun

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

4 Kemampuan Bahasa pada Anak Usia 2-3 Tahun: Latih Pelafalan

Selanjutnya, anak dilatih mengucapkan kalimat atau anak berbicara dengan media yang disediakan. Misalnya: kita sediakan puzzle dan halma. Anak diminta mengucapkan kalimat yang terdiri atas 6 kata dengan puzzle dan halma.

Ucapan kalimat dari anak yang muncul ada beberapa kemungkinan anak berbicara. Misalnya: “Aku mau main puzzle dan halma.” “Puzzle dan halma mainan yang asyik.” “puzzle dan halma bisa dibeli di toko.” “Harga puzzle dan halma sangat murah.”

Ucapan kalimat anak yang beragam tadi semuanya benar. Karena sudah mengucapkan sesuai dengan benda yang disediakan. Di dalam kalimat yang diucapkan sudah ada kata “puzzle dan halma.”

Untuk Latihan mengucapkan kalimat berikutnya, kita gunakan satu media saja. Misalnya: pisang. Anak diminta mengucapkan kalimat dengan media “pisang.”

Kalimat yang muncul  dari anak bisa beberapa kemungkinan juga. Misalnya “Aku suka makan pisang dan rambutan.” “Aku sama bunda beli pisang di pasar.” “Pisang itu banyak macamnya dan manis-manis.”

Latihan mengucapkan kalimat bisa dilanjutkan tanpa media. Anak diminta mengucapkan kalimat sesuai kemauan dan imajinasinya. Asal kalimat yang diucapkan berjumlah 6 kata.

Lakukan latihan seperti itu setiap hari setiap saat. Tidak hanya latihan di dalam rumah. Latihan mengucapkan kalimat sederhana bisa di taman. Bisa juga saat anak berjalan-jalan. Latihan mengucapkan kalimat bisa dilakukan dimana saja.

Selain itu, latihan mengucapkan kalimat bisa menggunakan media, atau tanpa media. Jika menggunakan media, gunakan media secara bertahap. Jumlah media dari banyak ke sedikit. Tujuannya memudahkan anak mengucapkan kalimat.

Jika latihan mengucapkan kalimat tidak menggunakan media, maka anak diminta berpikir apa yang sedang dirasakan dan yang pernah didengar, dan yang pernah dilihat.

2. Menceritakan Pengalaman

Kemampuan menggunakan bahasa pada anak usia 3-4 tahun yang kedua adalah mulai menceritakan pengalaman. Pengalaman yang diceritakan adalah pengalaman yang sederhana.

Untuk melatih anak mencerikan pengalaman, kita gali ingatan anak mengenai pengalamannya. Misalnya pengalaman: naik kuda, memberi makan sapi, naik kereta api, jalan-jalan ke pasar malam, belanja mainan di mall, membeli sepeda baru, dll.

Kemudian, kita beri contoh. Anak diminta melihat dan mendengarkanm contoh menceritakan pengalaman dari Bunda mengenai pengalaman waktu kecil bermain engklek. Bunda menceritakan pengalamannya itu dengan penghayatan yang bagus.

Ceritanya begini, Nak. Pada suatu sore hari, aku main di halaman rumah teman. “Ayo, kita main engklek!” “Ayoo kata teman-teman.” Kemudian, aku membuat petak dengan garis-garis kotak buat engklek. Lalu mencari lempeng pecahan genting buat gacunya.

Setelah suit, aku jadi pemain pertama. Begitu mulai engklek pada kotak pertama, hujan turun deraaas sekali. Aku lari masuk rumah. Pakaianku basah semua. Aku tidak jadi main engklek.

4 Tips Berbahasa Pada Anak Usia 3-4 Tahun: Pahami 2 Perintah

Selanjutnya, anak ditanya mengenai isi cerita tadi. Misalnya: Bunda tadi cerita apa? Apa Bunda jadi main engklek? Mengapa Bunda tidak jadi main engklek? Bagaimana baju Bunda? Dll.

Kini saatnya, anak diberi kesempatan untuk menceritakan pengalamannya. Anak diminta mengingat peristiwa yang pernah dialaminya. Kalau anak kesulitan mengingat pengalamannya, kita bantu mengingatnya dengan bertanya.

Pernah Naik kuda? “O, iya, pernah, pernah.” Ceritakan dong, pengalaman naik kudanya. Anak pun mulai termotivasi untuk menceritakan pengalaman dirinya pada saat naik kuda.

“Suatu hari, aku naik kuda. Kudanya tinggi. Aku naik sama ayah. Aku di depan. Ayah di belakang. Kuda berjalan dituntun pemilik kuda. Aku senaaang sekali.” Nah, akhirnya anak sudah bisa menceritakan pengalamannya.

Kalimat-kalimat yang digunakan masih sederhana, tapi anak mampu menceritakan semua idenya dengan baik. Anak sudah bisa menceritakan unsur waktu, benda, kejadiannya, kebersamaan, dan pernyataan sikapnya. Itu sudah bagus.

Pengalaman yang diceritakan anak cukup sederhana. Benar-benar telah dialami. Peristiwanya masih diingat anak secara nyata. Kalimat yang digunakan cukup runtut. Menceritakan peristiwa dengan alur yang maju dari awal sampai akhir.

Demikanlah penjelasan mengenai kemampuan memahami dan menggunakan bahasa pada anak usia 3-4 tahun. Kemampuan memahami Bahasa terdiri atas pura-pura membaca cerita bergambar, dan memahami dua perintah yang diberikan secara bersamaan.

Kemampuan menggunakan bahasa berupa Latihan mengucapkan kalimat sederhana terdiri atas 6 kata, dan mulai menceritakan pengalaman dengan cerita sederhana.

Semoga dapat menambah wawasan. Terima kasih atas kunjungannya dan sampai jumpa dengan artikel yang lain di kurdefrin.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *