Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya

Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya

kurdefrin.com – Kemampuan mengungkapkan bahasa atau kemampuan berbicara pada anak menjadi dambaan orang tua. Orang tua tentu akan bangga melihat tumbuh kembang kemampuan bahasa pada anaknya.

Anak sering bertanya mengenai apa saja dalam kehidupan sehari-hari itu berarti ia mampu bahkan berbicara. Anak dapat mengungkapkan keinginannya dengan menggunakan kata-kata berarti ia mampu berbicara.

Moms, kemampuan mengungkapkan bahasa pada anak usia 2-3 tahun adalah menggunakan kata tanya dengan tepat. Selain itu, anak dapat menggunakan 3 atau 4 kata untuk memenuhi kebutuhannya. Berikut ini pembahasannya.

1.Menggunakan Kata Tanya

Kemampuan mengungkapkan bahasa pada anak usia 2-3 tahun yang pertama adalah menggunakan kata tanya dengan tepat. Kata tanya yang digunakan terdiri atas apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa.

Moms, kalimat yang menggunakan kata tanya disebut kalimat tanya, masih ingat ya ciri-ciri kalimat tanya. Masih dong, kalau dalam bahasa tulis, kata tanya itu diakhiri dengan tanda tanya. Misalnya: Dedek sudah makan? Adek mau bobok? Tadi mainan apa?

Dalam bahasa lisan, kalimat tanya menggunakan intonasi naik atau tinggi. Bisa juga ditambah partikel -kah untuk memperhalus kalimat tanya. Misalnya: Sudah makankah Dedek? Maukah Dede bobok? Itulah kalimat tanya singkat untuk bertanya kepada anak.

Kata tanya ada 6 macam antara lain: apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa. Keenam kata tanya tersebut, kita ajarkan kepada anak untuk mencapai kemampuan bahasa yang menjadi tuntutan sesuai dengan usia anak.

a. Menggunakan Kata tanya “Apa”

Kata tanya “apa” digunakan untuk menanyakan benda atau keadaan. Jawaban yang diharapkan berupa benda atau keadaan yang ditanyakan. Misalnya: Ayah makan apa? Bunda bawa apa? Itu apa? Ini apa? apa Nih?Apa tuh?

Seringkah Moms mendapat pertanyaan anak seperti itu? Semua benda yang dilihatnya, mesti ditanyakan. Itu apa? Itu? Benda yang dipegangnya juga ditanyakan: Ini apa? Ini? Rasa ingin tahu seorang anak itu banyak. Sehingga ia banyak bertanya.

b. Menggunakan Kata tanya “Siapa”

“Siapa” merupakan kata tanya yang menanyakan pelaku, orang yang terkait dengan peristiwa atau kejadian. Jawaban yang dikehendaki adalah nama orang atau pelaku. Misalnya: Ini siapa? Ini suka es krim sapa? Ini roti sapa?

c. Menggunakan Kata tanya “Kapan”

“Kapan” merupakan kata tanya yang berfungsi untuk menanyakan waktu. Jawaban atas kata tanya ini dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun, ataupun lamanya kejadian.

Anak sering bertanya masalah waktu. Tapi biasa pertanyaannya berisi permintaan atau tuntutan. Misalnya: kapan jalan-jalannya, Bunda? Kapan beli baju barunya, Bun? Jam berapa buka puasa, Bunda? Kapan kita ke rumah nenek?

d. Menggunakan Kata tanya “di- ke- dari Mana”

Kata tanya: di mana, kemana, dari mana adalah sebuah kata tanya yang berfungsi untuk menanyakan tempat suatu peristiwa berlangsung, lokasi yang akan dituju, serta tempat yang sedang.

Misalnya: Mana? Mana ayah? Ayah mana? Ayahnya mana? Mana Bunda? Bunda mana? Bundanya mana? Mana susunya? Susunya mana? Mana eskrimnya? Es krimnya mana?

Kalimat tanya yang digunakan anak tidak pernah diperhalus dengan menggunakan partikel -kah. Misalnya: Manakah? Manakah ayah? Ayah manakah? Ayahnya manakah? Manakah Bunda?

Bunda manakah? Bundanya manakah? Manakah susunya? Susunya manakah? Manakah eskrimnya? Es krimnya manakah? Itulah Kalimat tanya yang menggunakan partikel -kah untuk memperhalus, tapi tidak digunakan anak.

Mengapa demikian? Moms, seorang anak belum mampu berbahasa yang menggunakan hiasan bahasa. Anak usia 2-3 tahun hanya menggunakan kata yang pokok untuk mengungkap maksud.

Kata tanya dimana, kemana, dan dari mana, hampir tidak pernah digunakan oleh anak usia 2-3 tahun untuk bertanya. Anak pada usia ini cenderung hanya menggunakan kata tanya “mana” untuk mewakili tiga bentuk kata tanya tadi.

e. Menggunakan Kata tanya “Mengapa”

Kata tanya “mengapa” digunakan untuk menanyakan alasan atau sebab sesuatu itu terjadi. Jawaban yang dikehendaki berupa penyebab atau alasan sebuah kejadian.

Kata tanya “mengapa” juga sering digunakan anak untuk bertanya. Pada umumnya, anak bertanya dengan kata tanya “mengapa” tapi tidak lengkap. Anak hanya menggunakan dua suku kata: “Ngapa” atau “Napa.”

Kata “mengapa” yang terdiri atas tiga suku kata, digunakan anak untuk bertanya hanya dengan dua suku kata. Menjadi “napa.” Misalnya:  Ngapa? Napa? Bunda ngapa? Bunda napa? Ayah ngapa?Ayah napa?

Anak sering menggunakan kata tanya “napa ngapa” secara bervariasi. Misalnya “Ngapa Bun? Merupakan variasi dari “Bunda ngapa?” “Ngapa, Ayah?” adalah variasi dari “Ayah Ngapa?”

f. Menggunakan Kata tanya “Bagaimana”

“Bagaimana” itu merupakan kata tanya yang dibunakan untuk menanyakan cara atau proses berlangsungnya peristiwa. Bisa juga untuk menanyakan keadaan atau kejelasan suatu hal. Jawaban yang dikehendaki berupa cara, proses, atau keadaan.

Pada anak usia 2-3 tahun, penggunaan kata tanya “bagaimana” sering dikatakan “gimana.” Misalnya: Gimana? Kamu gimana? Bunda Gimana? Ayah Gimana?

Pertanyaan itu digunakan seputar keluarganya. Karena memang anak masih banyak bersosialisasi di dalam rumah.

f. Menggunakan Kata tanya “Berapa”

Kata tanya “berapa” digunakan untuk menanyakan jumlah. Jawaban yang dikehendaki berupa banyaknya sesuatu yang ditanyakan. Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya.

Pada anak usia 2-3 tahun, penggunaan kata tanya “berapa” itu terkadang dengan bantuan telunjuknya: ini, itu sambil menunjuk. Misalnya: Ini brapa? Itu brapa?

Kata ini dan itu digunakan anak karena ia belum mengerti nama benda atau barang yang ditunjuknya. Kata “berapa” tidak diucapkan sepenuhnya.

Anak hanya menjadikan kata tanya “berapa” menjadi dua suku kata saja. Hal ini untuk memudahkan ia bertanya, jadi kata tanya “berapa” diucapkan “brapa.” Karena anak usia2-3 tahun cenderung masih menggunakan kata sedrhana hanya terdiri atas dua suku kata.

2. Menggunakan 3 atau 4 Kata untuk Memenuhi Kebutuhannya

Kemampuan mengungkapkan bahasa pada anak usia 2-3 tahun yang kedua adalah menggunakan 3 atau 4 kata untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan anak usia 2-3 tahun yang diketahui pada umumnya adalah makan, minum, main, tidur.

Ternyata kebutuhan anak tidak hanya makan, minum, main, tidur. Ada tiga kebutuhan dasar seorang anak. Kebutuhan dasar itu antara lain yaitu asuh, asah, dan asih.

Asuh berkaitan dengan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan kesehatan. Asih itu merupakan kebutuhan dasar anak yang berkaitan dengan emosional. Asah merupakan kebutuhan akan stimulasi mental anak.

Kebutuhan dasar pada anak dikelompokan menjadi dua yaitu kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan primer itu kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi.

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang baik jika dipenuhi. Jika tidak dipenuhi juga tidak apa-apa, tidak akan berakibat buruk pada anak.

Untuk anak usia 2-3 tahun, kebutuhan yang harus dipenuhi adalah kebutuhan dasar atau kebutuhan primer. Kebutuhan dasar itu terdiri atas: kebutuhan asuh, asih, dan asah.

Kita bahas penggunaan kata atau kalimat pada anak usia 2-3 tahun untuk menyatakan kebutuhan. Baik kebutuhan pengasuhan atau asuh, kebutuhan kasih sayang atau asih, dan kebutuhan akan pendidikan atau asah.

a. Penggunaan Bahasa pada Anak Usia 2-3 tahun untuk menyatakan kebutuhan asuh

Penggunaan bahasa pada anak usia 2-3 tahun untuk menyatakan kebutuhan asuh dapat diketahui pada saat anak berbicara yang berkaitan dengan sandang, pangan, papan,dll.

Asuh itu merupakan kebutuhan dasar seorang anak yang berkaitan dengan asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya.

Selain itu, kebutuhan dasar yang berkaitan dengan tempat tinggal, pakaian yang layak, perawatan kesehatan seperti imunisasi dan intervensi dini akan timbulnya gejala penyakit.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar “asuh,” anak sering mengatakan hal yang berkaitan dengan sandang. Misalnya: Mau pakai baju baru, Sepatu baru Adek bagus, Sepatu adek warna merah, dll.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar “asuh,” anak sering mengatakan hal yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Misalnya: Adek mau minum susu, Mau minum air putih, Mau makan sama Bunda, Mau es krim yang merah, dll.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar “asuh,” anak sering mengatakan hal yang berkaitan dengan papan. Misalnya: Bobok di kasur sama Bunda, Mau main di rumah aja, dll.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar “asuh,” anak sering mengatakan hal yang berkaitan dengan kebersihan diri. Misalnya: Mau mandi sama Bunda, Mau mandi pakai sabun, Mau sikat gigi sendiri, Cuci tangan pakai sabun, dll.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar “asuh,” anak sering mengatakan hal yang berkaitan dengan olahraga. Misalnya: Jalan-jalan sama ayah, dll.

Semua kata yang digunakan dalam kalimat pendek, adalah kata-kata dasar yang sederhana. Terdiri atas dua suku kata karena mudah mengucapkannya. Anak juga cenderung belum menggunakan kata yang kompleks terdiri atas tiga suku kata.

Anak juga belum menggunakan kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk. Karena kata tersebut sulit diucapkan anak.

Baca juga:

Cara Paling Efektif Melatih Anak Berbicara yang Perlu Bunda Ketahui

9 Tips Tingkatkan Kemampuan bahasa pada Anak Usia 1-2 Tahun

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

4 Kemampuan Bahasa pada Anak Usia 2-3 Tahun: Latih Pelafalan

b. Penggunaan Bahasa Anak Usia 2-3 tahun untuk menyatakan kebutuhan asih

Penggunaan bahasa pada anak usia 2-3 tahun untuk menyatakan kebutuhan asih dapat diketahui pada saat anak berbicara meminta kasih sayang, rasa nyaman, rasa aman, dll.

Karena kebutuhan “asih” itu berkaitan erat dengan kasih sayang orang tua yang berakibat adanya rasa aman, dan nyaman pada anak. Misalnya: Dedek minta di gendong. Kalimat ini menunjukkan bahwa anak memerlukan kedekatan dan rasa kasih sayang dari orang terdekatnya.

“Dedek peluk dong, Bun.”  “Dedek bobo sama Ayah Bunda.” Kedua kalimat anak ini menunjukkan bahwa anak mampu mengungkapkan kebutuhan akan rasa nyaman dan aman.

c. Penggunaan Bahasa Anak Usia 2-3 tahun untuk menyatakan kebutuhan asah

Memenuhi kebutuhan dasar yang berkaitan dengan “asah,” kita harus mengasah perkembangan kognitif, sensorik, motorik, emosi, dan sosial pada anak.

Penggunaan bahasa untuk mengasah perkembangan kognitif pada anak usia 2-3 tahun, kita bisa menggunakan dalam berbagai hal. Anak mampu berbicara untuk mengungkapkan kemampuan mengenal, membandingkan, memecahkan masalah, dll.

Hal yang harus diasah pada anak berkaitan dengan perkembangan kognitif adalah kemampuan mengenal. Anak dapat dikatakan mengenal sesuatu, jika ia dapat mengatakan sesuatu itu.

Misalnya: Ini Bunda aku, Itu ayah aku. Kalimat yang diucapkan anak tersebut menandakan bahwa anak sudah mengenal ayah dan bundanya.

Kemampuan membandingkan dapat juga diasah melalui penggunaan bahasa pada anak. Misalnya: Ini bagus, itu jelek; Itu manis, ini pahit, dll. Nyamuk baik, Cicak jahat.

Isi pembicaraan anak pada kalimat-kalimat tersebut, menunjukkan bahwa ia mampu membandingkan.  Anak tahu mana yang baik dan yang jelek.

Anak juga mengerti mana yang manis dan yang pahit, mana yang baik dan yang jahat. Seperti cicak suka makan nyamuk.

Mengasah kemampuan memecahkan masalah, dapat diungkap melalui kalimat anak. Misalnya: Dede Panda anak baik; Mimi obat, tidak pahit; Dede Panda sama Dede Rusa baikan, ya, dll.

Maksud kalimat-kalimat dalam contoh di atas adalah menyuruh panda diam atau tidak rewel karena anak baik. Hal ini bertujuan untuk memecahkan masalah bahwa Panda anak rewel.

Begitu juga pada kalimat “Mimi obat, tidak pahit.” Ini merupakan kalimat pemecahan masalah agar anak mau minum obat.

Baca juga:

Inilah Cara Efektif Melatih Anak Balita Berbicara

Perkembangan Kecerdasan Bahasa pada Anak

Macam-Macam Kecerdasan pada Anak

Dalam kalimat “Dede Panda sama Dede Rusa baikan” erdapat unsur penyelesaian masalah. Panda dengan rusa bertengkar, solusinya mereka sudah baikan atau sudah rukun, tidak bertengkar lagi.

Penggunaan bahasa untuk mengasah perkembangan sensorik pada anak, kita bisa membantunya melalui perkembangan panca indera. Anak mampu berbicara yang berkaitan dengan cara kerja panca indera.

Panca indera itu terdiri atas: pencecapan, perabaan, penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Berikut ini penjelasan dan contohnya.

Kemampuan sensoriknya terasah jika anak mampu mengungkapkannya. Misalnya: Ketika anak menolak diberi makan, ia bilang: “Gak mau, masih panas.”

Kata “panas” menunjukan bahwa anak sudah memiliki kemampuan sensorik pengecapan. Alat sensor yang digunakan untuk pengecapan adalah alat pencecap yaitu lidah.

Ketika anak sulit diajak mandi pagi, ia bilang: “Gak mau, masih dingin!” Kata “dingin” menunjukkan bahwa anak sudah memiliki kemampuan sensorik perabaan.  Alat sensor yang digunakan untuk perabaan adalah kulit.

Kalimat anak “Bagus ya Bunda” “Dedek mau balon merah” menunjukkan bahwa kemampuan sensorik motorik penglihatan pada anak sudah berkembang.

Kemampuan sensorik motorik pendengaran dapat diketahui ketika anak mengatakan keinginan mendengarkan musik atau lagu. Misalnya: Dedek mau lagu cicak di dinding.

Selain itu, kemampuan sensorik motorik pendengaran dapat diketahui ketika anak merespon sesuatu. Misalnya: sambil menghampiri Bundanya yang mau mengajak jalan-jalan “Mau mau Bunda.” “Ya mau Bunda.” “Hore, jalan-jalan.”

Penggunaan bahasa untuk mengasah kemampuan motorik pada anak usia 2-3 tahun dapat dicontohkan sebagai berikut. “Dedek main kertas lipat.” “Mau jalan sama Bunda.” “Mau naik sepeda.” “Dorong kursi ini ya Bunda.”

Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya

Kalimat yang digunakan anak tersebut menunjukkan bahwa anak sudah mampu mengatakan hal yang berkaitan dengan kemampuan motorik baik kasar maupun halus.

Penggunaan bahasa untuk mengasah kemampuan emosional dan sosial. “Dedek mau main sama temen.” “Dedek senang main sama temen-temen.” Kita main bareng, ya?”

Kalimat di atas merupakan contoh kalimat anak pada saat bersosialisasi. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa anak sudah memiliki kemampuan emosional dan sosial. Anak bisa bermain dengan temannya.

Demikianlah penjelasan mengenai kemampuan mengungkapkan bahasa pada anak usia 2-3 tahun, yakni menggunakan kata tanya dan menggunakan 3 atau 4 kata untuk memenuhi kebutuhannya. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *