Bermain Peran: Cara Jitu Melatih Anak Balita Berbicara

Bermain Peran: Cara Jitu Melatih Anak Balita  Berbicara

Bermain Peran: Cara Jitu Melatih Anak Balita  Berbicara
Bermain Peran: Cara Jitu Melatih Anak Balita Berbicara

Kurdefrin.com- Bermain Peran merupakan terjemahan dari Role Playing. Bermain peran adalah mengambil bagian dalam melakukan suatu kegiatan yang menyenangkan baik dengan menggunakan alat atau tanpa alat.

Bermain peran adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu. Bermain peran dapat menciptakan situasi bermain yang berdasarkan pada pengalaman dan menekankan dimensi tempat dan waktu (Wahab). Bermain peran adalah permainan yang memerankan tokoh, benda, tumbuhan, binatang yang ada di sekitar anak yang dapat mengembangkan daya imajinasi, kreativitas, dan empati anak.

Bermain Peran merupakan kegiatan yang mengeksplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikan sehingga orang dapat mengeksplor perasaan, sikap, nilai,dan berbagai strategi pemecahan masalah. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan anak, di samping menjadi pengalaman yang menyenangkan juga memberi pengetahuan yang melekat dalam memori otak.

Bermain peran merupakan kegiatan yang sangat menarik bagi anak. Menemani anak dengan bermain peran memungkinkan bermain peran menjadi dinamis dan antusias. Bermain peran dapat membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri anak serta menumbuhkan rasa kebersamaan.

Bermain peran penting bagi anak karena permainannya menarik,menantang, menyenangkan. Bermain peran dapat membangkitkan motivasi bagi anak untuk bermain yang lebih semangat. Bermain peran itu dapat mengembangkan imajinasi dan penghayatan seorang anak terhadap bahan yang diperankan. Selain itu, bermain peran dapat mengembangkan kreativitas dan empati anak.

Piaget menjelaskan bahwa awal bermain peran dapat menjadi bukti perilaku anak yang telah berumur satu tahun. Bermain peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dimana cerita itu sebenarnya tidak dapat diterapkan, Misalnya: anak mengaduk pasir dalam mangkuk dengan sekop dan pura-pura mencicipinya. Dan juga anak mengulang ingatan yang menyenangkan seperti anak melihat sebuah botol bayi dan mencoba memberikannya pada sebuah boneka.

A. Aspek Bermain Peran

Bermain peran itu memiliki tiga aspek, yaitu mengambil peran, membuat peran, dan tawar menawar peran (Zaini 2008).

  1. Mengambil peran yaitu tekanan ekspektasi sosial terhadap pemeran peran. Contohnya adalah pada hubungan keluarga (apa yang harus dikerjakan anak perempuan), atau berdasarkan tugas (bagaimana seorang agen polisi bertindak dalam situasi sosial).
  2. Membuat peran yaitu kemampuan pemegang peran untuk berubah secara dramatis dari satu peran ke peran yang lain dan menciptakan serta memodifikasi peran sewaktu-waktu diperlukan.
  3. Tawar-menawar peran yaitu tingkat dimana peran dinegosiasikan dengan pemegang peran lainnya dalam parameter dan hambatan interaksi sosial.

B. Tujuan Bermain Peran

Tujuan bermain peran antara lain: agar anak dapat mendramatisasikan tingkah laku, ucapan, gerak gerik seseorang yang diperankan. Selain itu, agar anak dapat menghayati peranan apa yang dimainkan, mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain yang dikehendaki orang tua.

Tujuan lain dari bermain peran adalah memberikan pengalaman konkret, menumbuhkan kepekaan, minat dan motivasi, serta dapat mengekpresikan perasaan seorang anak. Tujuan lainnya adalah agar anak dapat memahami perasaan orang lain, mengerti dan menghargai perbedaan pendapat.

C. Manfaat Bermain Peran

1. Memahami Diri Sendiri

Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain. Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri anak itu sendiri. Selain itu, kemampuan menentukan pilihan membuat anak merasa mampu mengendalikan diri. Ketahuilah Moms, Ketika menentukan pilihan, anak berarti sudah memahami dirinya sendiri. Anak sudah mengetahui jati dirinya.

2. Membangun Sikap Percaya Diri

Percaya diri adalah yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan diri sendiri. Bermain peran mendorong berkembangnya sikap percaya pada diri sendiri bahwa dirinya mampu memainkan peran yang diberikan kepadanya.

Selain itu, anak akan percaya diri pada saat bersama dengan teman lainnya membawakan peran. Anak juga merasa yakin dapat berkompromi dan bernegosiasi dengan orang lain.

3. Melatih Mental Anak

Mental adalah hal yang menyangkut batin dan watak manusia. Mental itu bukan bersifat badan atau tenaga. Bermain peran dapat melatih anak yang berkaitan dengan batin dan watak manusia. Misalnya: anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru.

4. Meningkatkan Daya Kreativitas dan Membebaskan Anak dari Stres

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. Kreativitas anak akan berkembang melalui kegiatan bermain peran. Ide-ide yang orisinal akan keluar dari pikiran anak, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua.  Misalnya: anak diminta bertepuk tangan. Anak melakukan tepuk tangan dengan kepala mengangguk-angguk. Itulah contoh kreativitas seorang anak.

Dimana letak kreativitasnya? Kreativitasnya terletak pada gerakan menganggukkan kepala. Padahal anak diminta bertepuk tangan. Anak melakukan gerakan melebihi permintaan. Contoh lain: Anak diminta mengucapkan kata “Dokter.”  Anak malah mengucapkan “Bunda Dokter?” Ucapan anak melebihi dari yang seharusnya. Itulah kreativitas anak.

Jadi, kreativitas itu terjadi apabila ucapan atau tindakan seorang anak melebihi stdar yang diingikan. Bermain peran juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.

Baca Juga

Inilah 15 Cara Efektif Mengenalkan Alam pada Anak Balita

Inilah 14 Bahaya Gadget, Lindungi Anak, Kurangi atau Stop

Sepuluh Cara Mudah dan Efektif Mengatasi Anak Mengompol

Perkembangan Kecerdasan Bahasa Anak

5. Mengembangkan Pola Sosialisasi dan Emosi Anak

Dalam bermain peran cenderung dilakukan bermain peran kelompok. Nah, di sinilah anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok.

Ketika anak memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, akan membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

6. Melatih Motorik dan Mengasah Daya Analisis Anak

Melalui bermain peran anak dapat belajar banyak hal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat memengaruhi perkembangan psikologisnya.

Bermain peran akan memberi kesempatan pada anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisis dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap bermain peran.

7. Penyaluran bagi Kebutuhan dan Keinginan Anak

Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain peran.

Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain peran.

8. Mengembangkan Otak Kanan Anak

Bermain peran memiliki aspek-aspek yang menyenangkan. Selain itu, bermain peran akan membuka kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya, dan mengembangkan perasaan realistis akan dirinya.

Dengan begitu, bermain peran memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah saat anak di rumah.

D. Langkah-Langkah Bermain Peran

Menurut Uno (2007), ada tujuh langkah pelaksanaan model pembelajaran bermain peran, diantaranya yaitu:

1. Menghangatkan Suasana dan Memotivasi Anak

Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk mengadakan perubahan demi mencapai tujuan tertentu. Tahap ini dimaksudkan untuk memotivasi anak agar tertarik pada masalah. Tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan.

2. Memilih Peran

Memilih peran dalam tahap ini berupa anak dan orang tua mendeskripsikan berbagai watak atau karakter. Selain itu, anak dan orang tua akan mendeskripsikan apa yang mereka suka, dan bagaimana mereka merasakan.

Anak dan orang tua juga akan mendeskripsikan apa yang harus mereka kerjakan. Selanjutnya, anak diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran yang dipilihnya.

3. Menyusun Tahap Peran

Pada tahap ini, para pemeran menyusun garis besar: perkataan, dan adegan yang akan dimainkan.

4. Menyiapkan Pengamat

Sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua anak turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.

5. Pemeran

Pada tahap ini anak mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing, pemeran bisa berhenti jika anak telah merasa cukup.

6. Diskusi dan Evaluasi

Setelah melakukan peran, analisislah kegiatan bermain peran tersebut. Para pemain diminta untuk mengemukakan perasaan mereka tentang peran yang dimainkan, begitu pula dengan peserta yang lain. Diskusi dimulai dengan melontarkan sebuah pertanyaan, anak akan segera terpancing untuk diskusi.

Baca juga:

Inilah Cara Efektif Melatih Anak Balita Berbicara

Cara Mengembangkan Jiwa Sosial pada Anak

Macam-Macam Kecerdasan pada Anak

7. Membagi Pengalaman dan Mengambil Kesimpulan

Pada tahap ini anak saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, teman dan sebagainya. Semua pengalaman anak bisa diungkap atau muncul secara spontan.

E. Praktek Bermain Peran

1. Tentukan Tema

Tema untuk bermain peran sebaiknya menarik, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan anak.  Tema bisa juga berupa profesi tertentu. Misalnya: polisi, dokter, pedagang, pejabat, bupati, astronot, petani, suster, gur, dosen, seniman, dll.

2. Deskripsikan Skenario Kejadian atau Situasi yang Dipentaskan

Cerita yang akan diperankan misalnya ada seorang nenek menggendong cucunya mau menyeberang jalan. Sudah lama berdiri menunggu kesempatan menyeberang, tapi belum bisa menyeberang juga.

Begitu mau menyeberang jalan, tiba-tiba “ciiiiiiit,” suara sepeda motor mengerem menghindari nenek. Kejadian ini diketahui seorang polisi yang kebetulan melintas. Polisi itu berhenti, menyandarkan motornya, lalu menolong di nenek sampai ke seberang jalan.

Tokoh pemeran sebagai berikut: Bunda berperan sebagai nenek, boneka sebagai cucu yang digendong nenek, anak berperan sebagai Polisi yang menolong, kakak sebagai pengedara yang mengerem sepeda motornya secara mendadak.

Baca Juga

Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Dini

Menstimulasi Keterampilan Motorik pada Balita

Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan pada Anak

Kostum dirancang sebagai berikut: Nenek berjarit, menggendong boneka. Anak berkostum polisi lalulintas. Kakak sebagai pengendara berjaket hitam. Warna suara Bunda harus bersuara sebagai mana seorang nenek. Suara Polisi tegas berwibawa. Pengendara bersuara seorang anak muda yang nakal.

Setting tempat: ruang yang tersedia di rumah diubah seolah-olah seperti di jalan raya. Dibantu setting suara dari radio berupa suara kendaraan di jalan raya. Dialog diatur sebagai berikut.

Nenek:             “Cu, kita menyeberang, di sini, yaa” (sambil membelai wajah cucunya).

 “Ramai sekali,” (mulai resah, melangkah menyeberang)

Pengendara:  “ciiiiiiiiiiiiiit,” (turun dari sepeda motor), “Maaf Nek, maaf”

Polisi:           “Hati-hati!” (bicara kepada pengendara). “Ayo, Nek, aku bantu!” (memapah

 Nenek menyeberang)

Bermain Peran: Cara Jitu Melatih Anak Balita  Berbicara

3. Contoh Lain Skenario Bermain Peran

Contoh skenario bermain peran profesi seorang dokter.  Anak berperan sebagai dokter, ayah apoteker, dan ibu berperan sebagai pasien. Anak lainnya sebagai suster. Anak diberi penjelasan bagaimana profesi seorang dokter. Anak diberi stateskop dan mengukur tensi.

Ibu (pasien): “Selamat siang dokter. Pak saya mau berobat. Kepala saya pusing. Tadi jatuh di kamar mandi.”

Anak (Dokter):      “Waduh, pusing, berdarah ya?” “Ibu berbaring dulu, Ya.” “Suster

 coba ditensi dulu!”

Anak (suster):       “Baik Dok.” “Maaf Bu, tangan kanannya.” “ Tensinya180/100, Dok”

Anak (Dokter):      “Tensi ibu, tinggi. Ibu minum obat ya. Banyak istirahat” “Ini untuk

 ambil obat di apotik ya Bu”.

Ibu (Pasien):          “Terima kasih, dokter.” Lalu pergi ke apotek.

Ibu (Pasien):          “Pak, saya, minta obat”

Bapak (apoteker): “Mana resepnya, Bu?”  “Baiklah”

Bapak (apoteker): “Bu, ini obatnya, diminum 3xsehari. Habiskan ya Bu!”

Ibu (Pasien):          “Baik, Pak. Terima Kasih.”

Bunda, ada beberapa keunggulan mengajak anak bermain peran. Keunggulan bermain peran itu diantaranya adalah mendapat kesan yang kuat dan tahan lama dalam ingatan anak. Bermain peran membuat anak mempunyai pengalaman yang menyenangkan, disamping memberi pengetahuan yang melekat pada memori otak anak.

Keunggulan lain dari bermain peran adalah sangat menarik bagi anak sehingga memungkinkan situasi rumah menjadi dinamis dan antusias. Selain itu, bermain peran dapat membangkitkan gairah dan semangat optimis dalam diri anak serta dapat menubuhkan rasa kebersamaan dalam keluarga.

Demikianlah penjelasan mengenai bermain peran yang dapat difungsikan untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada anak balita. Semoga bermanfaat.

Sumber: dari Berbagai Sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *