Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

kurdefrin.com- Pada kesempatan ini akan dibahas masalah toleransi meliputi, pengertian, ciri-ciri anak toleran, cara melatih anak bersikap toleran, dan contohnya. Memiliki sikap toleransi bagi seserorang itu penting. Toleransi yang baik dapat menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu
Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

Selain itu, sikap toleransi dapat menghidari pertentangan di antara kelompok, suku, dan antar umat agama. Toleransi dapat meningkatkan suatu kekeluargaan di dalam masyarakat hingga tercipta suatu keselarasan dan keharmonisan. Kerukunan dan kedamaian hidup dalam bermasyarakat akan terwujud apabila sikap toleran dimiliki setiap orang.

Dalam kehidupan antar umat beragama, bermasyarakat, bernegara, berbangsa sangat memerlukan sikap toleran. Toleransi antar umat beragama memerlukan sikap saling memahami, mengerti, menghormati, dan mengahargai antar agama, seperti di Indonesia yang terdiri atas bermacam-macam agama.

Toleransi dalam kehidupan bermasyarakat harus dijaga agar tidak terjadi disintegrasi, permusuhan, atau perkelahian antar kelompok masyarakat. Dalam kehidupan bernegara, toleransi diperlukan agar saling menghormati antar kelompok sehingga tercipta keharmonisan, ketertiban, dan kedisiplinan dalam suatu negara.

1. Pengertian

Berdasarkan beberapa sumber yag dibaca, toleransi itu adalah sikap toleran, menerima, bersabar atau menahan diri. Toleransi itu merupakan suatu sikap saling menghargai atau menghormati antar kelompok atau individu dalam kehidupan bermasyarakat. Toleransi itu merupakan tindakan pembiaran terhadap sesuatu.

Toleran itu sama artinya dengan kata tasamuh. Tasamuh adalah mengizinkan atau saling memudahkan. Toleran adalah tindakan mengizinkan seseorang melakukan sesuatu. Pendapat lain mengatakan arti toleransi adalah kemampuan atau kemauan seseorang untuk bersikap sabar dan menahan diri terhadap sesuatu, khususnya terhadap keberadaan opini atau perilaku orang lain yang mungkin tidak disetujui.

2. Ciri-Ciri Anak yang Toleran

Bunda, ada beberapa ciri sikap toleran. Ciri ini perlu dipahami dengan baik agar kita dapat melatih anak bersikap toleran secara efektif dan efisien.

a. Memahami Apa yang Sedang Dilakukan Orang Lain

Ciri anak toleran yang pertama adalah memahami apa yang sedang dilakukan orang lain. Memahami itu berarti mengerti dan menerima apa yang sedang dilakukan orang lain. Misalnya pada saat ada orang lain sedang menjalankan ibadah. Maka, sikap kita adalah harus mengerti dan menerima orang lain menjalankan ibadahnya.

Kita harus membiarkan atau mengizinkan orang lain menjalankan ibadah. Misalnya ada orang lain beribadahnya di musola, ada yang di rumah, dan ada pula yang beribadahnya di masjid. Ada orang yang beribadahnya di gereja, ada pula yang beribadahnya di tempat lain. Kita harus mengerti bahwa cara beribadah orang itu berbeda-beda. Masing-masing mempunyai cara yang khusus.

Kita tidak boleh melarang orang beribadah dengan tempat dan cara yang berbeda. Apalagi menentang pada orang lain yang sedang menjalankan ibadahnya.  Itu tidak dianjurkan. Nah, sikap kita yang seperti itu berarti termasuk memahami apa yang sedang dilakukan oleh orang lain. Anak seperti itu berarti kita termasuk anak yang toleran.

b. Memahami Perbedaan

Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu
Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

Ciri anak toleran adalah memahami perbedaan. Perbedaan itu merupakan sesuatu hal yang berbeda. Berbeda itu artinya tidak sama. Ketidaksamaan itu dapat berupa berbagai aspek. Bisa berupa tidak sama warna, tidak sama bentuk, tidak sama jumlah, tidak sama ukuran, tidak gagasan atau pendapat, dll.

Perbedaan itu merupakan suatu fakta atau kebenaran. Perbedaan itu bukanlah sesuatu yang salah atau tidak benar. Perbedaan itu merupakan keanekaragaman dari sesuatu. Karena itulah, perbedaan itu harus dihargai dan dimengerti.

Contoh sederhana: ketika anak-anak kita bermain balon bersama. Balon mereka memiliki warna yang berbeda-beda. Ada anak membawa balon berwarna merah, ada pula yang membawa balon berwarna hijau. Ada anak yang membawa balon dua, ada yang satu, ada pula tiga.

Ada yang balonnya ditali dengan benang panjang, ada pula balon yang talinya pendek, bahkan ada yang membawa balon tanpa ditali. Ada anak yang membawa balon besar, ada pula yang balonnya kecil.

Nah, melihat kenyataan tersebut, kita hendaknya memberikan pengertian kepada anak bahwa balon yang dibawa anak-anak itu berbeda-beda. Perbedaan itu terletak pada warna, jumlah, tali, dan ukuran balon atau besar kecilnya balon.

Berikan pengertian bahwa balon yang berwarna-warni itu sangat bagus dan indah. Jumlah, tali balon, dan ukuran balon yang berbeda-beda itu menjadi menarik, unik, banyak dan beragam. Pemahaman anak terhadap perbedaan berbagai aspek merupakan ciri anak toleran.

c. Berbuat Baik kepada Teman

Ciri anak toleran berikutnya adalah berbuat baik kepada teman. Berbuat baik itu wujudnya banyak dan bermacam-macam. Baik dalam sikap, ucapan, dan tindakan. Sikap yang baik itu meliputi ramah, sopan dan santun, menghargai, dan menghormati. Senyum dan menunjukkan wajah yang ceria pada saat berpapasan atau bertemu dengan orang lain merupakan contoh sikap yang baik.

Ucapan yang baik itu menggunakan pilihan kata yang halus, dan maknanya tidak menyakiti hati orang lain. Makna kata atau kalimat yang menyenangkan orang lain merupakan contoh ucapan yang baik. Tidak hanya itu Bunda, ucapan yang baik itu bisa juga dilihat dari cara mengucapkannya. Cara mengucapkan ucapan yang baik harus menggunakan nada yang positif yakni lembut, tegas, dan jelas.

Tindakan yang baik adalah perbuatan yang tidak merugikan orang lain. Memberi makanan atau barang, meminjami mainan atau sepeda, membantu orang lain dalam mengerjakan sesuatu merupakan tindakan yang tidak merugikan orang lain. Mencubit, memukul, menendang, merebut, memaksa, itu merupakan perbuatan yang merugikan orang lain.

d. Bersahabat dengan Teman yang Memiliki Masalah

Ciri anak toleran yang lain adalah bersahabat dengan teman yang memiliki masalah. Bersahabat itu artinya berteman. Bersahabat itu terjadi dalam pergaulan. Nah, di dalam pergaulan, kita akan menemui orang yang berbeda-beda sifatnya. Selain itu, dalam pergaulan, kita akan menemui orang yang memiliki masalah yang berbeda juga.

Ciri-ciri anak yang toleran itu dapat bersahabat dengan teman yang berbeda sifatnya, berbeda masalahnya, memiliki masalah dan tidak memiliki masalah. Anak akan mau bermain atau bersahabat dengan anak lain yang memiliki masalah, misalnya suka menangis, nakal, egois, dan lain-lain. Anak kita bisa bermain dengan anak-anak yang seperti itu berarti anak kita mempunyai ciri toleran.

e. Menunjukkan Kepedulian dan Perasaan

Ciri anak toleran berikutnya adalah memiliki kepedulian dan perasaan. Kepedulian itu dari kata peduli. Peduli itu adalah mengindahkan, memperhatikan, dan menghiraukan teman lain. Kepedulian berarti hal yang berkaitan dengan perbuatan mengindahkan, memperhatikan, dan menghiraukan teman lain.

Perasaan dari kata rasa. Rasa adalah tanggapan indera manusia terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, asam terhadap indera perasa. Rasa berarti tanggapan hari melalui indera seperti senang, sedih, baik, buruk, dll. Perasaan itu hasil atau perbuatan merasa dengan panca indera.

Contoh kepedulian dan perasaan anak yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak kita melihat temannya menangis. Lalu, anak kita mendekatinya dengan ekspresi sedih. Dia mencari tahu penyebab temannya menangisnya. “Napa nangis?” Anak yang ditanya tidak menjawab, hanya menunjukkan  tanggannya ke arah balon. “Oh, mau balon?” Nih, main pake balonku!” Nah, itu dia ciri anak toleran. Ia peduli dan mau merasakan apan yang dirasakan orang lain (temannya).

f. Menghargai Pendapat Anak lain yang Berbeda

Ciri anak toleran yang terakhir adalah mau mengahrgai pendapat teman lain yang berbeda. Menghargai itu memberikan nilai penghormatan adan pengakuan terhadap pendapat orang lain. Biasanya ditandai dengan membiarkan orang lain melakukan sesuatu yang berbeda dengan diri kita. Bersikap diam lebih baik dari emas.  Mendengarkan orang lain yang sedang berbicara walaupun pendapatnya berbeda dengan kita tergolong menghargai pendapat.

Misalnya pada saat akan bermain, ada anak yang mengajak bermain layang-layang. Tapi anak lain pengin sepak bola. Ada juga yang mau bermain sudamanda. Lalu, anak akan bersikap diam, mendengarkan, membiarkan anak lain berpendapat mengenai mainan yang akan dipilihnya berarti anak tersebut memiliki ciri toleran.

3. Cara Melatih Anak Bersikap Toleran

Bunda, untuk memiliki sikap toleran bagi seseorang tidaklah mudah dan tidak cepat dimiliki begitu saja. Hal ini memerlukan pemahaman dan latihan bersikap toleran yang baik sejak dini. Berikut ini dijelaskan mengenai cara melatih anak bersikap toleran. Cara tersebut di antaranya adalah pembiasaan, dan keteladanan.

a. Pembiasaan

Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu
Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

Cara melatih anak bersikap toleran yang pertama adalah dengan pembiasaan. Cara praktis dalam pembinaan karakter toleran anak usia dini adalah meningkatkan pembiasaan-pembiasaan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari di rumah.

Pembiasaan adalah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan. Hal yang dapat dibiasakan adalah berpikir, bersikap, dan bertindak.  Biasakan anak berpikir akan menjadi lebih cerdas. Biasakan anak bersikap baik akan menjadi pribadi yang ungul. Biasakan anak bertindak terkontrol akan menjadi sukses.

Pembiasaan dalam Berpikir

Sebenarnya dalam pembiasaan itu terdapat unsur pengulangan. Pembiasaan berpikir berarti pengulangan berpikir. Berpikir itu sendiri adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu.

Cara berpikir yang disarankan untuk anak adalah berpikir positif (Positif Thinking). Berpikir positif itu menyangka yang baik atau melihat sesuatu itu dari sisi baiknya. Dalam kehidupan manusia, berpikir positif itu menyehatkan baik secara fisik maupun mental. Dari berpikir positif akan terbentuk karakter positif.

Artikel terkait:

6 Cara Melatih Anak Bertanggung Jawab Mulai dari Hal Kecil

Ciri dan Cara Melatih Anak 2-3 Tahun Beraktivitas Mandiri

Berpikir positif adalah kemampuan seseorang untuk memfokuskan perhatian kepada sisi positif untuk membentuk dan mengungkapkan pikiran (Ibrahim Elfiky). Berpikir positif itu memiliki nilai-nilai dasar yaitu optimis, pantang menyerah, bersedia membantu, menghargai ciptaan Tuhan, dan bersahabat.

Berpikir optimis itu berani menghadapi realitas diri sendiri, dunia dan sekeliling, memahami dan menghayati segala sesuatu itu apa adanya. Biasakan anak agar selalu berpikir optimis. Berpikir melakukan sesuatu itu pasti bisa. Misalnya anak diminta mengambil sepatu di rak, Bunda bilang “Pasti kamu bisa.”

Pantang menyerah itu bersikap gigih rajin dalam melakukan sesuatu dengan imajinasi dan kreativitas yang tinggi. Biasakan anak berpikir gigih dan rajin. Misalnya anak sering lupa membaca doa sebelum makan, Bunda terus mengingatkan agar selalu berlatih berulang-ulang dengan gigih dan rajin.

Saling membantu karena sejatinya manusia itu mahluk sosial yang saling menolong dan ditolong untuk memenuhi kehidupannya. Bunda, kita ajak anak untuk membiasakan menolong teman atau orang lain. Contoh sederhana di rumah, anak diajak menolong ibu yang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Menghargai ciptaan Tuhan berarti menghargai orang lain dan diri sendiri. Selain itu, bersyukur atas segala sesuatu yang diperoleh dari-Nya. Membiasakan anak agar menghargai ciptaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari cukup sederhana. Anak diminta untuk selalu bersyukur. Contoh:  ketikamerasa sehat badannya, kenyang setelah makan, merasa segar setelah minum, bangun tidur, selesai mengerjakan sesuatu, anak diminta mengucapkan “Alhamdulilah” “Terima kasih atas nikmat-Mu”

Bersahabat itu melakukan segala sesuatu secara damai,  tidak menggunakan kekerasan, mendukung orang lain, tidak menjatuhkan. Ajari anak untuk berpikir tentang persahabatan, kerukunan, perdamaian setiap saat. Hindarkan anak berpikir tentang permusuhan, kekerasan, perkelahian, dan menjatuhkan teman.

Pembiasaan dalam Bersikap

Bersikap adalah mengambil sikap atau pendirian. Sikap itu di sini maksudnya adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada pendirian, pendapat, atau keyakinan.

Contoh pembiasan dalam bersikap

1). Biasakan penampilan fisik anak baik.

Penampilan fisik yang baik dilihat dari cara berpakaian harus rapih, bersih, wajar agar disukai orang lain. Jadi, anak harus kita biasakan berpakaian rapih, bersih, dan wajar agar disukai orang lain.

2). Biasakan berbicara yang baik.

Berbicara yang baik harus dengan kata dan nada suara yang baik. Berkata itu ibarat pedang, bisa menyakiti orang lain, jadi harus bicara dengan baik.

3). Biasakan ramah kepada siapapun.

Biasakan anak untuk tersenyum setiap kali bertemu dengan orang lain karena senyum merupakan simbol keramahan.

4). Biasakan Menampilkan Wajah Ceria.

Ajari anak menampilkan ekspresi wajah yang tidak Bete, bersemangat, dan tidak suntuk.

5). Biasakan rendah hati.

Ajari anak agar tidak selalu membanggakan diri dan keluarga. Ajari pula agar anak mau mengakui kelebihan orang lain.

Pembiasaan dalam Bertindak

Bertindak sama artinya dengan berbuat. Bertindak itu dapat juga diartikan melakukan tindakan atau aksi.  Macam-macam tindakan seorang anak adalah bergerak, berjalan, berlari, bermain, berjalan, bersepeda, makan, minum, berbaju, bersekolah, membantu ibu, dll. Itulah macam-macam tindakan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Tindakan-tindakan tersebut harus dibiasakan dilakukan dengan baik, benar, sopan, jujur, adil, dan sesuai dengan aturan yang ada. Apabila tindakan anak sudah benar dan sesuai dengan aturan yang ada, lakukanlah secara terus menerus dan berulang-ulang agar menjadi kebiasaan.

Bunda, inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Pengulangan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang terus-menerus secara konsisten akan menjadi kebiasaan. Cara pembiasaan baik pembiasaan berpikir, bersikap, maupun bertindak ini sangat efektif digunakan untuk melatih anak bersikap toleran.

b. Keteladanan

Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu
Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

Bunda, orangtua selalu menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan melakukan hal yang baik, terpuji, dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama. Anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, baik saudara atau teman sebayanya baik dalam berpikir, bersikap, maupun bertindak. Jadi, anak memerlukan keteladanan yang baik.

Peniruan anak akan didapat karena anak melihat, dan mendengar. Ini berarti keteladanan yang bisa kita tampilkan diutamakan pada apa yang akan dilihat anak dan apa yang akan didengar anak.  Aspek yang dapat dilihat secara nyata adalah gerakan fisik seseorang. Sedangkan aspek yang dapat didengar secara nyata adalah ucapan atau tuturan.

Menyayangi, memahami perbedaan, tidak defensif, dan mengasah rasa percaya diri merupakan hal yang dapat dicontohkan kepada anak-anak kita. Berikan contoh kepada anak untuk belajar menyayangi orang lain walaupun memiliki perbedaan. Ajak Dia untuk bermain bersama, menolong orang lain, atau apa saja perbuatan baik kepada orang lain.

Bunda, kita juga harus mampu memberi keteladanan pada anak dalam memahami perbedaan. Kita bisa mengajaknya melihat, menyaksikan, atau terlibat langsung. Misalnya anak diminta melihat langsung model baju yang dikenakannya dengan yang dikenakan teman. Kita mengajak anak melihat warna baju yang dikenakannya dengan yang dikenakan teman, dll.  Apabila diajak langsung melihat sesuatu yang berbeda, anak akan lebih cepat memahami segala sesuatu yang berbeda.

Cara Efektif Melatih Anak Bersikap Toleran, Bunda Perlu Tahu

Keteladanan yang harus ditunjukkan kepada anak berikutnya adalah tidak defensif. Defensif itu bersikap bertahan pada sudut pandang tertentu.  Tidak defensif berarti tidak bersikap bertahan pada sudut pandang tertentu. Bunda perlu memberi contoh kepada anak agar tidak defensif walaupun tidak mudah. Misalnya, Bunda berusaha mau memahami pandangan orang lain walaupun berbeda. Ketika melihat Bunda melakukan hal tersebut, anak diharapkan akan mencontohnya dalam hal yang lain.

Pemberian contoh keteladanan yang lainnya adalah memberi contoh rasa percaya diri. Misalnya, Bunda merasa percaya diri pada saat berbicara, bertanya, memberi tahu orang lain yang ditunjukkan dengan berbicara tegas, lancar, tidak terbata-bata. Selain itu, Bunda perlu menunjukkan pada anak bahwa Bunda tidak terganggu dengan adanya perbedaan.

Demikian Bunda, pembahasan mengenai cara melatih anak bersikap toleran. Pada prinsipnya toleransi itu dilatihkan melalui pembiasaan dan keteladanan. Semoga bermanfaat.

Referensi: dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *