Inilah Cara Efektif Melatih Anak Balita Berbicara

Inilah Cara Efektif Melatih Anak Balita Berbicara 

Cara Melatih Anak Balita Berbicara
Cara Melatih Anak Balita Berbicara

kurdefrin.com- Hari ini cukup mengejutkanku. Anakku yang baru berusia kurang dari satu setengah tahun, tiba-tiba menunjukkan kakinya sambil mengucapkan “sikil.” Lalu, bola mainannya menjauh, anakku bilang “jupuk.” Wow, luar biasa.

Satu sisi, aku senang menyaksikan anakku bisa berbicara satu kata.” Di sisi lain, aku sedih. Ucapannya kurang santun. “sikil” “jupuk” merupakan kata kasar dalam bahasa Jawa. Aku tidak mengorek dari mana, dari siapa pemerolehan kata “sikil” dan “jupuk” itu berasal. Penting sekarang aku harus waspada.

Aku harus mengarahkannya agar kemampuan berbicaranya bisa berkembang dengan kosakata yang santun. Aku mengerti bahwa berbicara itu banyak manfaatnya. Anak yang memiliki kemampuan berbicara bagus merupakan idaman setiap orang tua. Orang tua akan sangat bangga mengetahui anaknya mulai biasa berbicara.

Apa sebenarnya Berbicara itu? Sejak kapan anak mulai berbicara? Mengapa orang tua bangga menyaksikan anaknya berbicara? Apa tujuan melatih berbicara anak? Bagiamana cara melatih berbicara?

A. Pengertian Berbicara

Berbicara itu adalah berkata, bercakap. Bisa juga berbicara itu diartikan melahirkan pendapat atau gagasan. Berbicara anak berarti berkata atau bercakap untuk menyampaikan maksud tertentu.Kemampuan berbicara yang dimiliki anak cenderung  sederhana.

Mulai dari pengenalan suara satu huruf, satu suku kata, dua dua suku kata, satu kata, dua kata. Kemudian pengenalan satu kalimat sederhana, sampai pada kalimat kompleks, dan seterusnya.  Latihan berbicara itu dilakukan secara bertahap.

B. Waktu Anak Mulai Berbicara

Sejak kapan ya seorang anak mengenal bahasa? Ketahuilah Bunda, bahwa aspek berbahasa itu ada empat, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek berbahasa manakah yang paling awal dimiliki seorang anak. Tentu saja aspek mendengarkan, Bunda.

Sejak kapan anak bisa mendengarkan? Ketika anak masih dalam kandungan mencapai 16 minggu. Anak mulai bisa menanggapi suara-suara pada usia kehamilan 23 minggu dengan bergerak-gerak.

Karena itu, Ayah Bunda ajaklah selalu anak dalam kandungan untuk banyak mendengarkan. Semakin banyak mendengarkan semasa dalam kandungan, anak akan semakin mudah untuk dilatih berbicara ketika sudah lahir.

Ada istilah banyak mendengarkan membuat terampil berbicara. Lalu Bunda, sejak kapan anak mulai berbicara? Ketahuilah bahwa anak sudah mulai berbicara sejak lahir. Berbicaranya anak ketika lahir adalah menagis. Sampai usia enam bulan, anak selalu berbicara dengan menangis, berteriak-teriak, bergumam. Di saat itulah, seorang anak mulai berbicara.

C. Manfaat Anaknya Pandai Berbicara

Tidak satu pun orang tua di dunia ini yang tidak bangga melihat anaknya bisa berbicara. Karena banyak manfaat dari berbicara.

1. Membangun kedekatan emosional ibu dengan anak

2. Memperlancar berkomunikasi

3. Membantu perkembangan kecerdasan otak anak

4. Mempermudah pemberian informasi

5. Membangun kepercayaan diri

D. Tujuan Melatih Berbicara

Tujuan melatih berbicara anak adalah pertama, agar anak dapat berkomunikasi secara baik dalam bentuk lisan. Kedua, agar anak mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang lain dengan berbicara yang dimilikinya. Ketiga, agar anak mampu mengingat dan menghafal informasi, serta dapat menjelaskan sesuatu dengan baik kepada orang lain.

Baca juga:

Cara Mengembangkan Jiwa Sosial Anak

Macam-Macam Kecerdasan Anak

Perkembangan Kecerdasan Bahasa Anak

E. Cara Melatih Anak Berbicara

Ayah Bunda, melatih berbicara anak sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Kita hendaknya mulai melatih dari bentuk bahasa yang sederhana ke bentuk bahasa yang kompleks. Caranya melalui mendengarkan lalu mengucapkan (dengar-ucap). Mendengarnya merupakan stimulus, mengucapkannya merupakan respon.

Jadi, untuk melatih berbicara bisa kita gunakan model stimulus respon. Stimulusnya dapat berupa ucapan-ucapan, dapat pula berupa mendengarkan lagu  anak sederhana. Respon yang diharapkan adalah anak dapat menirukan ucapan, kata, kalimat dari hasil mendengarkan.

1. Latihan Mendengarkan Lebih Dahulu

Bunda, Sebaiknya, sebelum kita memberi kesempatan pada anak untuk berbicara, kita latih anak dengan banyak mendengar atau mendengarkan lebih dahulu. Ajak anak mendengarkan suara-suara. Mendengarkan ucapan huruf-huruf hidup atau vokal [a/i/u/e/o/]. Anak juga diajak mendengarkan ucapan-ucapan konsonan atau huruf mati yang paling mudah [b/p/m].

Dan seterusnya, anak diharapkan dapat mendengarkan ucapan-ucapan suara satu huruf, satu suku kata, dua dua suku kata, satu kata, dua kata. Kemudian mendengarkan satu kalimat sederhana, sampai pada kalimat kompleks, dan seterusnya.

2. Nah, Ayo Moms, Kita mulai melatih berbicara pada anak kita.

Tapi inget ya, prinsipnya latihan berbicara itu dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Bertahap itu sedikit demi sedikit. Berjenjang itu dari sederhana ke yang kompleks.

Mulai dari pengenalan suara satu huruf, satu suku kata, dua dua suku kata, satu kata, dua kata. Kemudian pengenalan satu kalimat sederhana, sampai pada kalimat kompleks, dan seterusnya.  Latihan berbicara itu dilakukan secara bertahap.

a. Melatih Berbicara dengan Melafalkan Huruf

Bunda, kemampuan berbicara awal anak sejak lahir  0-6 bulan adalah menangis, berteriak-teriak, dan bergumam, mengoceh, tersenyum, tertawa untuk merespon stimulus yang ada. Anak belum bisa mengucapkan kata-kata yang bermakna. Anak baru bisa merespon stimulus yang ada dengan tangisan, teriakan, gumaman, ocehan, senyuman, dan tawa.

Jadi, stimulus yang kita berikan adalah sesuai dengan respon yang kita inginkan dari anak. Misalnya stimulus itu bisa berupa suara, seperti ucapan, pembicaraan, percakapan, dongeng, senandung, nyanyian atau lagu,dll.

Suara bisa berasal dari kita sebagai pengasuhnya. Bisa juga berasal dari sound system yang kita putarkan. Misalnya: anak selalu kita ajak berbicara, anak diberi stimulus lagu-lagu anak, lagu-lagu religi, pembacaan ayat suci berupa ayat-ayat pendek, doa-doa singkat.

Pemberian stimulus yang lain misalnya anak diberi mainan yang bersuara. Kita bisa membuat gerakan lucu agar anak tertawa atau tersenyum. Menangis, berteriak, bergumam, mengoceh, tersenyum, dan tertawa selain berfungsi sebagai ucapan/berbicara anak, juga berfungsi untuk menguatkan paru-paru  anak. Kita tahu bayi lahir tidak menangis berarti ada masalah.

 Anak menangis merupakan kemampuan berbicara bawaan. Sudah pinter, tidak perlu dilatih.  Lucu juga ya, jika kita melatih anak menangis? Agar anak berteriak, bergumam, mengoceh, tersenyum, dan tertawa perlu diberi stimulus agar bisa merespon. Respon yang diharapkan berupa letupan suara membentuk bunyi huruf baik vokal maupun konsonan.

Nah, untuk melatih anak agar mampu melafalkan huruf hidup/vokal, kita beri stimulus dari diri kita sendiri. Huruf hidup yang paling awal kita latihkan adalah /a/. Huruf ini cenderung mudah dilafalkan.

Anak terutama masih usia 0-6 bulan lebih mudah membuka mulutnya dengan menganga. Terutama saat  dia menangis. Isi suara tangis banyak ke arah huruf /a/. Tahap berikutnya, kita latih huruf hidup yang lain /i/u/e/o/.

Bunda bisa melatihnya dengan mengucapkan huruf hidup tersebut dengan suara yang panjang dan lambat. Mulut kita, menganga cukup lama untuk huruf /a/. Misalnya: /aaaaaaa/.

Mulut kita nyengir, gigi sedikit terbuka untuk mengucapkan huruf /iiiiiiiii/. Kedua bibir kita dimajukan ke depan “manyun,” untuk mengucapkan huruf /uuuuuuu/. Kedua bibir kita terbuka ditarik setengahnya saja untuk mengucapkan huruf  /eeeeeee/. Mulut kita terbuka membundar untuk mengucapak huruf /ooooooo/.

Bunda, untuk melatih anak agar mampu melafalkan huruf mati/konsonan, kita harus memilih jenis konsonan yang mudah diucapkan oleh anak. Konsonan itu adalah konsonan bilabial yaitu: /b/p/m.

Stimulusnya adalah ucapan huruf /b/p/m dari Bunda, lalu anak diajak menirukan.Kita bisa melatihnya dengan mengucapkan konsonan tersebut lebih sering, lambat, dan panjang. /bbbbbbb/, /ppppppp/, /mmmmmmm/.

b. Melatih Berbicara dengan Suku Kata

Pada usia 7-12 bulan, anak sudah dapat menirukan ucapan orang lain, memberikan respon pada permainan “ciluk ba” Anak sudah mampu memahami perintah verbal.

Kita beri saja stimulus berupa ucapan kata “Ciluuuk Baaa.” Anak diajak menirukan kata “Ciluuuk Baaa.” Bisa juga anak diminta melanjutkan ucapan yang belum selesai. Misalnya Bunda mengucapkan “Ciluuuk,” anak merespon dengan menirukan “Ciluuuk.”Bunda mengucapkan “Ciluuuk,” anak diminta melanjutkan  ucapan Bunda dengan “baaa.” Contoh lainnya, Misalnya: mengucapkan kata “maem,” “mimi,” “bunda,” “ayah.” Bunda dapat mengucapkan kata-kata tersebut dengan memenggal tiap suku kata, anak diminta menirukan.

Bunda mengucapkan “ma..” anak akan menirukan “ma…”  Bunda mengucapkan “em..,” anak akan menirukan “..em.” Bunda mengucapkan “bun…..” diharapkan anak  menirukan “bun.….” Bunda mengucapkan “ da..” anak menirukan “da…” dan seterusnya.

Bunda dapat juga mengucapkan kata tersebut  satu suku kata, anak diminta melanjutkan. “ma….,” “mi….,” “bun….,”  “a….” diharapkan anak akan melanjutkan dengan suku kata berikutnya “…em,” “….mi,” “…da,”…yah.” Bunda, stimulus yang kita berikan sebaiknya sederhana dan menggunakan huruf bilabial karena huruf tersebut paling awal dikenalkan dan mudah diucapkan anak yang paling awal.

Untuk tahap awal, melatih berbicara satu suku kata, Bunda hendaknya melatih anak mengucapkan suku kata dengan menggunakan konsonan atau vokal yang mudah diucapkan. Misalnya suku kata “baaa, paa, maa” “bababa, pa,pa,pa, ma,ma,ma.”

Untuk melatih berbicara satu suku kata, baiknya kita gunakan huruf awal yang paling mudah diucapkan anak, yaitu huruf /a/ dan /b/, dst. Kita beri stimulus berupa satu suku kata. Respon anak dapat menirukan ucapan satu suku kata pula.

Misalnya: huruf hidup yang paling mudah diucapkan anak adalah /a/, dan huruf matinya adalah /b/. Kita jadikan stimulus satu suku kata, yaitu /ba/. Kita latih anak dengan mengulang-ulang suku kata /ba/, /bi/bu/be/bo, /pa/pi/pi/pu/pe/po/, /ma/mi/mu/me/mo/,dst.

Baca juga:

Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Menstimulasi Keterampilan Motorik Balita

Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan pada Anak

c. Melatih berbicara dengan satu atau dua kata

Pada usia 12 bulan terutama, anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata. Ucapan anak tersebut digunakan untuk mengatakan keinginan, menolak, menyebut nama benda atau binatang.

Stimulus yang kita berikan agar anak dapat mengatakan keinginan, menolak, menyebut nama benda atau binatang adalah mengucapkan satu atau dua kata untuk maksud tersebut. Anak diharapkan merespon dengan menirukannya. Misalnya:

Misalnya: mengucapkan kata “maem,” “mimi,” untuk mengatakan keinginan, “enggak,” “emoh,” untuk menolak. Kata “boneka,” “rusa.” Untuk menyebut nama benda atau binatang. Kemudian  anak diminta menirukan.

Bisa juga kita memberi stimulus agar anak latihan berhitung. Anak merespon dengan dengan menirukan hitungan. Latihan berhitung dengan menirukan perlu dilakukan secara bertahap. Bunda mulai melatih anak dengan menirukan ucapan angka atau bilangan yang rendah lebih dahulu.

“Satu,” “Dua,” “Tiga.” Tiga hitungan untuk hari pertama. Latihan hari kedua, hitungan hari pertama diulang, dilanjut penambahan hitungan yang baru. “Empat” “Lima,” “enam,” dan seterusnya.

Stimulusnya yang kita berikan berupa ucapan sejumlah satu atau kata, respon anak juga diharapkan minimal satu atau dua kata. Misalnya kata keseharian yang dilakukan anak. Misalnya “maem, mimi, susu, bobo, duduk, jalan, ambil”

Bisa juga kita gunakan kata-kata yang kesehariannya dekat dengan anak. Misalnya; “bapak, mama, paman, adik, dll.” Agar anak dapat merespon dengan menirukan kata-kata di atas, kita ajak anak mengucapkannya dengan pelan-pelan. Kita ajak anak menirukan ucapan kita seperti itu. Terus diulang agar menjadi lancar.

Moms, selain stimulus dengan satu kata, kita tingkatkan latihan berbicara anak dengan stimulus dengan dua kata. Misalnya: “mama maem” anak diharapkan merespon dengan menirukan: mama maem, mimi susu, maem pisang, ade bobo, dll.

d. Melatih Berbicara Satu Kalimat Sederhana

Pada usia 12-18 bulan, anak sudah mampu mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata. Anak sudah dapat merespon pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak.” Anak juga sudah dapat menunjukkan bagian tubuh yang ditanyakan.

Bunda, kita beri stimulus dengan mengucapkan kalimat terdiri atas dua kata/tiga kata/empat kata. Respon yang diharapkan adalah anak mampu menirukan kalimat tersebut dengan benar. Misalnya: “Adik bobo.” “Bunda masak.” “Ayah makan pisang.” “Adik main boneka Rusa.” Anak diminta menirukan ucapan kalimat-kalimat tersebut secara bertahap.

Untuk melatih agar anak merespon dengan jawaban “ya” atau “tidak,” tentu saja kita perlu terus memberikan stimulus pada anak. Misalnya kita lontarkan banyak pertanyaan  singkat yang jawabannya “ya” atau “tidak.”

Misalnya:”Adek suka es krim?” “Dede mau makan?” “Kamu mau tidur?” “Mau roti?” Anak diharapkan dapat menjawabnya dengan singkat secara lisan atau dengan bahasa tubuh angguk atau geleng kepala.

Untuk melatih agar anak dapat menunjukkan bagian tubuh, sederhana saja. Kita gunakan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Misalahnya: “Mana hidungmu?” Anak menjawab dengan menunjuk ke hidungnya. “Mana tangan Bunda?” Anak menjawab dengan menunjuk ke arah tangan Bundanya, dan seterusnya.

Kita beri stimulus berupa kalimat sederhana. Misalnya “Aku punya.” “Aku punya mainan.” “Aku punya mainan baru.” Anak diharapkan menirukan ucapan kalimat sederhana tersebut.

Agar menarik, Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pendek kita bisa bikin main peran Bun. Anak dilatih mengucapkan satu kalimat. Misalnya kalimat: “Aku punya mainan baru.” Anak diminta memegang mainan, sambil duduk santai. Diminta menunjukkan mainannya. Kemudian anak kita shooting.

Sambil nyoting, Bunda mengingatkan kalimat yang telah dilatih tadi dengan menuntun ucapan pemantik. “Aku punya….” Anak lalu menirukan  dan melanjutkan kalimat tersebut “Aku punya mainanan baru.” Lagi dek. “Aku punya mainanan baru.”

Cara Melatih Anak Balita Berbicara 

“Koq mainanan Dek.” Yang benar “mainan,” ayo tirukan, maka anakpun menirukan “mainan”. Karena kata “mainan” sudah benar diucapkannya, maka stimulusnya diberikan lagi secara lengkap.

“Aku punya mainan baru.” Anak menirukan “Aku punya mainanan baru.” Wow, kesalahan masih berulang. Shooting akhirnya dihentikan. Anak kita latih lagi mengucapkan kata “mainan” berulang-ulang.

Bunda, Dapat kita ketahui bahwa melatih berbicara bagi anak dimulai sejak bayi melalui latihan langsung mendengar-berbicara yang dipolakan dengan stimulus-Respon (S-R).

Itulah Bunda, penjelasan mengenai cara melatih berbicara pada anak. Semoga kemampuan berbicara anak kita dapat berkembang lebih pesat. Dan kelak anak menjadi pembicara atau orator yang ulung dan menjadi kebanggaan kita.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *