Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan pada Anak

Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan pada Anak

Han

kurdefrin.com Anak adalah amanah sekaligus anugrah dari Tuhan yang Maha Esa. Anak merupakan calon generasi penerus bangsa. Harkat, martabat, dan hak-haknya harus kita jaga.

Kebutuhan gizi dan kesehatannya, harus diperhatikan. Agar sehat, cerdas, ceria, anak harus dirawat, diasuh, dididik, dibimbing, diarahkan, dan dilindungi seoptimal mungkin.

Kemimpinan adalah cara memimpin atau perihal memimpin. Memimpin itu mengetuai atau mengepalai, memandu, melatih.

Kepemimpinan merupakan sebuah proses memengaruhi dan memberikan contoh kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan.

Bunda, sebelum kita melatih jiwa kepemimpinan, alangkah baiknya kita mengingat kembali sifat pemimpin, dan gaya kepemimpinan.

Sifat-sifat Pemimpin

  1. Intelejensi, yaitu sifat atau kemampuan bernalar/berpikir yang lebih kuat daripada para anggota yang dipimpinnya.
  2. Kepercayaan diri, yaitu sifat yang berupa keyakinan akan kemampuan dan keahlian yang dimiliki.
  3. Determinasi, yaitu kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang meliputi ciri seperti berinisiatif, kegigihan, dan cenderung mengarahkan anggotanya untuk melakukan perintah.
  4. Integritas adalah kejujuran dalam memimpin anggota.
  5. Sosiabilitas yaitu kemampuan menjalin hubungan yang menyenangkan, ramah, sopan baik dengan anggota yang dipimpinnya.

Gaya Kepemimpinan

1. Kepemimpinan Otokratis

Gaya kepemimpinan otoraktis adalah gaya kepemimpinan dimana memusatkan kekuasaan pada dirinya sendiri (pemimpin).

Biasaya ia sangat dominan dalam melakukan pengambilan keputusan baik berupa kebijakan, peraturan, prosedur yang berasal dari idenya sendiri. Biasanya, ia akan lebih membatasi inisiatif dan ide dari anggotanya.

Pemimpin yang otoriter ini umumnya tidak akan memperhatikan kebutuhan dari bawahannya dan cenderung menjalin komunikasi satu arah yaitu dari atas (pemimpin) ke bawah (anggota).

2. Kepemimpinan Partisipatif

Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gaya kepemimpinan dimana komunikasi terjadi dua arah yaitu dari atas (pemimpin) ke bawah (anggota) dan dari bawah (anggota) ke atas (pemimpin).

Gaya kepemimpinan ini biasanya melibatkan anggotanya dalam memecahkan suatu permasalahan dan mengambil sebuah keputusan.

Pemimpin memberikan kesempatan dan ruang untuk anggota dapat menyampaikan ide dan gagasannya, berpartisipai dalam suatu keputusan untuk kebaikan perusahaan. Perlu rasa sifat saling percaya dan menghargai dalam organisasi.

3. Kepemimpinan Delegatif

Gaya kepemimpinan delegatif ini biasa disebut dengan Laissez-faire yaitu gaya memimpin dimana atasan atau pemimpin memberikan kebebasan secara mutlak kepada para anggota untuk melakukan tujuan dengan menggunakan cara mereka masing-masing.

Meskipun dalam suatu organisasi terdapat pemimpin, seorang pemimpin akan membiarkan keputusan dibuat oleh siapapun dalam organisasi. Namun gaya kepemimpinan ini akan menjadi tidak efektif jika pemimpin dan anggota tidak cukup matang melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing.

4. Kepemimpinan Melayani (Servant)

Gaya kepemimpinan melayani ini biasanya antara atasan dan bawahan memilliki hubungan melayani dengan para anggota berorientasi pada sifat melayani dengan standar moral spiritual. Pemimpin yang melayani lebih mengedepankan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi dari para anggota daripada kepentingan pribadinya.

5. Kepemimpinan Karismatik

Pemimpin yang karismatik biasanya memiliki pengaruh yang kuat atas para pengikutnya karena karisma dan kepercayaan diri yang ditampilkan.

Jadi, gaya kepemimpinan karismatik ini melibatkan karisma seorang pemimpin dan memiliki kemampuan yang mempesona yang ia miliki terutama dalam meyakinkan setiap anggotanya untuk mengikuti setiap arahan yang ia inginkan.

Gaya Berbicara mengenai kepemimpinan tentu, setiap pemimpin mempunyai gaya dan caranya masing-masing dalam memimpin organisasi atau perusahaan. Namun yang pasti gaya kepemimpinan yang dipilih pasti bertujuan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan organisasi atau perusahaan.

6. Kepemimpinan misionaris (terbuka, penolong, lembut, ramah).

7. Kepemimpinan developer (kreatif, dinamis, inovatif)

8. Kepemimpinan Benevolent Autokrat (otokrat yang bijak), eksekutif (bermutu tinggi).

Bagaimana kita melatih jiwa kepemimpinan kepada anak sedini mungkin?

Pola asuh, Mom. Pola asuh yang kita terapkan dalam keseharian. Dilakukan terus menerus sehingga berubah menjadi kebiasaan. Kita bisa memilih pola asuh yang demokratis, dan autoritatif.

1. Pola Asuh Demokratis

Demokratis diartikan bersifat demokrasi. Demokrasi berarti gagasan atau pandangan yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama.

Demokratis dalam pola asuh diartikan cara pengasuhan dengan tegas, seimbang tanpa harus membatasi anak.

Pola asuh ini berusaha menerapkan aturan dan pedoman untuk si buah hati. Orang tua berusaha tetap responsif terhadap anak dan mau mendengarkan setiap pertanyaan si buah hati.

Harapan besar pada anak sebanding dengan kehangatan dan dukungan yang diberikan.

Anak dapat bersikap tegas, tanggung jawab, adil, berjiwa sosial, dan mandiri. Selain itu, anak akan menjadi pribadi gigih mencapai sukses di masa depan.

2. Pola Asuh Autoritatif

Inilah pola asuh yang paling disarankan ahli untuk orangtua terapkan. Pola asuh ini memberikan batasan perilaku yang jelas dan konsisten. Selain itu, pola asuh autoritatif tidak menggunakan kekerasan dalam mengasuh anak.

Di sini, orangtua akan mendorong adanya diskusi dengan anak. Contohnya, seperti menjelaskan pada anak mengapa diberikan aturan tertentu. Sederhananya, orangtua tidak membebaskan dan menerima begitu saja perilaku anak, tapi juga tidak memberikan kontrol yang berlebihan.

Menariknya, anak akan diberikan kesempatan untuk mencoba dan bertanggung jawab pada pilihannya.

Nah, berikut dampak pola asuh autoritatif pada anak:

  1. Memiliki keterampilan sosial yang baik.
  2. Terampil menyelesaikan permasalahan.
  3. Mudah bekerjasama dengan orang lain-lain.
  4. Lebih percaya diri.
  5. Tampak lebih kreatif.

Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan.

a. Memberi kepercayaan dan kesempatan

Saat makan bersama, Si Kecil diminta memimpin doa sebelum dan sesudah makan. Tapi, inget, Mom. Menyuruhnya harus pakai bahasa tidak langsung. Si Kecil disuruh tapi enggak terasa disuruh.

Kita bisa bermain drama, Mom. Bilang saja, mau berdoa sebelum makan, tapi lupa doanya.

Kita bisa bertanya, siapa ya yang inget doa sebelum makan? Sambil arah tatapan mata kita kepada Si Kecil.

Si Kecil pun akan tahu kalau dia diminta memimpin doa sebelum makan.

“Kita mau makan bersama, tapi Bunda koq lupa doa sebelum makan ya?”

“Kamu ingat, Nak? Ayo Bunda dibantu doa sebelum makan!”

b. Belajar Memimpin dari kesalahan

Ada pengalaman menarik, Mom. Saat bermain, bernyanyi bersama lagu “Baby Shark”, Si Anak bernyanyi dan berjoget. Gerak tangannya bertepuk-tepuk di sisi kiri dan kanan badan mendekat ke arah telinga kiri dan kanan. Kami pun mengikutinya.

Tapi, tangan Sang Kakek salah, tidak posisi bertepuk. Posisi tangan kakek bersilang. Kami yang lain melihat ke arah tangan Kakek, juga si Kecil.

Eeee, dengan serta merta, tidak canggung, Si Kecil memegang kedua tangan kakek, dan membetulkannya ke posisi bertepuk.

Begitu posisi tangan si kakek sudah betul, kami pun bernyanyi dan berjoget lagi dengan lagu yang sama “Baby Sharkdudud dudud dudbaby shark.” “Mamy Sharkdudud dudud dudMamy Shark. Dady Sharkdudud dudud dudDady Shark.

Si Kecil tampak riang, wajahnya semringah melihat tangan di Kakek sudah betul. Keriangannya dia rayakan dengan memutar badannya. Dia memutar badannya dari kiri ke arah kanan dengan tangan kiri di depan dada.

Penasaran, Mom.

Selaku Nenek, saya mencoba membuat kesalahan posisi tangan dalam berjoget. Tanganku dibuat bersilang seperti Kakek. Bukan bertepuk. Si Kecil mengamati satu persatu.

Dia melihat posisi tangan pamannya, ayah dan bundanya, Kakek, dan Nenek. Begitu melihat kesalahan, Si Kecil pun menghentikan berjogednya, membetulkan kesalahan yang ada.

Begitu posisi tangan si Nenek sudah betul, kami pun bernyanyi dan berjoget lagi dengan lagu yang sama “Baby Sharkdudud dudud dudBaby Shark.” “Mamy Sharkdudud dudud dudMamy Shark.

Si Kecil pun merayakan kemenangannya lagi. Dengan riang, semringah Dia kembali memutar badannya dengan tangan kiri di depan dada. Dia memutar badannya dari kiri ke arah kanan seperti tadi.

Melatih jiwa kepemimpinan pada anak cukup sederhana, Mom. Kita coba, Yuk.

Referensi : dari berbagai Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *