Cara Mengembangkan Jiwa Sosial pada Anak

Cara Mengembangkan Jiwa Sosial pada Anak

Cara Mengembangkan Jiwa Sosial pada Anak
Cara Mengembangkan Jiwa Sosial pada Anak

kurdefrin.com – Salah satu kecerdasan manusia yang berkaitan dengan jiwa sosial adalah  EQ. EQ (motional Quotient) adalah kecerdasan yang berkaitan erat dengan kemampuan mengotrol perasaan diri sendiri, mengenali perasaan orang lain, adaptasi, kerja sama,  disiplin, tanggung jawab, dan komitmen.

EQ (Emotional Quotient) merupakan parameter pengendalian rasa (emosi). Kecerdasan emosional merupakan penentu keberhasilan dalam hidup. Sedangkan kecerdasan anak yang berkaitan dengan jiwa sosial adalah kecerdasan Inter-personal.

Kecerdasan Inter-Personal adalah tipe kecerdasan yang  berkaitan dengan pergaulan. Anak lebih suka bermain dengan banyak orang. Anak memiliki empati, mampu memahami perasaan orang lain dan cenderung menonjol sehingga suka memimpin saat bermain.

Ada beberapa cara mengembangkan jiwa sosial anak

Mengembangkan jiwa sosial anak dapat dilakukan melalui perbuatan saling menolong, saling menyayangi, dan saling menghargai. Selain itu, Jiwa sosial anak dapat dikembangkan dengan berempati,  berbagi, peduli, bersedekah,  dan bersosialisasi.

1. Saling menolong

Menolong/membantu orang lain merupakan kebaikan yang perlu dikembangkan pada jiwa anak sedini mungkin. Kebaikan selalu mengandung kemaslahatan bagi diri sendiri dan orang lain. Penolong akan mendapat kebaikan. Yang ditolong atau dibantu akan dapat kemudahan.

Kita dapat mengajari anak membangun kemauan untuk menolong atau membantu orang lain. Bahkan menolong atau membantu tanpa diminta, ketika melihat temennya atau orang di sekitarnya memerlukan bantuan.

Hal ini dapat dilakukan mulai dari rumah. Misalnya: “Sayang, tolong ambilkan sendok!” “Ambilkan bedak, Dede ya.” “Tolong buangkan sampah ya!” “Bantu Mama ya, rapikan mainan!” dll.

2. Saling Menyayangi

Kasih sayang merupakan anugrah Tuhan kepada manusia. Kasih sayang itu adalah fitrah manusia. Oleh karena itu,   rasa kasih saying harus terus dikembangkan. Mengapa? Kasih sayang atau saling menyayangi sangat bermanfaat bagi kehidupan anak khususnya dan manusia pada umumnya.

Saling menyayangi sangat bermanfaat bagi kehidupan. Hidup kita akan menjadi tenang, rukun, damai, tidak ada pertengkaran di mana-mana. Rasa saling menyayangi akan menjauhkan permusuhan. Kita bisa merasa saling membutuhkan, saling mengerti, dan saling mengisi.

Kasih sayang itu merupakan pangkal dari kebahagiaan. Seorang anak yang cukup mendapat kasih sayang dalam keluarganya, akan membawa aura positif ketika bergaul di masyarakat.

Oleh karena itu, kita kembangkan rasa kasih sayang kepada anak sedini mungkin. Kita bisa melatih anak dengan berpenampilan, berperilaku, dan berbicara yang baik. Berpenampilan yang baik, misalnya cara berpakaian, bersepatu, bertopi, bermake-up, kuku tangan dan kaki, dll.

Berperilaku yang baik misalnya cara duduk, berdiri, makan, minum, memegang sesuatu, cara mandi, dll. Berbicara yang baik bisa dimulai dari nada suara, gaya bicara, pandangan mata, pilihan kata, kalimat yang benar-benar memberikan kesan kelembutan dan menunjukan budi pekerti yang luhur.

3. Saling Menghargai

Agar anak memiliki jiwa sosial yang tinggi, kita latih anak kita untuk bisa menghargai orang lain. Ada beberapa cara menghargai orang lain.

Mari kita ajari, kita bimbing, dan kita latih anak kita.

a. Bersikap Ramah kepada Siapapun

Biasakan anak kita tiga S (senyum, salam, sapa). Ajari anak kita cara tersenyum yang baik, misalnya wajah ceria, tidak bersuara seperti tertawa terbahak-bahak, bibir tetap tertutup, dan tarik ke belakang hingga pipi terangkat.

Beri contoh anak agar mengucapkan salam dan sapaan dengan benar. Misalnya, “Selamat pagi, Bunda” “Assalamu’alaikum.” Salam dan sapaan hendaknya diucapkan dengan santun. Latihlah anak agar berjabat tangan yang benar. Misalnya dengan menangkupkan kedua tangan, menunduk, lalu mencium tangan orang yang berjabat tangan.

b. Bertindak Adil

Bertindak adil berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, dan tidak membeda-bedakan. Misalnya: anak kita diminta mengajak semua temannya bermain bersama. Jangan sampai terjadi, ada teman yang diajak bermain bersama, dan ada temannya yang tidak diajak bermain bersama.

c. Hormati Pendapat Orang lain

Bunda, mari kita biasakan anak untuk mendengarkan dengan baik apabila ada orang lain yang sedang berbicara. Ini salah satu contoh sederhana agar anak bisa menghormati pendapat orang lain.

d. Tidak Menghina atau Mengejek, Menyindir

Pada saat berkomunikasi, biasakan ucapan kita tidak merendahkan orang lain. Kata-kata kita tidak menghina, tidak mengejek, tidak menyindir orang lain. Anak itu peniru ulung. Apa yang dia lihat, dia dengar, tentu akan dia tiru.

e. Perhatikan Kesukaan dan Ketidaksukaan orang

Apabila kita mengajari anak untuk memperhatikan kesukaan dan ketidaksukaan orang lain, anak kita tentu akan dapat menghargai orang lain. Anak kita akan bertindak hati-hati karena sudah mengetahui kesukaan dan ketidaksukaan orang lain.

f. Tidak Membicarakan Kejelekan Orang Lain

Ini tidak kalah penting Bunda. Kita patut memberi keteladanan pada anak. Apabila ada orang yang sedang membicarakan orang lain (gibah), kita upayakan menghidar lebih dahulu. Menjauhkan anak dari situasi seperti itu secara halus. Kita upayakan mengalihkan perhatian anak pada hal yang lain.

Suatu ketika, anak mengadukan perbuatan orang lain yang tidak ia sukai. Ini tanda-tanda gibah. Kita bisa memberikan nasihat agar anak tidak melanjutkan pengaduannya, dll.

g. Sensitiflah terhadap Perasaan Orang Lain

Sensitif berarti mudah menerima rangsangan atau peka. Kita latih anak kita Untuk bersikap sensitif atau peka terhadap perasaan orang lain. Apabila ada anak atau orang lain yang sedang sakit atau sedih, bagaimana kita bersikap?

Bunda, ajaklah anak kita untuk berbicara lebih pelan, kecil volume suaranya, tidak bergurau, tidak tertawa keras-keras, tidak bermain yang ekstrim, bermain yang menimbulkan kegaduhan, dll.

h.Tidak Memaksa

Memaksa adalah perbuatan tidak terpuji. Bagaimana caranya agar anak tidak berbuat memaksa? Misalnya, anak merebut mainan teman, meminta makanan teman. Kalau tidak dapat mainan atau makanan teman, ia menangis. Ini cukup krusial, Bunda. Kita tidak boleh membiarkannya.

Bunda bisa mengalihkan perhatiannya kepada hal lain yang lebih menarik. Misalnya: mengajak ke tempat lain, melihat suasana alam, melihat benda-benda di sekitarnya, diberi mainan, diajak bermain alat musik, dll.

Baca Juga ya Bunda:

Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan pada

4. Berempati

Berempati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Orang lain sedang sedih, kita ikut merasakan kesedihannya. Orang lain sedang sakit, kita ikut merasakan sakitnya.

Ada beberapa contoh perilaku berempati bagi seorang anak.

a. Teman sedang bersedih karena suatu hal

Kita ajak anak kita untuk mendatanginya dan menghiburnya.

b. Teman sedang sakit

Kita ajak anak menjenguk ke rumahnya dan membawakan buah tangan.

c. Teman mengalami bencana alam

Kita ajak anak mendoakannya agar segera mendapat bantuan.

d. Teman sedang punya masalah

Kita ajak anak membantu menyelesaikan masalahnya. Misalnya: mainan teman hilang, kita ajak anak membantu mencari mainannya.

e. Teman jatuh

Kita ajak anak menolong temannya yang jatuh. Misalnya: membantu menghibur agar  tidak menangis, memberi tahu orang tuanya bahwa anaknya jatuh, mengambilkan      obat luka, dsb. Bunda bisa mengembangkan empati anak dengan berlatih dan bermain peran di rumah.

Artikel terkait:

Menstimulasi Keterampilan Motorik Anak

5. Berbagi

Berbagi berarti memberikan atau meminjamkan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu itu dapat berupa makanan, minuman, permen, mainan, dll. Bunda, mari kita kembangkan jiwa sosial anak dengan berbagi. Misal, Anak kita beri contoh memberikan makanan atau barang kepada teman yang lain.

Kita beri contoh anak dengan meminjami barang atau mainan. Kita mencoba minta    makanan yang sedang dimakan anak. Kita meminjam mainan yang sedang ia gunakan.

Ada beberapa bentuk berbagi

a. Memberikan uang kepada pengemis

b. Memberikan makanan kepada tim kerja bakti

c. Memberikan ilmu kepada teman

d.Mendonasikan pakaian kepada korban bencana. Anak diminta memilih pakaiannya  yang  akan didonasikan. Anak dilatih membungkus dan menyerahkannya.

e. Mendonasikan mainan kepada anak lain yang tidak punya.

f.  Menyisihkan uang untuk disumbangkan

g. Mendonasikan buku mainan

h. Memberikan tempat duduk kepada teman

6. Bersedekah

Bersedekah adalah memberi sedekah. Bersedekah dapat diartikan sebagai wujud        pengembangan spiritual dan sosial, Secara umum, bersedekah itu bertujuan membantu sesama, membersihkan harta, dan  bekal pahala di akhirat kelak.

Contoh bersedekah secara sederhana yang dapat dilakukan anak.

Memberi pertolongan kepada teman dengan apa yang dimilikinya.

Membantu dengan tenaga, misalnya membantu membawakan mainan teman.

Melafalkan doa untuk teman

Memberi jalan kepada teman yang mau lewat

Menahan diri untuk tidak marah kepada teman

Anak diajak mengisi kotak amal di musala atau di masjid.

Anak diajak memberikan makanan, minuman kepada masyarakat yang sedang kerja bakti.

7. Bersosialisasi

Bersosialisasi berarti belajar/bergaul/berinteraksi. Tujuan bersosialisasi adalah untuk  mengenal dan berkomunikasi dengan orang lain. Orang lain itu bisa saudara, tetangga, teman, dan lingkungan kita. Orang lain itu terutama     anak yang seusianya.

Ada anak yang sudah punya insting atau bakat bersosialisasi. Mereka tidak akan ragu  memulai percakapan dengan anak atau orang lain dan mudah bergaul. Ada pula anak yang lebih cenderung pemalu saat bertemu dengan orang baru.

Bagaimana pun keadaan anak, berikan beberapa contoh interaksi positif kepada anak. Kita bisa mengajarkan kalimat-kalimat pembuka percakapan yang mudah kepada anak.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak dapat bersosialisasi.

a. Kita bisa mengajak anak untuk ke luar rumah, bermain bersama anak dan orang      lain  dengan siapa saja.

b. Kita ajak anak untuk berkenalan dengan orang-orang di luar rumah.

Ajari bercakap-cakap dengan kata-kata yang mudah ditirukan. Misalnya: “ Halo”, “        Selamat Pagi”, “ Halo, nama saya Bintang. Kamu Siapa?” atau “Assalamu’alaikum”  Saat mengucapkan kalimat-kalimat ini, gunakan intonasi yang tepat         dengan    ekspresi yang ceria.

c. Kita ajari anak untuk melihat dan menirukan apa yang kita lakukan pada saat            bertemu     dengan orang lain.

Misalnya: berjabat tangan dengan ekspresi senang, senyum, menyapa, mengajak  bermain  dengan tuturan yang mudah ditirukan anak.    Misalnya “Apa kabar?” “Halo, kita main, yuk?” “Aku punya mainan baru.” “Mana mainanmu?” “Ayo, kita main!”

d. Ajarkan pula bagaimana cara bereaksi terhadap kemungkinan jawaban yang          diberikan.

Misalnya: Temennya tidak menanggapi sapaan, tidak mau diajak main, tidak menjawab        pertanyaan. Berikan contoh reaksi yang positif. Tunjukkan bahwa kita menerima dan memaklumi reaksi temennya yang menolak ajakan      kita.  Misalnya: “Tidak apa-apa.”, “ Kita main nanti aja ya?”,  “O, kita main lain kali aja, ya?”      “Aku, tidak apa-apa, koq.” Dll.

e. Untuk bersosialisasi, kita ajak anak mengikuti acara keluarga besar,                          kemasyarakatan,   keagamaan.

Misalnya acara pernikahan, tasyakuran, hari raya saat kumpul keluarga besar. Pada acara kemasyarakatan, kita libatkan anak mengikuti lomba, jalan sehat, senam              bersama, dll. Pada acara keagamaan, kita bisa ajak anak untuk mengikuti dan menyimak ceramah akbar, tausiah di musala, di masjid, dll.

f. Dukunglah Pertemanan Anak

Menjalin persahabatan adalah sarana yang tepat untuk mengembangkan keahlian      sosialisasi anak. Jangan khawatir jika anak tidak punya banyak teman. Sepanjang ia masih     punya beberapa teman dekat di sekitarnya.

Kita masih bisa membantu menunjukkan dukungan dengan cara menanyakan kepada anak tentang temannya. Misalnya: “Tadi main sama siapa?” “Pakai Mainan siapa?” “Itu boneka siapa?” “Senang ya,       main sama temen-temen?” “Temen-temen tadi baik semua, ya?” dll.

Dorong dan pupuk pertemanan anak supaya ia semakin leluasa dan percaya diri berada di lingkungan sosial. Pada akhirnya anak akan semakin membuka diri terhadap  pertemanan lain. Misalnya dengan bertanya:”Hari ini mau main sama siapa?” “Main di rumah siapa?”, “Yuk,       Kita ajak teman main di rumah kita!, dll.

Untuk mendukung pertemanan anak, kita bisa bertanya kepada anak mengenai        temannya. Misalnya, anak kita minta menyebutkan nama-nama temannya, mainannya, rumahnya,  cara bicara temannya,  nama ibunya, nama bapaknya.

Anak juga diminta menyebutkan nama saudaranya, kakek dan neneknya, makanan      kesukaannya, warna kesukaannya, baju kesukaannya, dan hobi atau kesukaan temannya,    dll.

g. Persiapkan Anak

Cara mengembangkan anak dalam bersosialisasi juga membutuhkan persiapan anak  terutama untuk skenario atau situasi tertentu. Misalnya, jika anak akan berangkat ke pesta ulang tahun temannya atau ke arena bermain, berikan beberapa tips kepada anak.

Ajarkan cara mengucapkan selamat ulang tahun atau cara mendekati teman untuk      bermain. Dengan demikian, anak tidak akan merasa grogi karena tidak tahu bagaimana harus  bersikap dalam situasi tertentu.

8. Mengucapkan maaf, permisi, tolong, dan terima kasih

Ajari anak mengucapkan maaf apabila berbuat keliru. Permisi apabila hendak lewat di hadapan orang lain. Tolong apabila meminta bantuan kepada orang lain. Dan terima kasih kalau sudah mendapatkan sesuatu dari orang lain.

Mengucapkan kata tersebut mungkin bagi sebagian orang merupakan hal sepele. Namun, empat kata tersebut sangat bermakna bagi perkembangan anak. Empat kata tersebut menunjukkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat perlu ada etika penghormatan, dan penghargaan.

Bunda, kita biasakan anak ketika berbuat keliru, hendak melewati orang, meminta bantuan, dan juga memberikan penghargaan. Tentunya Bunda harus memberikan contoh terlebih dahulu.

Misalnya: “Maafin Mama, ya,” “Permisi, Mama mau lewat,” “Tolong Mama ambilkan sendok,” “Terima kasih, ya sayang.”

Cara Mengembangkan Jiwa Sosial Anak

Manfaat memiliki jiwa sosial

  1. Mempererat hubungan antar-anak, antar-orangtua, dan antar-masyarakat.
  2. Menjadi teladan bagi anak atau orang lain
  3. Anak akan menjadi supel
  4. Disukai orang banyak
  5. Mudah mencari teman.
  6. Berpeluang menjadi pemimpin.

Demikian Bunda penjelasan mengenai cara mengembangkan jiwa sosial anak. Semoga jiwa sosial anak kita dapat berkembang lebih pesat, sehingga menjadi anak yang sukses.

Referensi: dari Berbagai Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *