Ini 3 Tips Jitu Berpikir Simbolik pada Anak Usia 2-3 Tahun

Ini 3 Tips Jitu Berpikir Simbolik pada Anak Usia 2-3 Tahun

kurdefrin.com – Kemampuan berpikir adalah salah satu aspek yang berpengaruh terhadap munculnya kreativitas seseorang.

Kemampuan berpikir ini merangkai kemampuan dalam mensintesis, menganalisis, mengevaluasi dan mengaplikasakan berbagai informasi yang menghasilkan berbagai alternatif pemecahan masalah atau memproduksi kreasi bari (Jamaris)

Salah satu kemampuan berpikir adalah kemampuan berpikir simbolik. Kemampuan Berpikir simbolik merupakan kemampuan anak dalam menggunakan simbol-simbol seperti angka, huruf, dan gambar.

Berpikir simbolik adalah gagasan dan proses mental. Begitu Berpikir memungkinkan seseorang mempresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai tujuan, rencana, dan keinginan (Danarjati, dkk).

Subtahap fungsi simbolik ialah subtahap pertama pemikiran pra-operasional. Pada subtahap ini, anak-anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak nyata.

Tahapan berpikir simbolik adalah anak memanipulasi simbol atau lambang objek-objek tertentu. Anak mampu menggunakan notasi tanpa bergantung pada objek nyata (Rantukahu dan Selpius Kandou).

Tahap simbolik berikutnya adalah tahap anak belajar mengenai konsep. Hal tersebut membutuhkan kemampuan dalam merumuskan konsep dalam bentuk kata atau kalimat.

Konsep dipelajari agar anak mengenal suatu objek tapi tidak bergantung pada objek nyata. Konsep cukup penting dipelajari untuk bekal dalam kehidupan anak.

Cara menerapkan berpikir simbolik pada anak usia 2-5 tahun yaitu menggunakan simbol, bermain Khayal, mengelompokkan, dan mengurutkan sesuatu (Runtukahu dan Selpius Kandou).

Kemampuan berpikir simbolik pada anak usia 2-3 tahun antara lain: mampu meniru perilaku orang lain dalam menggunakan barang. Anak juga mampu memberikan nama atas karya yang dibuat. Dan anak mampu melakukan aktivitas seperti kondisi nyata. Misalnya memegang gagang telepon.

Berpikir Simbolik pada Anak

1. Kemampuan Meniru Perilaku

Kemampuan berpikir simbolik pada anak usia 2-3 tahun yang pertama adalah meniru perilaku. Perilaku yang ditiru anak bisa beraneka macamnya. Pada umumnya perilaku yang ditiru adalah perilaku motorik, dan perilaku sosial.

Kemampuan anak dalam meniru perilaku orang lain tergolong gaya belajar visual. Anak akan mampu meniru dengan cara melihat dan mengamati. Anak menggunakan gaya lihat tirukan. Ketajaman penglihatan anak menjadi modal kesuksesan menirukan.

Disamping itu, karakter anak memang karakter peniru. Bahkan peniru yang jitu dan ulung. Dengan melihat satu kali saja, anak akan menirunya berkali-kali. Anehnya, peniruannya itu benar alias tidak salah. Hebat.

Perilaku yang ditiru adalah perilaku yang sedang dalam proses pemahaman anak. Perilaku yang ditiru juga merupakan perilaku yang menarik, dan baru bagi anak. Anak tidak suka meniru perilaku yang sudah ia kuasai, dan perilaku yang kompleks.

Misalnya: Moms berbicara melalui HP dengan teman merupakan perilaku menarik bagi anak. Maka ia akan melihat, mengamati lalu menirukan berbicara melalui HP.

Anak melihat orang tua sholat dengan duduk di kursi karena sedang sakit. Anak mengamatinya dengan cermat. Tidak lama kemudian, anak menirukan gerakan sholat dengan duduk.

Ketika bermain, anak melihat teman-temannya yang lebih besar main koprol. Ia mengamatinya dengan tenang. Sesampai di rumah, anak langsung koprol. Persis menirukan anak koprol yang dilihatnya tadi. Cukup mengejutkan sebenarnya.

Pada saat yang lain lagi, anak melihat anak-anak lain meloncat dari ketinggian. Ia pun melakukan hal yang sama dengan yang dilihatnya tadi. Anak meloncat dari kasur lantai ke lantai.

Alasan meniru perilaku orang adalah untuk kepentingan interaksi sosial. Ketika anak meniru perilaku orang tua, orangtuanya merasa senang. Bahkan memuji anak karena bisa meniru.

Berpikir Simbolik pada Anak

Tanggapan berupa rasa senang orangtua dijadikan anak sebagai alasan untuk meniru lagi. Anak akan samakin percaya diri untuk meniru lagi dan meniru lagi. Anak juga anak beranggapan bahwa perilaku menirunya sudah disetujui orang tua.

Meniru perilaku orang lain dalam menggunakan barang dapat dilakukan dengan meniru orang dalam satu keluarga, ayah, bunda, kakak, mungkin juga nenek, dan kakek. Barang-barang yang mungkin digunakan orang di sekitar anak.

Moms kemungkinan menggunakan barang di rumah berupa HP, alat kecantikan bedak, lipstik sendok, garpu, mungkin pisau. Moms juga menggunakan sabun, shampoo, sikat gigi, sapu, alat pel, sulak, dll.

Pada saat Moms menggunakan HP, pada umumnya dengan cara pegang HP dengan tangan kiri, tekan nomor HP tujuan, kemudian berbicara. Pada saat berbicara, HP dipegang dengan tangan kanan dan tempelkan di telinga kanan.

Biarkan anak melihat dan mengamati kita menggunakan HP. Anak diminta menirukan kita menggunakan HP. Jika anak mampu menirukan dengan tepat, berarti kemampuan berpikir simbolik anak mulai berkembang.

Pada saat Moms berhias, anak perempuan kita selalu ada disamping kita. Ia memperhatikan kita menggunakan bedak, juga lipstik. Tidak lama kemudian, anak mengambil bedak dan lipstik kita. Ia mengoleskan bedak di pipi kiri dan kanan. Anak juga menggunakan lipstick dibibir atas dan bawah.

Moms, semakin banyak stimulasi, anak akan semakin bagus kemampuan menirukan. Oleh karena itu, beri kesempatan pada anak untuk melihat menyaksikan dan mengamati saat kita menggunakan barang.

Berpikir Simbolik pada Anak

2. Kemampuan Memberikan Nama Atas Karya yang Dibuat

Kemampuan berpikir simbolik pada anak usia 2-3 tahun yang kedua adalah memberikan nama pada karya yang dibuatnya.  Pemberian nama pada karya anak dilakukan anak secara alamiah sesuai imajinasinya.

Anak belum menggunakan teori tertentu dalam memberi nama pada karyanya. Anak juga belum memikirkan arti dari sebuah nama seperti pada umumnya orang tua memberi nama pada anaknya.

Pemberian nama pada karya yang dilakukan anak hanya semaunya anak sendiri. Ide apa yang ada di dalam benaknya, diekspresikan anak dengan begitu adanya. Ide alamiah sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran anak.

Intinya ide pemberian nama yang dilakukan anak pada karyanya adalah ide air mengalir. Ide seadanya dan setahunya, sesukanya, dan semaunya. Ketika diarahkan untuk memberi nama pada karyanya, kadang arahan kita tidak digubris.

Karya anak usia 2-3 tahun bisa bermacam-macam, diantaranya lukisan ikan, lukisan ayam, pemandangan, hasil mewarnai, origami, dough, dll. Setiap karya diberi nama sesuai imajinasi anak itu sendiri.

Misalnya lukisan atau gambar binatang berkaki empat diberi nama “Dedek rusa.” Padahal, lukisannya itu tidak mirip sama sekali dengan binatang yang bersama rusa. Anak terlihat bangga sudah bisa memberi nama pada lukisannya dengan “Dedek Rusa.”

Berpikir Simbolik pada Anak

Apa pun nama yang diberikan anak pada karyanya itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi anak. ia sudah mampu berkarya. Ia sudah mampu memberi identitas pada karyanya. Kita perlu memberi penghargaan.

Sebagai orang tua, kita tinggal mengarahkan anak untuk menjadi lebih baik, lebih tepat dalam memberi nama pada karyanya. Itu bisa dilakukan secara perlahan-lahan.

Tujuan anak memberi nama pada karyanya antara lain melambangkan kebanggaan pada dirinya sendiri. Selain itu, anak ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya bisa dan mampu membuat karya. Ini 3 Tips Jitu Berpikir Simbolik pada Anak Usia 2-3 Tahun

Tujuan lain anak memberi nama pada karyanya adalah memudahkan dalam mengingat, dan mencari mencari kembali. Dan sebagai lambang identitas karya sehingga menambah rasa percaya diri pada anak.

Kemampuan anak dalam memberi nama pada karyanya menunjukkan adanya perkembangan imajinasi dan kosakata yang baik pada anak. Anak telah memiliki koleksi kosakata yang cukup banyak dengan memberi nama-nama pada karyanya.

Kemampuan memiliki kosakata yang bagus akan menunjang kemampuan berbahasa pada anak. ia akan terampil berbicara dan juga pandai menulis.

Berpikir Simbolik pada Anak

3. Kemampuan Melakukan Aktivitas seperti Kondisi Nyata

Kemampuan berpikir simbolik pada anak usia 2-3 tahun yang ketiga adalah melakukan aktivitas seperti kondisi nyata. Misalnya memegang gagang telepon. Gagang telepon yang dipegang bukanlah gagang telepon yang sebenarnya.

Kemampuan eelakukan aktivitas seperti kondisi nyata bukanlah aktivitas nyata. Tapi aktivitas secara simbolik. Aktivitas yang melambangkan aktivitas yang sebenarnya. Aktivitas semacam ini tidaklah berbeda dengan perilaku bermain peran.

Bermain peran merupakan kegiatan yang sangat menarik bagi anak. Menemani anak dengan bermain peran memungkinkan bermain peran menjadi dinamis dan antusias.

Bermain peran dapat membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri anak serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Manfaat Bermain peran penting bagi anak karena permainannya menarik,menantang, menyenangkan.

Selain itu, Bermain peran dapat membangkitkan motivasi bagi anak untuk bermain yang lebih semangat. Begitu juga Bermain peran itu dapat mengembangkan imajinasi dan penghayatan seorang anak terhadap bahan yang diperankan.  Selain itu, bermain peran dapat mengembangkan kreativitas dan empati anak.

Piaget menjelaskan bahwa awal bermain peran dapat menjadi bukti perilaku anak yang telah berumur satu tahun. Bermain peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dimana cerita itu sebenarnya tidak dapat diterapkan.

Misalnya: anak mengaduk pasir dalam mangkuk dengan sekop dan pura-pura mencicipinya. Dan juga anak mengulang ingatan yang menyenangkan seperti anak melihat sebuah botol bayi dan mencoba memberikannya pada sebuah boneka.

Aktivitas dalam kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari yang diamati dilihat anak akan menjadi hal bahan yang ditiru atau yang disimbolkan untuk diperankan.

Misalnya anak mengamati Moms melakukan aktivitas memasak, makan bersama, membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, mandi, berpakaian, berhias, dll.

Berpikir Simbolik pada Anak

Kemudian anak melakukan aktivitas dalam permainannya seperti aktivitas dalam kondisi nyata. Permainan ini memerlukan media yang dapat mendukungnya. Moms perlu menyediakan mainan berupa peralatan untuk memasak, dan peralatan makan.

Selain itu, mainan berupa peralatan kebersihan rumah, mencuci pakaian juga perlu disediakan.  Masih ada yang perlu disiapkan Moms, yaitu peralatan mandi, berpakaian, dan make up untuk berhias untuk keperluan permainan anak.

Anak akan beraktivitas dengan semua peralatan tersebut seperti pada kondisi nyata. Hal ini akan mendorong kemampuan anak dalam berpikir simbolik.

Jika semua peralatan permainan terlah tersedia, anak tinggal mengingat skenario kejadian atau aktivitas yang akan diperankan. Semua aktivitas yang telah direkam di otaknya, dituangkannya dalam aktivitas seperti dalam kondisi nyata.

Dalam melakukan hal ini, anak belum mengetahui teori bermain peran. Anak juga belum mengetahui karakteristik peran. Tapi sudah mampu menghayati peran dan melaksanakan main peran.

Hal ini terjadi karena gaya belajar visual anak yang mampu merekam aktivitas yang akan ditirunya. Selain itu, aktivitas dalam kondisi nyata sering dilihat dan berulang-ulang terjadi setiap hari.

Baca juga

Dua Tips Jitu Melatih Anak Usia 1-2 Tahun Berpikir Simbolik 

Ini Moms 6 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 2-3 Tahun

Inilah Belajar & Pemecahan Masalah pada Anak Usia 2-3 tahun

Inilah 3 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 18-24 Bulan

Tips Belajar & Pemecahan Masalah pada Anak Usia 18-24 Bulan

Berpikir Simbolik pada Anak

Manfaat Melakukan Aktivitas seperti Kondisi Nyata

Memahami Diri Sendiri

Ketika bermain melakukan aktivitas seperti kondisi nyata, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih aktivitas apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain.

Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri anak itu sendiri. Selain itu, kemampuan menentukan pilihan membuat anak merasa mampu mengendalikan diri.

Ketahuilah Moms, ketika menentukan pilihan, anak berarti sudah memahami dirinya sendiri. Anak sudah mengetahui jati dirinya.

Membangun Sikap Percaya Diri

Percaya diri adalah yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan diri sendiri. Melakukan aktivitas seperti kondisi nyata akan  mendorong berkembangnya sikap percaya pada diri sendiri bahwa diri anak mampu melakukannya dengan baik.

Selain itu, anak akan percaya diri pada saat bersama dengan teman lainnya membawakan peran melakukan aktivitas. Anak juga merasa yakin dapat berkompromi dan bernegosiasi dengan orang lain.

Melatih Mental Anak

Mental adalah hal yang menyangkut batin dan watak manusia. Mental itu bukan bersifat badan atau tenaga. Bermain peran dengan melakukan aktivitas seperti dalam kondisi nyata dapat melatih anak yang berkaitan dengan batin dan watak manusia.

Ini 3 Tips Jitu Berpikir Simbolik pada Anak Usia 2-3 Tahun

Misalnya: anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak akan mengingat segala aktivitas yang pernah dilihat dan diamatinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru.

Berpikir Simbolik pada Anak

Meningkatkan Daya Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. Kreativitas anak akan berkembang melalui kegiatan bermain peran untuk melakukan aktivitas seperti dalam kondisi nyata.

Ide-ide yang orisinal yang sifatnya mengembangkan ide yang ada atau ide yang berbeda sama sekali akan keluar dari pikiran anak, walaupun kadang terasa abstrak untuk orangtua.

Misalnya: anak melakukan aktivitas memasak seperti orang tua memasak. Tapi pada proses memasak ada yang berbeda. Misalnya: proses menghaluskan bumbu.

Alat yang digunakan anak untuk menghaluskan bumbu adalah piring dengan sendok. Anak tidak menggunakan blender atau layah dan ulek-ulek untuk menghaluskan bumbu. Itulah contoh kreativitas seorang anak.

Dimana letak kreativitasnya? Kreativitasnya terletak pada peralatan yang digunakan untuk menghaluskan bumbu. Peralatan yang digunakan untuk menghaluskan bumbu berbeda dari kebiasaan pada umumnya. Perbedaan itulah yang menjadi kreativitas anak.

Demikianlah Mom penjelasan mengenai kemampuan berpikir simbolik pada anak usia 2-3 tahun. Secara singkat, kemampuan berpikir simbolik ini terdiri atas meniru perilaku, memberikan nama, dan melakukan aktivitas seperti kondisi nyata.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *