Inilah 3 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 12-18 Bulan

Inilah 3 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 12-18 Bulan

kurdefrin.com – Pikir itu akal budi atau ingatan. Berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan atau memutuskan sesuatu.

Logis adalah sesuai dengan logika. Logika adalah pengetahuan tentang kaidah berpikir. Logika bisa berarti jalan pikiran yang masuk akal.

Berpikir logis adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan atau memutuskan sesuatu yang sesuai dengan logika atau jalan pikiran yang masuk akal.

Wow, ternyata anak usia 12-18 bulan sudah mempunyai kemampuan berpikir logis. Kemampuan berpikir logis pada anak usia 12-18 bulan terdiri atas tiga kemampuan.

Pertama, kemampuan membedakan Ukuran Benda. Kedua, kemampuan membedakan penampilan. Ketiga, kemampuan merangkai Puzzle. Berikut ini penjelasannya. Simak ya Moms.

1. Kemampuan Membedakan Ukuran Benda

Kemampuan membedakan ukuran benda pada anak usia 12-18 bulan dapat digunakan kriteria besar kecil, panjang pendek, berat dan ringan. Untuk kesempatan kali ini akan dibahas mengenai kemampuan anak membedakan ukuran benda yang besar dan kecil.

Belajar membedakan ukuran merupakan salah kemampuan berpikir logis yang harus dimiliki anak usia 12-18 bulan. Untuk dapat membedakan ukuran suatu benda, seorang anak harus mengenal ukuran tiap benda.

Ukuran tiap benda berbeda-beda. Ada ukuran besar, sedang, dan ukuran kecil. Agar anak dapat mengklasifikasi ukuran, anak harus mengenal konsep besar itu apa, konsep kecil itu apa. Anak juga perlu mengenal contoh benda yang besar dan kecil.

Untuk melatih anak agar dapat membedakan ukuran besar dan kecil, Moms perlu sediakan media belajar terlebih dahulu. Banyak media yang dapat diperoleh di pasaran.

Moms bisa memilih media mainan dari plastik, berupa hewan dengan ukuran besar, hewan kecil, kelereng besar dan kecil, bola besar dan kecil, kelopak bunga plastik besar dan kecil, daun plastik besar, sedang, dan kecil, kancing baju besar, sedang, dan kecil, dll.

Media yang tersedia dari alam juga dapat difungsikan lho, Moms. Misalnya, kita petik saja bunga mawar yang besar dan kecil yang ada di halaman. Boleh juga kita petik daun bunga melati yang besar, sedang, dan kecil. Media ini tidak perlu dibeli karena sudah tersedia.

Media lainnya yang bisa digunakan untuk melatih anak membedekan ukuran adalah biji-bijian. Misalnya biji jagung. Kita kan sudah mengenal bahwa biji jagung itu ada yang berukuran besar dan kecil.

Contoh lainnya adalah biji kedelai. Biji kedelai juga ada yang berukuran besar dan kecil. Biji kacang tanah juga bisa kita gunakan untuk melatih anak membedakan ukuran besar dan becil.

Alat tulis pun dapat kita jadikan media untuk melatih anak membedakan ukuran besar kecil. Di pasaran tersedia penggaris besar dan kecil, spidol besar dan kecil, pensil besar dan kecil.

Kita juga bisa menggunakan bumbu dapur seperti kunyit dan kencur. Kita sediakan kunyit dan kencur yang berukuran besar dan kecil untuk melatih anak membedakan ukuran benda.

Roti jenisnya sama tapi beda ukuran. Misalnya donat besar dan donat kecil. Moms bisa meminta anak untuk mengambilkan donat yang besar. Jika anak bisa mengambilkan donat yang besar, maka ia sudah mengerti konsep donat yang besar.

Moms, cukup banyak tersedia media yang dapat digunakan sebagai alat melatih anak membedakan ukuran besar dan kecil. Kita tinggal pilih media mana yang disukai anak.

Kalau anak suka pada media yang digunakan, diharapkan anak akan tertarik melakukan tugas membedakan ukuran besar dan kecil. Kemampuan membedakan ukuran besar dan kecil merupakan salah satu kemampuan berpikir logis pada anak usia 12-18 bulan.

Moms, benda yang dijadikan media untuk melatih anak membedakan ukuran harus memenuhi syarat. Syaratnya adalah benda yang digunakan harus memiliki jenis yang sama, dan memiliki warna yang sama juga.

Tujuannya adalah agar anak berlatih atau belajar hanya berfokus pada membedakan   ukuran. Anak memilih, lalu mengelompokkan semata-mata atas dasar ukuran yang berbeda. Bukan karena warna, atau pun bentuk benda.

Tahap Latihan: tahap pertama, anak dilatih memegang benda dengan satu dan memasukkannya ke dalam wadah yang disediakan. Latihan ini bertujuan menguatkan otot tangan dan koordinasi dengan mata.

Tahap kedua, anak diminta membedakan benda dengan dua ukuran, yakni besar dan kecil.Tahap ketiga, anak diminta membedakan benda dengan tiga ukuran yaitu besar, sedang, dan kecil.

Cara melatih anak membedakan ukuran benda

Tahap pertama: anak dilatih memegang satu benda dan memasukkannya ke dalam wadah yang tersedia. Latihlah berulang-ulang, agar anak mampu memegang benda dan meletakkannya di mangkuk yang tersedia.

Tahap kedua: anak dilatih membedakan ukuran dengan, dua benda. Benda yang digunakan sebagai media misalnya kelereng. Moms, sediakan kelereng berukuran besar dan kecil dalam satu wadah.

Kemudian siapkan dua mangkuk, satu berukuran besar dan satu berukuran kecil. Dudukkan anak bersebelahan dengan Moms.

Ajaklah anak mengambil satu kelereng besar dan memasukkanya ke dalam wadah yang besar. Jika yang diambil kelereng kecil, anak diminta meletakkannya di mangkuk yang kecil.

Tahap 3 anak dilatih membedakan ukuran benda dengan tiga ukuran yaitu mata boneka kecil, sedang,dan besar. Media yang digunakan misalnya mata boneka.

Siapkan media buat anak berupa mata boneka yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Siapkan juga bahan dan alat yang dibutuhkan yaitu mangkuk berjumlah 3, mata boneka 30, dan dough (lilin mainan).

Cara melakukannya adalah letakkan mata boneka di atas dough. Peletakkan mata boneka dilakukan dengan tidak beraturan. Mata boneka terdiri atas tiga ukuran, besar, sedang, dan kecil. Anak diharapkan dapat membedakan ukuran secara logis.

Kemudian letakkan tiga buah mangkuk berukuran besar, sedang, dan kecil di dekat anak. Mintalah anak duduk bersama Moms. Ajaklah anak mengambil mata boneka dari atas dough, lalu memasukkannya ke dalam mangkuk.

Arahkan anak memasukkan mata boneka besar ke dalam mangkuk besar. Mata boneka berukuran sedang dimasukkan ke dalam mangkuk berukuran sedang. Dan mata boneka kecil dimasukkan ke dalam mangkuk kecil. Inilah 3 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 12-18 Bulan.

Setelah semua mata boneka dimasukkan, Moms dan anak dapat memeriksa hasilnya bersama-sama. Beri pujian, tepuk tangan jika anak berhasil menempatkan mata boneka sesuai ukurannya. Tentu anak akan semakin senang.

Manfaat kemampuan membedakan ukuran benda bagi anak adalah dapat memberi rangsangan perkembangan kecerdasan anak. Selain itu, berlatih membedakan ukuran besar, sedang, dan kecil, dapat melatih indera penglihatan anak.

Dan mengembangkan ketelitian, konsentrasi. Koordinasi mata dan tangan anak pun akan semakin berkembang. Kemampuan berpikir logis anak pun akan berkembang.

2. Kemampuan Membedakan Penampilan

Kemampuan membedakan penampilan pada anak usia 12-18 bulan dapat dilihat dari kriteria rapi dan tidak rapi. Penampilan dikenal dengan dua katagori yaitu penampilan fisik dan nonfisik.

Penampilan yang akan dibahas di sini adalah kemampuan anak usia 12-18 bulan membedakan penampilan. Difokuskan pada penampilan fisik yang tampak secara nyata. Anak akan dilatih agar dapat membedakan penampilan yang rapi dan yang tidak rapi.

Penampilan bisa dilihat dari pakaian, dan cara berdandan atau berhias. Untuk melatih anak agar memiliki kemampuan membedakan penampilan diperlukan media.

Pertama, kita persiapkan foto-foto, gambar, dan video fashion anak-anak. Moms, ajak anak duduk bersama. Sodori anak foto-foto dan gambar anak-anak berpakaian rapi dan yang tidak rapi. Siapkan wadah baki atau nampan yang baik dan jelek.

Beri kesempatan pada anak untuk mengamati foto atau gambar sepuasnya. Kemudian, tanyai anak, mana yang pakaiannya rapi. Mana yang tidak rapi.

Selanjutnya, anak diminta memilih dan mengambil foto atau gambar yang pakaiannya rapi. Letakkan pada baki yang baik. Anak juga diminta memilih foto atau gambar yang pakaiannya tidak rapi. Letakkan pada baki yang jelek.

Hasilnya kita koreksi bersama. Moms memeriksa baki yang bagus dulu. Jika ditemukan kebenaran atau ketepatan pemilihan yang dilakukan anak. Rayakan dengan horee dan tepuk tangan. Berilah anak pujian.

Pengoreksian dilanjutkan dengan baki yang jelek. Moms periksa apakah anak berhasil meletakkan foto atau gambar yang pakaiannya tidak rapi. Jika diperoleh jawaban anak yang tepat, Berilah anak pujian ataupun ciuman kasih saying.

Tapi, jika ditemukan ketidaktepatan atau kesalahan, jangan pernah menyudutkan anak. Anak sudah mau mengerjakan atau melakukan saja sudah jempol. Jadi, beri pengarahan untuk membetulkannya dengan penuh kasih sayang.

Dengan mengamati lalu memilih foto atau gambar yang tepat, anak dapat dikatakan sudah mampu membedakan penampilan. Baik penampilan yang rapi maupun penampilan yang tidak rapi.

Berikutnya, kita ajak anak berlatih membedakan penampilan dengan melihat video fashion show anak-anak. Anak diminta tepuk tangan jika pakaian yang dikenakan rapi. Boleh juga anak merespon dengan menganggukkan kepala.

Karena video yang diputarkan adalah fashion show, tentu anak akan memberi respon berupa tepuk tangan, anggukan kepala. Pakaiannya bagus semua sih.

Jika Moms, punya koleksi video anak dengan pakaian compang-camping, tidak rapi, dll, putarkanlah. Ajaklah anak menonton. Ajak anak geleng kepala jika pakaian yang dikenakan tidak rapi atau jelek.

Boleh juga anak diminta mengacungkan jempol ke bawah. Itu sebagai tanda bahwa apa yang dilihat itu tidak baik. Penampilan yang ada pada tayangan itu tidak rapi pakaiannya.

Moms, jangan bingung jika tidak punya foto, gambar, atau video sebagai media melatih anak membedakan penampilan. Sebab Moms dan anak juga bisa lho berperan sebagai media sekaligus pembelajar.

Zaman lagi pandemi, Moms. Pengetahuan dan pengalaman anak akan menjadi kaya karena peran Moms. Anak belum bisa keluar rumah untuk menggali pengetahuan dari luar.

Moms-lah satu-satunya ibu guru bagi anak Moms. Jadi, ayo donk kita kembali pada materi yang sedang kita bahas. Melatih anak membedakan penampilan dapat menggunakan media kita sendiri.

Misalnya, Moms cobalah menggunakan pakaian yang ketaaat banget. Keluarlah dari kamar, tunjukkan pada anak. Kita lihat reaksi anak. Mimik wajahnya tentu mengatakan, “tidak rapi, Moms” “terlalu ketat, Moms.”

Berikutnya, Moms berganti pakaian yang rapi, pas di tubuh Moms. Tunjukkan pada anak, pakai yang ini bagus kan? Anak akan menganggukan kepala tanda ia membenarkan bahwa pakaian Moms rapi.

Demi anak, Moms harus bisa merangsang kemampuan berpikir logis pada anak sedini mungkin. Walau Moms harus jadi artis berganti-ganti pakaian. Tidak apa-apa kan?

Lalu bagaimana kalau anak sendiri yang kita jadikan media belajar? Cobalah yang berikut ini. Moms memakaikan rok pada anak, satu lengan terpasang, tapi satunya belum. Anak akan merespon dengan gestur tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanan.

Contoh lainnya: cobalah Moms pasangkan topi dengan sedikit menutup mata anak. Pasti anak dengan segera berusaha membetulkan topi supaya lebih tepat. Reaksi semacam itu menunjukkan adanya kemampuan anak membedakan penampilan

Moms, penampilan bisa baik atau bagus dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain: warna baju, kepraktisan, kenyamanan, variasi motif, kostum favorit.

Selain itu, keketatan pakaian, kesesuaian pakaian dengan kepentingan, cuaca dan musim. Juga aspek aksesoris, tatanan rambut, dan wajah. Materi ini belum saatnya bagi anak usia 12-18 bulan, Moms. Belum diajarkan sekarang. Tunggu waktu yang tepat.

Kemampuan anak dalam membedakan penampilan memerlukan proses berpikir logis. Di dalam pikiran anak, sudah terdapat konsep berupa kriteria penampilan rapi dan kriteria tidak rapi.

Konsep yang telah dimiliki anak, kemudian diaplikasikannya ke dalam objek yang diamati. Proses mengaplikasikan inilah tergolong kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kalau menurut taksonomi Bloom, kemampuan mengaplikasi tergolong C4. Yakni kemampuan menerapkan suatu konsep ke dalam objek tertentu. Kemampuan ini adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Pada saat anak akan mengaplikasikan konsep rapi dan tidak rapi pada suatu penampilan, ia akan menggunakan logikanya. Kemampuan berpikir logisnya mulai bekerja.

Jadi, Moms boleh berbangga hati jika anak Moms sudah mampu membedakan penampilan. Karena anak sudah dapat menunjukkan kemampuan berpikir logis. Kita tahu kemampuan berpikir logis sangat dibutuhkan bagi kehidupan anak kelas kalau sudah dewasa.

3. Kemampuan Merangkai Puzzle

Kemampuan merangkai puzzle pada anak usia 12-18 bulan diberlakukan permainan puzzle sederhana. Inilah 3 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 12-18 Bulan.

Hubungan bermain puzzle dengan kemampuan berpikir logis adalah erat.di dalam permainan puzzle anak diminta menempatkan kepingan puzzle ke dalam ruang di dalam papan puzzle.

Pada saat menempatkan kepingan puzzle, anak harus memikirkan ruang yang tepat dengan bentuk kepingan puzzle. Anak harus menempatkan kepingan puzzle yang tepat.

Di situ anak berpikir bagaimana posisi kepingan puzzle yang tepat. Apakah harus menghadapa ke atas, ke bawah. Apakah sisi kanan tepat, apakah sisi kiri tepat dan bisa menyambung dengan papan puzzle yang ada.

Apalagi jika kepingan puzzle dengan papan puzzle harus menyambungkan warna. Di situ anak akan berpikir lagi secara logika. Bagaimana menempatkan kepingan puzzle agar warna tersampung dengan warna pada papan puzzle.

Jadi, kemampuan berpikir logis pada anak usia 12-18 bulan, pada saat bermain puzzle sudah mencapai berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis ini tergolong kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Salah satu Kemampuan pada kecakapan abad 21 adalah kemampuan berpikir kritis atau critical thinking. Kemampuan berpikir kritis sangat memerlukan kemampuan berpikir logis.

Moms, mengingat pentingnya kemampuan berpikir kritis pada abad 21, biasakanlah anak berpikir logis sebagai modal kemampuan berpikir kritis. Salah satu caranya adalah dengan mengajal anak selalu bermain puzzle.

Cara melatih anak merangkai puzzle yang pertama adalah penyediaan media berupa puzzle. Puzzle banyak tersedia di toko. Biasanya diletakkan berdekatan dengan alat permainan anak dan alat-alat tulis.

Moms harus memilih puzzle yang sesuai dengan usia anak. Kalau kita baru pertama kali akan mengenalkan puzzle pada anak, kita pilih puzzle yang sedikit potongan atau kepingannya. Misalnya puzzle dengan dua potongan saja.

Selanjutnya, Moms pilih juga puzzle dengan potongan 4,6,8, dan seterusnya. Jika Moms tidak pengin bolak balik ke toko untuk membeli Puzzle, maka belilah puzzle sekaligus dalam jumlah banyak, 5-10 puzzle.

Kalau puzzle sudah tersedia dalam jumlah banyak, kita sudah tenang karena sudah punya alat untuk menantang kemampuan berpikir logis pada anak. Pada awal pertama, kita beri anak puzzle dengan dua kepingan.

Ajaklah anak duduk dengan santai di lantai beralaskan karpet atau kasur lantai. Kondusifkan suasana, sambil kita bersenandung. Ajak anak bernyanyi-nyanyi kecil yang bersifat menenangkan.

Sodori anak puzzle. Biarkan anak membongkar puzzle sendiri. Moms juga membongkar puzzle Moms sendiri. Biarkan anak mengikuti gerak-gerik Moms membongkar dan memasang puzzle.

Lakukan pertimbangan kepingan puzzle akan ditempatkan dimana. Tunjukkan aksi Moms pada anak bahwa Moms sedang berpikir logis untuk menempatkan kepingan puzzle. Letakkan secara salah. Putar ke kiri, ke kanan. Ubah ke arah atas atau bawah.

Baca Juga:

Kognitif: Belajar Pemecahan Masalah pada Anak Usia 1-2 Tahun

Kemampuan Mereaksi Atas Rangsangan pada Anak Usia 0-12 Bulan

7 Kemampuan Kognitif pada Anak Usia 0-1 Tahun: Kenali Wajah

Mainan yang Dapat Meningkatkan Kecerdasan Intelektual Anak

Proses menempatkan kepingan puzzle harus benar-benar ditampakkan pada anak. Tujuannya agar anak menirukan proses berpikir yang logis sehingga kepingan puzzle bisa ditempatkan pada papan puzzle secara tepat.

Selanjutnya, Moms fokuskan pada puzzle yang dihadapi anak. Arahkan anak membongkar puzzle sendiri. Anak diminta merangkai puzzle satu persatu.

Jika satu kepingan puzzle berhasil terpasang dengan tepat, rayakanlah agar anak merasa senang, dan semain percaya diri walaupun baru menyelesaikan satu keeping saja.

Jika anak berhasil merangkai kepingan yang kedua, berilah anak pujian. “Hebaat, pinter.” Ayo kita mainkan lagi. Beri kesempatan anak mengulangi lagi permainan puzzlenya.

Arahkan anak membongkar puzzle yang tadi, yakni puzzle yang terdiri atas dua keping saja. Anak diminta merangkai lagi kepingan puzzle sampai kedua kepingan puzzle terpasang. Beri hadiah pujian dan tepuk tangan. Ajak nanyi bersama.

Kemampuan berpikir logis tergolong kemampuan yang memerlukan proses berpikir lebih serius, dan lebih memeras otak. Oleh karena itu, proses mengajarkan kemampuan berpikir logis harus dengan cara yang menyenangkan.

Moms, kita akan bangga jika memiliki anak yang cerdas, dan memiliki kemampuan kognitif yang hebat. Maka, ayo kita latih anak untuk selalu berpikir logis sejak dini dan terus-menerus.

Inilah 3 Kemampuan Berpikir Logis pada Anak Usia 12-18 Bulan

Pada keesokan harinya, kita ajak lagi anak merangkai puzzle. Kita sodori lagi puzzle yang kemarin. Puzzle yang terdiri atas dua kepingan saja. Amati anak membongkar dan merangkai puzzle. Ada kesulitan atau tidak.

Kalau ada kesulitan, biarkan anak merangkai puzzle dengan dua kepingan saja sampai benar. Ajak merangkai puzzle dengan santai dan menyenangkan. Hindari anak jangan sampai tertekan.

Selanjutnya, jika anak sudah lihai merangkai puzzle dengan dua kepingan, kita beri puzzle baru dengan 4 kepingan. Wah, kemampuan berpikir logis anakakan semakin tertantang.

Kini anak harus membongkar puzzle dengan empat kepingan. Pada awal membongkar puzzle apalagi puzzle masih baru, biasanya lebih sulit. Maka bantulah anak membongkar kepingan pertama puzzle tersebut.

Jika semua kepingan sudah terbongkar, anak diminta merangkai kepingan puzzle satu demi satu. Hem, jangan lupa Moms, hadiahi anak dengan tepuk tangan. Itu akan membuat anak semakin termotivasi untuk melakukan hal yang baik lagi.

Teruskanlah cara tersebut sampai empat kepinganm puzzle terangkai. Rajin-rajinlah Moms mengajak anak merangkai puzzle. Sebab kemampuan merangkai puzzle merupakan cara melatih anak untuk berpikir logis.

Demikianlah penjelasan mengenai kemampuan berpikir logis pada anak usia 12-18 bulan. Kita tahu bahwa kemampuan berpikir logis merupakan kemampuan yang dapat meningkatkan kecerdasan seorang anak. sampai jumpa pada artikel berikutnya.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *