Inilah Cara Hebat Memahami Bahasa pada Anak Usia 5-6 Tahun

Inilah Cara Hebat Memahami Bahasa pada Anak Usia 5-6 Tahun

kurdefrin.com – Anak sudah masuk usia 5-6 tahun, ya Moms? Tentu kemampuan berbahasa anak sudah meningkat. Kemampuan berbicara dan mendengarkan pada anak Moms sudah berkembang. Alhamdulilah.

Pada artikel ini akan dibahas masalah kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun. Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun dapat berkembang melalui kegiatan mendengarkan atau menyimak.

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun adalah anak mengerti beberapa perintah secara bersamaan. Anak juga dapat mengulang kalimat yang lebih kompleks.

Anak juga dapat memahami aturan dalam suatu permainan. Selain itu, anak senang dan menghargai bacaan. Ikuti pembahasannya y, Moms.

1. Mengerti Beberapa Perintah secara Bersamaan

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun yang pertama adalah mengerti beberapa kalimat perintah secara bersamaan. Pada usia 4-5 tahun, anak sudah diajari melakukan pekerjaan dengan dua perintah secara bersamaan.

Untuk dapat mengerti perintah, hendaknya kita gunakan kalimat perintah. Biasanya kalimat perintahnya berupa perintah melakukan sesuatu secara berurutan. Hal ini akan memudahkan anak untuk melakukannya.

Pada usia 5-6 tahun, hendaknya anak dilatih mengerti beberapa perintah lebih dari dua perintah secara bersamaan. Ciri anak mengerti beberapa perintah, anak dapat melakukan perintah itu dengan benar.

Misalnya perintahnya ada tiga. Anak harus dapat melakukan perintah sebanyak tiga juga. Contoh: Petik petik bunga itu, tata dalam vas bunga lalu pajang di meja.

Respon anak terhadap kalimat perintah di atas ada tiga. Anak harus memetik, menata, dan memajang bunga di meja. Jika dapat melakukan semuanya, berarti anak sudah mengerti beberapa perintah yang bersamaan.

Pada umumnya perintah yang diberikan berupa perbuatan keseharian yang mudah dilakukan anak. Perintah semacam itu tentu dapat dilakukan anak usia 5-6 tahun. karena anak sudah sering melihat orang lain melakukan apa yang diperintahkan.

Jadi, kemampuan anak dalam memahami perintah, selain dengan cara melakukannya langsung, anak usia 5-6 tahun dapat juga memahami perintah karena sering melihat orang melakukannya.

Anak usia 5-6 tahun sering melihat sang pengasuh mencuci, menjemur, menyetrika baju. Jika diperintah mencuci, menjemur, menyetrika baju, maka anak akan dapat melakukan perintah itu dengan benar.

Walaupun mungkin secara kualitas hasilnya belum baik. Anak baru sampai pada batas melakukan dengan benar. Misalnya: Cucilah bajumu, lalu jemur di luar, setrikalah kalau sudah kering.

Anak yang sering melihat ibunya memasak, ia tentu bisa melakukannya jika diperintah. Misalnya: Ambil bayam di kulkas, petiklah lalu dicuci. Anak pun diharapkan akan mengerti perintah-perintah tersebut.

Untuk membuktikan bahwa anak mengerti perintah, ia akan berbuat atau melakukan Tindakan berupa mengambil bayam dari kulkas. Lalu anak memetik bayam. Kemudian mencuci bayam.

Moms, melatih anak usia 5-6 tahun untuk mengerti beberapa perintah akan membuat anak semakin cerdas. Kemampuan kognitifnya semakin berkembang.

Sebab, semakin rumit otak dalam menerima rangsangan, semakin berkembang pula kemampuan otak anak usia 5-6 tahun dalam berpikir.

Jika kita ingin agar anak lebih cerdas dari usianya, maka latihlah dengan memberi rangsangan yang lebih menantang. Dengan begitu, otak akan bekerja lebih untuk menghadapi tantangan itu.

2. Mengulang Kalimat yang Lebih Kompleks

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun yang kedua adalah mengulang kalimat yang lebih komplek.

Kalimat kompleks adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu struktur kalimat. Pada umumnya, di dalam kalimat komplek memiliki dua aksi peristiwa atau kejadian.

Kalimat kompleks ini bisa disebut dengan kalimat majemuk. Kalimat majemuk itu memiliki dua pola kalimat atau lebih. Inilah Cara Hebat Memahami Bahasa pada Anak Usia 5-6 Tahun

Kalimat majemuk dikenal dengan tiga macam, yaitu kalimat majemuk setara, bertingkat, dan campuran.

Kalimat majemuk setara biasanya ditandai oleh kata penghubung dan, tetapi, sebab, karena, atau, dll. Contoh: Anak usia 5-6 tahun sudah rajin mencabuti dan membuang rumput pengganggu tanaman.

Contoh lainnya: Anak usia 5-6 tahun sudah pinter bicara tetapi belum bisa menulis. Anak usia 5-6 tahun belum bisa menulis karena belum diajari menulis. Anak usia 5-6 tahun bisa berbicara atau berkomunikasi dalam bahasa lisan.

Kalimat majemuk bertingkat ditandai dengan kata penghubung ketika, setelah itu, dll. Setelah kata penghubung tersebut, biasanya disertai kalimat bukan kata atau frasa. Misalnya: Ketika ayah ibunya masih tidur, anak usia 5-6 tahun tersebut sudah pergi ke musola.

Kalimat majemuk campuran biasanya ditandai kata penghubung campuran dari kata penghubung kalimat majemuk setara dan bertingkat. Misalnya: Anak usia 5-6 tahun sedang membaca dan merawat buku ketika anak-anak lain bermain di lapangan.

Agar anak usia 5-6 tahun dapat mengulang ucapan kalimat kompleks atau kalimat majemuk, kita dapat melatihnya secara bertahap. Ajari anak mengulang kalimat sederhana.

Selanjutnya, ajak anak usia 5-6 tahun mengulang kalimat kompleks setara, bertingkat dan campuran. Untuk dapat mengulang kalimat kompleks setara, dapat dilakukan dengan cara anak diminta mengulang satu kalimat penuh. Misalnya:

Anak usia 5-6 tahun rajin membaca dan merawat buku.

Anak itu rajin membaca buku tetapi malas berolahraga.

Anak usia 5-6 tahun menangis terus sebab sakit.

Agar dapat mengulang kalimat kompleks bertingkat dan campuran, anak usia 5-6 tahun hendaknya dilatih mengulang kalimat tersebut secara bertahap per bagian kalimat. Misalnya:

Ketika ayah ibunya masih tidur, anak usia 5-6 tahun tersebut sudah pergi ke musola.

Anak usia 5-6 tahun sedang membaca dan merawat buku ketika anak-anak lain bermain di lapangan.

Ajari anak mengulang kalimat majemuk seperti di atas dengan memenggal kalimat menjadi dua bagian. Pemenggalannya seperti berikut ditandai oleh garis miring.

Ketika ayah ibunya masih tidur/anak usia 5-6 tahun tersebut sudah pergi ke musola.

Anak usia 5-6 tahun sedang membaca dan merawat buku /ketika anak-anak lain bermain di lapangan.

Jika anak sudah bisa mengulang kalimat secara per bagian, kita ajari anak mengulang seluruh kalimat. Lakukan hal ini sampai lancar. Sebab kemampuan mengulang kalimat dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi pada anak.

3. Memahami Aturan dalam Suatu Permainan

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun yang ketiga adalah memahami aturan dalam suatu permainan. Aturan adalah tata cara atau ketentuan, pedoman, patokan, atau petunjuk.

Aturan permainan berarti tata cara atau ketentuan, pedoman, patokan, atau petunjuk permainan. Aturan permainan dibuat untuk membatasi permainan. Aturan permainan akan memunculkan ketentuan permainan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Permainan untuk anak usia 5-6 tahun itu banyak macamnya. Setiap macam permainan sudah memiliki aturannya. Pada saat anak usia 5-6 tahun melakukan sebuah permainan, dia harus melakukan permainan itu sesuai dengan aturannya.

Aturan suatu permainan akan ditaati dengan baik, jika anak usia 5-6 tahun itu memahami aturan permainannya. Sebelum memahami, anak usia 5-6 tahun harus mengetahui lebih dahulu bahwa suatu permainan itu ada aturannya.

Misalnya pada permainan dakon, halma, sekak, suda manda, lompat tali, gobak sodor, kasti, sepak bola, berenang, ular tangga, monopoli dll semuanya mempunyai aturan permainan.

Contoh aturan permainan kasti

Aturan permainan kasti tentu saja berbeda dengan aturan permainan yang lain seperti sepak bola, basket, dll. Aturan permainan kasti harus dipahami dan ditaati oleh para pemain kasti.

  1. Ukuran lapangan kasti yang asli harus memiliki panjang 40 meter, lebar 70 meter, ruang tunggu 10 meter.
  2. Permainan kasti harus dipimpin oleh seorang wasit dan tiga orang penjaga garis, serta seorang sebagai pencatat waktu.
  3. Jumlah pemain setiap regu 12 anak. salah satu pemain harus ada yang menjadi kapten tim. Pemain seluruhnya wajib untuk menggunakan nomor dada dari 1-12. Pemain pengganti ada 6 anak. Juga harus menggunakan nomor dada.
  4. Waktu permainan sekitar 20-30 menit setiap babak. Permainan kasti dilaksanakan dalam dua babak. Setiap babak ada waktu istirahat 15menit.
  5. Tugas utama tim penjaga adalah mematikan lawan dengan cara melemparkan bola ke arah pemukul atau langsung menangkap bola yang tim pemukul lambungkan dengan cara memukul.
  6. Tiap pemain kasti mempunyai hak untuk memukul sekali terkecuali pemain terakhir. Pemain terakhir mempunyai hak melakukan pukulan tiga kali. Selesai memukul bola, pemukul wajib meletakkan alat pemukul di dalam ruang pemukul. Jika peletakkannya di luar, pemain tidak akan mendapat nilai.
  7. Proses pelambungan bola harus dilakukan sesuai dengan permintaan si pemukul. Apabila bola tidak sesuai permintaan pemukul, pemukul boleh tidak memukulnya sampai 3 kali. Jika sudah 3 kali berturut-turut, pemukul boleh berlari bebas menuju tiang pemberhentian.
  8. Pemain yang sukses melakukan pemukulan bola, berlari menuju tempat pemberhentian I, II, III, serta ruang bebas secara bertahap dapat nilai 1. Sedangkan pemain yang sukses memukul, berlari melalui pemberhentian I, II, III langsunh ke ruang bebas dapat nilai 2.
  9. Untuk tim penjaga yang berhasil menangkap bola lambung secara langsung dapat nilai 1. Penentuan pemenang berdasarkan nilai yang paling tinggi.
  10. Pergantian tempat harus diberlakukan antara tim penjaga dan pemukul jika salah satu tim pemukul terkena lemparan bola. Selain itu, pergantian tim dapat berlaku jika tim penjaga dapat menangkap bola lambung 3 kali berturut-turut.

Itulah aturan permainan kasti. Aturan ini harus dipahami oleh para pemain. Tanpa memahami aturan, permainan kasti tidak dapat berjalan dengan benar.

Bagaimana anak usia 5-6 tahun dapat memahami aturan sebuah permainan? Pada umumnya, anak usia 5-6 tahun belum dapat membaca. Cara yang dapat ditempuh untuk memahami aturan permainan  adalah dengan melakukan kasti secara langsung.

Cara memahami sesuatu semacam itu justru akan lebih cepat dipahami oleh anak usia 5-6 tahun. Jadi, anak akan memahami aturan permainan dengan melakukan secara langsung.

Kalau dalam Bahasa pengajaran, belajar memahami dengan melakukan disebut dengan learning to do. Artinya adalah belajar dengan melakukan. Hasilnya luar biasa. Anak akan memahami dengan mudah.

Manfaat memahami aturan permainan antara lain: menumbuhkan sportivitas, menghindari kecurangan, meningkatkan kejujuran.  Selain itu, manfaat memahami aturan permainan adalah menghindari kekacauan dalam melakukan permainan.

Baca juga:

Inilah Cara Jitu Menggunakan Bahasa pada Anak Usia 4-5 tahun

Latih Anak Usia 4-5 Tahun Paham Bahasa, Bedakan Bunyi Bahasa

4 Tips Berbahasa Pada Anak Usia 3-4 Tahun: Pahami 2 Perintah

Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya

4 Kemampuan Bahasa pada Anak Usia 2-3 Tahun: Latih Pelafalan

4. Senang dan Menghargai Bacaan

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun yang keempat adalah senang dan menghargai bacaan. Senang artinya ada rasa puas atau lega, tanpa rasa susah.

Inilah Cara Hebat Memahami Bahasa pada Anak Usia 5-6 Tahun

Senang juga dapat diartikan suka atau gembira. Kalau ada anak usia 5-6 tahun senang pada bacaan berarti ia suka atau gembira jika membaca.

Menghargai artinya menghormati atau mengindahkan. Bisa juga dimaknai memandang penting (bermanfaat atau berguna). Menghargai bacaan berarti menghormati, mengindahkan, memandang penting pada bacaan.

Anak usia 5-6 tahun bersikap senang dan menghargai bacaan dapat dimaknai ia suka dan memandang penting pada bacaan.  Ia gembira jika membaca karena merasa mendapatkan sesuatu dari bacaan.

Cara mendidik anak usia 5-6 tahun agar senang dan menghargai bacaan, bagaimana ya? Berikut adalah penjelasannya.

  1. Sediakan anak usia 5-6 tahun buku bacaan sebanyak-banyaknya. Buku bacaan yang disediakan harus sesuai dengan tingkat usia anak. Jenis buku diupayakan beraneka macam tema. Pilih juga tampilan buku yang menarik.
  2. Beri kesempatan pada anak usia 5-6 tahun untuk membaca setiap saat setiap hari.
  3. Beri penjelasan pada anak usia 5-6 tahun mengenai manfaat membaca.
  4. Ingatkan anak usia 5-6 tahun untuk merapikan Kembali buku yang sudah dibaca.
  5. Beri tahu anak usia 5-6 tahun agar tidak melipat halaman buku sebagai pembatas bacaan karena buku akan menjadi lusuh dan rusak.
  6. Ingatkan anak usia 5-6 tahun agar tidak mencorat-coret buku yang dibaca. Biarkan buku dalam keadaan bersih tanpa coretan.
  7. Ajari anak usia 5-6 tahun untuk merawat buku dengan cara memberi sampul buku, meletakkan buku dengan posisi yang benar. Letakan di rak buku dengan posisi vertikal. Jauhkan air atau api di sekitar penyimpanan buku.
  8. Sediakan fasilitas teknologi untuk membaca jika memungkinkan. Anak pada usia 5-6 tahun akan lebih suka membaca lewat e-book. Tapi, perlu pembatasan. Lebih aman buku non-e-book. Mata anak uisa 5-6 tahun terhindar dari radiasi.
  9. Beri respon positif atau pujian setiap kali anak usia 5-6 tahun membaca dan merawat buku. Beri pertanyaan mengenai bahan bacaan yang dibaca. Jadikan bahan obrolan santai dengan anak.

Demikianlah pembahasan mengenai kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun. Jika disimpulkan ada 4 kemampuan memahami bahasa pada anak usia 5-6 tahun, antara lain anak mengerti beberapa perintah secara bersamaan.

Anak juga dapat mengulang kalimat yang lebih kompleks, dan dapat memahami aturan dalam suatu permainan. Selain itu, anak senang dan menghargai bacaan

Semoga dapat menambah wawasan. Terima kasih atas kunjungannya.Sampai jumpa pada artikel berikutnya di kurdefrin.

Referensi: dari berbagai Sumber.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *