Kognitif: Belajar Pemecahan Masalah pada Anak Usia 1-2 Tahun

Kognitif: Belajar Pemecahan Masalah pada Anak Usia 1-2 Tahun

kurdefrin.com – Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangakan suatu kejadian atau peristiwa.

Proses kognitif bergubungan dengan tingkat kecerdasan atau intelegensi yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kedapa ide-ide dan belajar.

Kognitif itu mengandung pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati. Jadi, merupakan tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh dan menggunakan pengetahuannya.

Karaktreistik anak usia dini antara lain menggunakan semua indera untuk menjelajahi benda. Belajar melalui kegiatan motorik dan partispasi sosial.

Selain itu, rentang perhatian anak masih pendek, mudah bosan dan cepat berpaling jika ada rangsangan baru. Dan mengembangkan dasar-dasar keterampilan berbahasa, bermain-main dengan bunyi.

Karakteristik anak usia dini lainnya adalah memiliki perkembangan bahasa yang pesat. Aktif memperhatikan segala sesuatu tapi dengan rentang atensi yang pendek. Anak serba ingin tahu tentang dunianya sendiri.

Kemampuan kognitif pada anak uisa 1-2 tahun terdiri atas dua bagian. Pertama, belajar dan pemecahan masalah. Kedua, kemampuan berpikir logis.

Kemampuan belajar dan pemecahan masalah pada anak usia 1-2 Tahun terdiri atas 4 kemampuan. Pertama, menyebut beberapa nama benda, dan jenis makanan. Kedua, menanyakan nama benda yang belum dikenal.

Ketiga, mengenal warna dasar (Merah, Biru, Kuning, Hijau). Keempat, menyebut nama sendiri dan orang-orang yang dikenal.

1. Kemampuan Menyebut Nama Benda dan Jenis makanan

Kemampuan ini terbagi atas dua golongan, yaitu menyebutkan nama benda dan menyebutkan jenis makanan. Berikut ini penjelasannya.

a. Kemampuan Menyebutkan Nama Benda

Jika anak mampu menyebutkan nama benda maka anak sudah mengenal dan memahami benda. Ini menunjukkan adanya kemampuan kognitif pada anak usia 1-2 tahun.

Kita mengenal adanya benda hidup dan benda mati. Kita juga mengenal adanya benda konkret dan benda abstrak. Anak harus kenal pada jenis benda tersebut.

Kemampuan menyebutkan nama benda pada anak usia 1-2 tahun, kecenderungan anak bisa mmenyebutkan benda hidup, benda mati, dan benda konkret. Benda abstrak belum dapat dipahami oleh anak usia 1-2 tahun.

Benda hidup, benda mati, dan benda konkret yang diketahui anak adalah benda-benda yang sering ditemuia anak dalam kehidupan sehari-hari. Benda yang belum pernah dikenal anak menyebabkan anak tidak memahami benda tersebut.

Kemampuan menyebutkan nama benda dapat dikuasai seorang anak usia 1-2 tahun karena beberapa kemungkinan. Karena Ciri-ciri yang dimiliki benda tersebut.

Untuk benda hidup, misalnya: ayam, bebek, angsa karena berkaki dua. Kaki ayam tidak berselaput, kaki bebek dan angsa berselaput. Anak dapat menyebut nama tersebut karena melihat kakinya.

Anak dapat menyebutkan nama benda karena suaranya. Ciri pembeda ayam, bebek, dan angsa karena suaranya berbeda. Ayam berkokok, bebek menyebut nama dirinya wek-wek wek-wek, angsa bersuara ngoang-ngoang.

Kemampuan menyebut nama benda hidup lainnya adalah menyebut hewan berkaki empat. Anak akan memahami sapi dengan kambing. Sapi lebih besar dari pada kambing. Jadi, anak mengetahui perbedaan dari ukuran benda hidup.

Kemampuan menyebut nama benda mati pada anak usia 1-2 tahun, dapat diketahui dengan pertanyaan. Moms, bisa menanyai anak dengan menunjukkan benda yang akan ditanyakan.

Moms bisa menanyai nama-nama mainan yang dimiliki anak. Misalnya: Moms menunjuk puzzle, ini apa Nak? Mom menunjuk boneka, itu apa Nak? Moms menunjuk pianica: Ini Apak nak? Jika anak belum bisa menyebutkan benda yang ditunjuk, bantulah Moms.

Moms juga bisa menanyai nama-nama pakaian milik anak. Misalnya: Moms menunjukkan kaos,dan bertanya: Ini apa Nak? Kemudian Moms menunjukkan rok, dan bertanya: yang ini apa Namanya Nak? Moms menunjukkan pampers dan bertanya: ini apa Nak?

Moms bisa menanyai anak mengenai nama-nama peralatan makan. Misalnya: Moms menunjukkan sendok dan bertanya: Ini apa Nak? Moms menunjukkan piring atau mangkok, lalu bertanya pada anak: Yang ini apa Namanya, Nak?

Moms bisa menanyai nama-nama peralatan mandi anak. Misalanya: pertanyaan ini bisa Moms sampaikan sambil mandi. Moms menunjuk ke air, dan bertanya: ini apa nak? Moms menunjukkan sabun, dan bertanya: ini apa namanya? Moms menunjukan shampoo, dan bertanya: kalau yang ini apa Nak?

Kemampuan anak baru sebatas menyebutkan nama benda. Anak belum diarahkan untuk menyebutkan kegunaan atau fungsi benda-benda yang disebutkannya. Nanti, ya Moms, akan ada saatnya yang tepat.

Kita perlu memberi pengenalan masalah pada anak. Misalnya dengan pertanyaan ayam mempunyai kaki empat, salah atau benar ya, Nak? Suara bebek sama dengan suara ayam, ya Nak?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang memerlukan jawaban berupa analisis masalah. Kita bantu anak untuk menghitung kaki ayam. Bisa langsung melihat ayam, bisa juga melihat ayam lewat gambar atau video.

Nah, anak usia 1-2 tahun dapat memecahkan masalah setelah melihat bukti nyata. Anak melihat dan menghitung kaki ayam. Ternyata jumlahnya dua.

b. Kemampuan Menyebutkan Jenis Makanan

Kemampuan anak untuk menyebutkan jenis makanan dapat kita gali dengan pertanyaan juga. Anak dapat menyebutkan nama makanan karena ia sudah mempunyai pengalaman memakan jenis makanan tersebut.

Jika anak mempunyai pengalaman makan es krim, maka Ketika ditanya, anak bisa menyebut namanya. Moms menunjukkan es krim dan bertanya: ini apa namanya, Nak?

Selain karena mempunyai pengalaman, anak dapat menyebutkan nama makanan karena mencium aromanya. Misalnya Moms membuka buah jeruk, lalu bertanya ni aroma buah apa ya Nak?

Anak akan mampu menyebutkan nama makanan karena anak sering mengonsumsi makanan tersebut. Juga karena Moms sering menyebut-nyebut nama makanan tersebut.

Misalnya: Moms menunjukkan susu dalam botol susu dan bertanya: ini apa Nak? Moms menunjukkan roti kesukaannya, dan bertanya: Ini apa Namanya Nak? Tentu dengan mudah anak akan menyebutkan susu dan roti kesukaannya.

Agar anak lebih banyak mengenal jenis-jenis makanan, banyaklah anak dilibatkan dalam acara memasak. Gendonglah dan Ajak anak memasak. Tujuannya bukan anak membantu memasak, tapi mengenalkan aneka jenis makanan yang dimasak.

Moms bisa menanyakan aneka bahan sayur kepad anak: dengan menunjukkan bayam dan wortel, Moms bertanya: ini Apa? Yang Ini Apa?

Kalau anak belum bisa menjawab, jawablah sendiri Moms. ini bayam, ini wortel. Sambil mengeja agar anak melanjutkan menyebutkan nama bahan masakan yang ditunjukkan.

Moms bisa mengajak anak usia 1-2 tahun melihat aneka buah yang disediakan sebelumnya. Dalam wadah tertentu, Moms sudah menyediakan pisang, rambutan, anggur, jambu, apel, nanas, dll.

Sambil dipangku anak ditanyai. Moms pegang atau tunjuk buah pisang, dan bertanya: ini buah apa nak? Moms pegang buah anggur dan bertanya: Ini buah apa? Moms juga memegang buah apel, lalu bertanya: ini buah apa? Dst.

Untuk mengajari anak soal pemecahan masalah, Moms bisa membuat pertanyaan atau pernyataan yang salah dari kaidah sebenarnya. Misalnya buah yang Panjang itu namamya jambu ya, Nak? Yang rasanya asin itu namanya gula ya, Nak?

Lantas kita minta anak mencari jawaban. Kita ajak anak melihat dua jenis dua jenis buah. Buah pisang dan buah jambu. Anak diminta mengambil buah pisang. Kalau anak sudah mengambil buah pisang, lalu diminta ambil buah jambu.

Anak diajak membandingkan ya Moms. Buah pisang itu panjang. Buah jambu itu tidak panjang. Tapi bulat. Jadi, buah yang panjang namanya pisang.

2. Kemampuan Menanyakan Nama Benda yang Belum Dikenal

Untuk merangsang kemampuan menanyakan nama benda yang belum dikenal pada anak usia 1-2 tahun, dapat dilakukan dengan melatih anak bertanya. Selain itu, sediakan benda-benda yang belum dikenal anak sebagai media belajar.

Perlihatkan benda-benda seperti barang yang masih terbungkus, dll di hadapan anak. Pancing dia agar bertanya mengenai benda-benda tersebut. Jika anak belum menanyakan juga, berilah satu dua contoh pertanyaan sederhana.

Untuk memancing anak bertanya, Moms perlu siapkan aneka bendayang sekiranya belum dikenal anak. Misalnya bros, alroji, kacamata, mouse, topi. Moms juga bisa menyediakan aneka buah dan sayur pada anak seperti buah anggur, bit, sawo, apel. brokoli, wortel, dll.

Kemungkinan anak akan bertanya: Apa ini? Apa itu? Ni Apa? Tu Apa? Ini? Itu? Nunjuk? Anak bertanya sambil nunjuk pada benda yang ditanyakan. Bahkan anak bertanya hanya dengan menunjukkan bendanya saja, tanpa ada pertanyaan lisan.

Ketika anak bertanya apa ini apa itu, tentu kita sudah memberi jawaban. Kita mau mengetahui apakah anak sudah mengerti dengan nama benda dari jawaban kita atau belum, kita balik bertanya.

Kita pegang brokoli, kita tanyakan pada anak, Ini namanya apa? Harapan kita anak sudah mampu menjawab: “Bokoli.” Atau “koli.” Tapi, mungkin anak sudah lupa, karena anak baru mendengar kata brokoli satu kali.

Begitulah Moms, cara mengajak anak menanyakan nama benda yang belum dikenal. Anak diajak mencari dan menyelesaikan masalah dalam tahap paling awal.

3. Kemampuan Mengenal Beberapa Warna Dasar

Untuk melatih kemampuan anak mengenal warna dasar, kita ajak anak bernyanyi Moms. lagu Pelangi-pelangi. Di dalam lirik lagu tersebut, ada konsep warna.

Pelangi-pelangi alangkah indahmu.

Merah kuning hijau di langit yang biru

Pelukismu Agung siapa gerangan

Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan.

Anak akan mengenal konsep warna dasar dari lirik lagu di atas. yang terdiri atas: merah, kuning, hijau, biru. Kognitif: Belajar Pemecahan Masalah pada Anak Usia 1-2 Tahun

Belajar mengenal warna dasar sepertinya belum cukup Moms kalau hanya dengan bernyanyi lagu pelang-pelangi.  Anak masih belum paham mana warna merah, kuning, hijau dan biru.

Moms perlu menyediakan media belajar bagi anak usia 1-2 tahun seperti buku berisi gambar berwarna, kertas warna, spidol warna, balon warna, atau pasir berwarna-warni. Bisa juga kita siapkan potongan kayu yang sudah dicat berwarna merah, kuning, hijau, dan biru.

Moms bisa juga memanfaatkan permainan balok yang berwarna warni baloknya. Permainan ini sudah banyak tersedia di pasaran. Anak diminta mengelompokkan warna balok. Merah satu kelompok, kuning, hijau, dan biru juga masing-masing satu kelompok.

Jika anak sudah lancar mengelompokkan warna, anak kita beri tugas berikutnya. Misalnya anak diminta mengambil salah satu warna dan diserahkan pada Moms. ambilkan balok warna merah, Nak!

Latihan berikutnya, Moms menunjukkan balok warna biru, dengan menyebutnya balok warna merah. Nah, ini permasalahan baru bagi anak. Moms tanyakan pada anak, benarkah balok yang dipegang Momsn berwarna biru?

Anak yang sudah mengenal warna, tentu akan dengan cepat ia menjawab “salah” atau geleng kepala. Balok yang dipegang Moms bukan warna merah, tapi warna biru. Beri pujian Moms “hebaat.” Tepuk tangan juga boleh.

Moms, boleh juga tuh mengajak anak ke halaman rumah. Di sana anak diajak menyaksikan dedaunan. Ada daun yang berwarna hijau, kuning, dan merah. Ada bunya yang berwarna merah, kuning, dan putih. Tapi, warna dasar biru tidak ditemukan di taman.

Nah, itulah moms mengenalkan anak pada pemecahan masalah pengetahuan tentang warna dasar. Hal ini bisa dilatihkan secara terus-menerus.

Baca Juga:

Kemampuan Mereaksi Atas Rangsangan pada Anak Usia 0-12 Bulan

7 Kemampuan Kognitif pada Anak Usia 0-1 Tahun: Kenali Wajah

Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Macam-Macam Kecerdasan pada Anak

Mainan yang Dapat Meningkatkan Kecerdasan Intelektual Anak

4. Kemampuan Menyebut Nama Sendiri dan Orang-Orang yang dikenal

Kemampuan menyebut nama sendiri dan orang-orang yang dikenal pada anak usia 1-2 tahun dapat dilatih dengan cara mudah. Pertama, sering-sering saja Moms, menyebut atau memanggil nama anak, tentu anak akan bisa mengikutinya.

Saat Moms memanggil nama anak, indera pendengarannya akan merekam. Kemudian, menyimpan data tersebut dalam ingatan jangka panjangnya. Ketika ditanya seseorang, anak akan cepat menjawab pertanyaan dengan baik.

Kedua, anak diminta menirukan ucapan kita menyebut namanya. Lakukan pengucapannya pelan-pelan. Kalau perlu di eja tiap satu suku kata. Kalau sudah lancar, kita bisa menyebut kata pertama nama anak. Kemudian anak diminta melanjutkan kata kedua dst.

Misalnya: nama anak Moms terdiri atas dua kata: Delisha Orlin. Kita eja nama anak tiap satu suku kata. De…li…sha lalu sebut selengkapnya, Delisha. lalu kata kedua: Or….lin… selengkapnya menjadi Olin.

Selanjutnya, anak diminta melanjutkan menyebutkan namanya jika disebut nama depannya. Moms menyebutkan Delisha…. diharapkan anak akan melanjutkan nama berikutnya yaitu Olin.  Delisha….Olin. Delisha…Olin dan seterusnya.

Karena ucapan anak belum sempurna, maka ia belum bisa mengucapkan huruf [r]. Maka, kata Orlin, disebutnya dengan kata “Olin.”

Kemampuan anak menyebutkan namanya secara lengkap dengan baik, sangat bergantung pada stimulans yang Moms berikan. Jika anak tidak pernah mengenal nama lengkapnya, maka anak pun tidak akan mampu menyebut Namanya secara lengkap.

Latihlah daya ingat dan perhatian pada anak. Agar anak dapat menyebutkan namanya secara lengkap dengan percaya diri, maka moms harus selalu mengajak anak untuk mengingat namanya.

Ada pepatah bilang “Lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena ditempuh.” Jika kita inginkan anak lancar menyebutkan namanya dengan lengkap, maka latihlah berulang-ulang. Pasti anak akan cepat bisa.

Moms kan sudah tahu, kalau melatih anak itu bagai menyurat di atas batu. Lagi pula, perkembangan sel otak anak sedang berkembang dengan pesat. Maka, tidak terlalu sulit melatih anak menyebut nama lengkapnya.

Yang tidak boleh diabaikan saat melatih anak adalah mengajak anak memusatkan perhatian. Karena kemampuan mengingat seseorang ditentukan oleh kemampuan memusatkan perhatian.

Jika nama lengkap anak cukup panjang, latihlah dengan bertahap. Misalnya nama anak terdiri atas 4 kata. Kita latih anak menghafal dua kata dua kata. Contoh: Widya Ratna Kusuma Ningrum.

Moms bisa melatih dua nama bagian depan lebih dahulu yaitu Widya Ratna. Lakukan pengulangan sampai anak hafal. Pada saat berikutnya, barulah Moms tambahkan dua nama belakangnya, yaitu Kusuma Ningrum.

Moms, latihan menyebut nama pada anak usia 1-2 tahun dilanjutkan dengan Latihan yang berikutnya. Gunakan saja cara yang sama dengan cara melatih menyebutkan namanya sendiri.

Ketiga, lalu anak dilatih menyebut nama-nama orang dalam satu rumah. Anak dilatih menyebut nama ayah, nama ibu, nama kakak kalau ada, nama kakek nama nenek kalau ada dalam satu rumah.

Jika anak sudah mampu menyebut nama sendiri, dan nama-nama orang yang tinggal dalam satu keluarga, kita ajak latihan menyebut nama teman-teman di lingkungan rumah.

Selanjutnya, Moms perlu ajak anak belajar pemecahan masalah dalam kemampuan menyebutkan nama sendiri dan orang-orang terdekatnya. Moms bisa saja menyebut nama anak secara terbalik.

Misalnya, Moms memanggil anak dengan panggilan Orlin Delisha. Tentu anak akan serta merta mampu memecahkan masalah tersebut. Anak akan membetulkan sebutan namanya dengan kata Delisha Orlin.

Kognitif: Belajar Pemecahan Masalah pada Anak Usia 1-2 Tahun

Kemampuan anak membetulkan namanya yang disebutkan secara salah merupakan kemampuan kognitif anak yang berkaitan denganbelajar pemecahan masalah. Hebat kan Moms, anak usia 1-2 tahun sudah bisa belajar pemecahan masalah.

Tapi Moms harus rajin dan telaten mengajari anak menyelesaikan masalah. Tanpa ada stimulus yang berupa kesalahan, anak pun tidak akan merespon untuk memecahkan masalah.

Oleh karena itu, sering-seringlah Moms, memberi stimulans agar anak terpancing untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan memecahkan masalah adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi lho, Moms.

Dimana dalam kecakapan abad 21, kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat dibutuhkan. Hal ini penting sebagai bekal anak menghadapi tantangan dunia.

Latihan menyebutkan nama sendiri dan orang-orang terdekat dengan anak lumayan banyak. Hal ini dapat menjadi jadwal pelajaran yang Moms berikan pada anak setiap hari. Dengan begitu, kemampuan kognitif anak khususnya dalam belajar pemecahan masalah dapat berkembang.

Demikianlah Moms penjelasan mengenai kemampuan kognitif yang berkaitan dengan belajar pemecahan masalah pada anak usia 1-2 tahun. Semoga bermanfaat.

Referensi; dari Berbagai Sumber.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *