Latih Anak Usia 4-5 Tahun Paham Bahasa, Bedakan Bunyi Bahasa

Latih Anak Usia 4-5 Tahun Paham Bahasa, Bedakan Bunyi Bahasa

kurdefrin.com – Hai Moms, memahami bahasa adalah mengerti benar arti atau maksud dari sebuah bahasa. Bahasa yang dimaksud dapat berupa kata, kalimat atau paragraf bahkan teks.

Memahami bahasa berarti memahami arti kata dan kalimat. Dapat juga berarti memahami isi paragraf atau isi teks. Kemampuan memahami Bahasa harus dimiliki oleh setiap anak.

Hanya saja, tingkat kesulitan kata atau kalimat yang harus dimiliki oleh setiap anak itu berbeda. Tingkat kesulitan tentu saja disesuaikan dengan usia anak.

Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai kemampuan memahami Bahasa pada anak usia 4-5 tahun. Simak ya Moms.

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 4-5 tahun antara lain: menyimak perkataan anak lain (bahasa ibu atau bahasa lainnya). Anak juga harus mampu memahami cerita yang dibacakan.

Selain itu, anak usia 4-5 tahun harus dapat mengenal perbendaharaan kata mengenai kata sifat. Dan dapat membedakan bunyi-bunyian dalam Bahasa Indonesia (bunyi dan ucapan harus sama).

1. Menyimak Perkataan Anak Lain

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 4-5 tahun yang pertama adalah menyimak perkataan anak lain. Menyimak adalah mendengarkan sama artinya dengan mendengarkan.

Menyimak itu sama dengan memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan anak lain. Ucapan atau perkataan anak lain bisa bermacam-macam maksudnya.

Ada perkataan anak yang bermaksud memberi tahu. Anak yang diajak bicara akan menjadi tahu apa isi pemberitahuannya. Anak yang diberi tahu bisa memahami maksud pemberitahuannya.

Ada perkataan anak yang bermaksud memerintah.  Anak yang diajak berbicara akan melakukan isi perintahnya.

Ada perkataan anak yang bermaksud bertanya atau mencari tahu. Anak yang diajak berbicara akan menjawab pertanyaan atau memberi tahu.

Dalam hal menyimak perkataan anak lain, Bahasa yang digunakan Bahasa ibu atau bahasa lainnya. Bisa bahasa Indonesia, bisa juga Bahasa Inggris.

Bahasa Ibu adalah bahasa yang diajarkan pertama kali pada anak. pada umumnya, anak Indonesia menggunakan Bahasa daerah sebagai Bahasa ibu.

Di Indonesia, banyak terdapat bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu. Ada bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Madura, Bahasa Bali, dan masih banyak Bahasa daerah lainnya.

Aneka jenis bahasa daerah itu, cenderung menjadi Bahasa Ibu di wilayah daerah tertentu. Bahasa Jawa misalnya. Bahasa Jawa cenderung menjadi Bahasa Ibu bagi anak-anak daerah Jawa Tengah dan jawa Timur.

Bahasa Sunda cenderung menjadi bahasa Ibu bagi anak-anak di Jawa Barat. Begitu juga dengan Bahasa Madura dan bahasa Bali. Kedua Bahasa tersebut akan menjadi Bahasa ibu bagi anak-anak Madura dan anak-anak Bali.

Kemampuan menyimak perkataan anak lain dapat efektif jika anak memiliki latar belakang bahasa ibu yang sama. Sebaliknya, Kemampuan menyimak perkataan anak lain tidak efektif jika anak memiliki latar belakang bahasa ibu yang berbeda.

Anak-anak di daerah Jawa Tengah, selalu berkomunikasi dalam bahasa Jawa pada saat mereka bermain bersama-sama. Pada saat mereka bertanya, memberi tahu, bercakap-cakap, menyuruh, dll selalu menggunakan bahasa daerah yaitu Jawa.

Contoh percakapan anak-anak di daerah Jawa Tengah pada beberapa kegiatan, meliputi: perkenalan, permainan, ulang tahun, hobi, aktivitas, makanan, dan lain-lain.

Contoh sederhana percakapan anak tentang pengucapan salam dan memperkenalkan teman menggunakan Bahasa Jawa.

Orlin   : Hai, Salsa

Salsa  : Halo, Orlin, piye kabare?

Orlin   : Apik, Lah koe piye?

Salsa  : Aku, yo apik.

Orlin   : Salsa, kenalke, iki dulurku.

Salsa  : Aku, Salsa. Dulure Orlin nggih?

Rani   : Aku Rani, nggih, leres.

Orlin, Salsa, dan Rani dalam percakapan anak di atas termasuk komunikasi yang bagus dan komunikatif. Karena ketiga anak tersebut memahami maksud perkataan dari masing-masing pembicara.

Contoh sederhana percakapan anak tentang hobi dengan menggunakan bahasa Jawa.

Didi     : Kowe senenge apa nek sore balik sekolah?

Dodi    : Aku senenge bal-balan.

Didi     : Apa iya, aku ya seneng bal-balan.

Didi     : Awake dewek duwe hobi pada ya.

Dodi    : Lah kowe bal-balan ping pira saben minggune?

Didi     : Aku bal-balan saben sore, ra tau leren.

Dodi    : Nek aku saben Setu minggu.

Anak-anak di Daerah Jawa Barat Juga demikian.  Mereka selalu berkomunikasi dalam bahasa Sunda pada saat mereka bermain bersama-sama.  Atau pada saat apa saja yang mereka lakukan.

Anak-anak bertanya, memberi tahu, bercakap-cakap, menyuruh, dll. selalu menggunakan bahasa Sunda dengan sesama temannya.

Percakapan anak-anak menggunakan bahasa Sunda mengenai bermacam-macam hal. Bisa tentang hobi, makanan, permainan, perkenalan, aktivitas, ulang tahun, dll.

Contoh sederhana percakapan anak tentang pengucapan salam dan memperkenalkan teman menggunakan bahasa Sunda.

Orlin   : Hai, Salsa

Salsa  : Halo, Orlin, kumaha wartosnya?

Orlin   : Sae, anjeun kumaha?

Salsa  : Sae ugi.

Orlin   : Salsa, kenalkeun yeuh sadulur urang.

Salsa  : Abdi Salsa. Sederekna Orlin nya?

Rani   : Kuring Rani, muhun saderekna Orlin.

Contoh sederhana percakapan anak tentang hobi dengan menggunakan bahasa Sunda.

Didi     : Anjeun sok kumaha ari balik sakola?

Dodi    : Abdi mah seneng kana ulinan bal.

Didi     : Muhunnya, atuh sarua bae sareng kuring.

Didi     : Anjeun sareng kuring gaduh kasenengan sarua nya.

Dodi    : Iraha anjeun ulinan balna?

Didi     : Kuring mah unggal poe ari sore.

Dodi    : Kuring ungal poe Sabtu sareng Minggu bae.

Dari contoh-contoh bercakapan anak tersebut, sebenarnya perkataan akan dipahami apabila anak-anak mempunyai latar belakang yang sama. Anak-anak berasal dari daerah yang sama.

Jadi, perkataan teman lain dapat dipahami lebih cepat jika anak mempunyai latar belakang daerah yang sama.

Selain itu, perkataan anak lain dapat dipahami dengan baik jika perkataan itu disampaikan dengan jelas. Baik ucapannya maupun nada bicara sangat mempengaruhi pemahaman anak yang diajak berbicara.

Dari sisi anak yang menyimak perkataan, juga memperngaruhi pemahaman. Jika anak menyimak dengan baik, dan konsentrasi, maka perkataan pun akan didengar, disimak, dan dipahami dengan mudah.

2. Memahami Cerita yang Dibacakan

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 4-5 tahun yang kedua adalah memahami cerita yang dibacakan. Seorang anak dapat dikatakan memahami cerita jika ia bisa menceritakan kembali isi cerita yang didengarnya.

Selain itu, anak dapat menjawab pertanyaan mengenai hal yang didengarnya dari cerita yang dibacakan. Pertanyaan yang diberikan bisa meliputi apa, siapa, dimana, kapan, mengapa,dan bagaimana.

Misalnya, anak dapat memahami nama tokoh dan sifatnya dalam cerita.  Anak juga memahami tempat dan waktu dimana dan kapan terjadinya peristiwa dalam cerita. Anak dapat menirukan cerita yang dibacakan, dll.

Cara melaksanakan kegiatan ini tidaklah sulit. Pertama, siapkan buku cerita anak yang akan dibacakan. Pilih yang menarik. Cerita fabal, sage, mite mungkin jadi alternatif pilihan cerita yang mau Bunda bacakan.

Kemudian, Bunda mengajak anak duduk bersama. Ajak anak mendengarkan cerita yang dibacakan Bunda.

Amati perhatian dan konsentrasi anak, apakah dia benar-benar antusias mendengarkan cerita yang dibacakan atau tidak. Kalau anak tidak respek untuk mendengarkan, Bunda ubah gaya membacakan ceritanya agar lebih menarik.

Bunda, membacakan cerita harus ekspresif ya, agar anak tertarik untuk mendengarkan cerita yang dibacakan Bunda. Rasa tertarik akan berpengaruh pada pemahaman terhadap isi cerita.

Selain ekspresif, suara Bunda saat membacakan cerita harus berubah-ubah menyesuaikan karakter tokoh cerita. Suara orang tua harap dibedakan dengan suara anak muda.

Membacakan cerita kapada anak akan baik jika disertai dengan mimik, intonasi, aksentuasi, dan gestur pembacanya. Latih Anak Usia 4-5 Tahun Paham Bahasa, Bedakan Bunyi Bahasa

Jika itu semua sudah dilakukan, Bunda akan merasakan hasilnya. Anak akan dapat memahami dengan baik cerita yang dibacakan Bunda.Berikut ini disajikan bahan cerita yang harus dipahami oleh anak.

Tupai dan Ikan Gabus

Ayam dan Ikan Tongkol

Di suatu telaga, hiduplah seekor tupai yang bersahabat dengan seekor ikan gabus. Persahabatan mereka sangat erat.

Suatu hari, ikan Gabus sakit. Berhari-hari ia tidak mau makan. Ikan Gabus hanya mau makan hati ikan Yu.

Mendengar permintaan ikan Gabus, tupai aga terkejut. Karena,ikan Yu itu adalah seekor ikan yang sangat kuat, besar dan ganas.

Tapi,Tupai tetap akan mencari demi temannya yaitu ikan Gabus yang sakit itu. Lalu, Tupai meninggalkan tempat ikan gabus beristirahat.

Kemudian, Tupai mencari pohon kelapa. Ia masuk ke dalamnya lalu pergi kelaut. Tupai pun akhirnya sampai di laut.

Sesampai di laut, tiba-tiba muncul seekor ikan Yu. Ikan Yu langsung melahap pohon kelapa yang ada Tupainya itu.

Lalu, Tupai pun keluar dari pohon kelapa yang ada di dalam perut ikan Yu.

Ia pun langsung menggerogoti hati ikan Yu.

Ikan Yu akhirnya mati dan terseret ke pantai. Dengan senang hati, ia mendapatkan hati ikan Yu.

Lalu, Tupai memberi makan ikan Gabus dengan hati ikan Yu.  Ikan Gabus pun sembuh. Dan mereka bahagia menjadi dua sahabat yang bisa saling menolong.

 

 

Dulu ada Raja bangsa Ayam bernama Kukuru. Dan raja bangsa Ikan Tongkol bernama Halili. Mereka pun berkenalan dan menjadi sahabat karib.

Ayam sering mengajak Tongkol ke darat. Merekan bermain di daratan. Begitu juga dengan Tongkol. Tongkol sering mengajak ayam bermain di lautan.

Suati hari, Kukuru bercerita kepada Halili bahwa akan ada pesta dansa di kampung nelayan. Di sana ada makanan lezatdan tari-tarian yang bagus.

Halili pun ingin pergi ke pesta itu. Kukuru pun sanggup mengantar Halili ke pesta di kampung nelayan itu.

Sore itu Kukuru mengajak bangsa ikan Tongkol pergi ke pesta di kampung nelayan itu. semua ikan Tonggkol dan Ayam pun pergi ke pesta itu. Sebelum berangkat, Halili berpesan agar ia diberi tahu jika waktu fajar telah tiba.

Pesta pun berlangsung meriah. Kukuru, Halili dan para rakyat amat senang. Karena kekenyangan, mereka pun tertidur. Tanpa disadari, fajar telah semakin tinggi.

Lalu terjadi kehebohan karena ikan Tongkol ditanggap para nelayan. Karena itu, ikan Tongkol mengutuk semua bangsa ayam menjadi buta pada malam hari.

Dan bersumpah, akan memakan semua bangsa aayam yang dating ke laut. Karena itu, para nelayan lebih mudah memancing ikan tongkol dengan bulu ayam.

Untuk mengetahui apakah anak memahami isi cerita di atas, berilah anak beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan cerita tersebut. Gunakan saja kata tanya apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana.

Contoh:

Kalimat Tanya untuk cerita Tupai dan ikan Gabus.Kalimat tanya untuk cerita Ayam dan Ikan Tongkol
  1. Apa judul cerita tadi?
  2. Siapa yang sakit?
  3. Dimana tempat tinggal Ikan Gabus?
  4. Kapan Ikan gabus sakit?
  5. Mengapa Tupai masuk ke dalam pohon kelapa?
  6. Bagaimana keadaan Ikan Gabus setelah makan hati Ikan Yu?
  7. Coba Ceritakan lagi isi cerita Tupai dan Ikan gabus!

 

  1. Cerita tadi tentang apa ya, Nak?
  2. Siapa yang bersahabat dalam cerita tadi?
  3. Dimana Halili Raja bangsa Ikan Tongkol dan rakyatnya berpesta?
  4. Kapan bangsa Kukuru mengajak pergi ke pesta di kampung nelayan?
  5. Mengapa Halili mengutuk bangsa ayam?
  6. Bagaimana nasib Halili dan rakyatnya?
  7. Cerita singkatnya bagaimana Nak?

Anak pun diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika anak dapat menjawab, ini berarti anak sudah dapat dikatakan memahami isi cerita.

Sebaliknya, jika anak belum bisa menjawab pertanyaan tadi, berarti anak belum dapat dikatakan mampu memahami ini cerita. Barangkali, pada kesempatan lain, Moms bisa membacakannya lagi.

3. Mengenal Perbendaharaan Kata

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 4-5 tahun yang ketiga adalah Perbendaharaan kata adalah kekayaan kosakata. Perbendaharaan kata yang harus dikenal oleh anak usia 4-5 tahun adalah perbendaharaan kata mengenai kata sifat.

Artikel terkait:

4 Tips Berbahasa Pada Anak Usia 3-4 Tahun: Pahami 2 Perintah

Ajari Anak Usia 2-3 Tahun Cerdas Bahasa: Pakai 7 Kata Tanya

9 Tips Tingkatkan Kemampuan bahasa pada Anak Usia 1-2 Tahun

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

4 Kemampuan Bahasa pada Anak Usia 2-3 Tahun: Latih Pelafalan

Kata sifat adalah kata yang menyatakan watak seseorang atau benda. Misalnya: nakal, pelit, baik hati, berani, baik, jelek, dan sebagainya. Kata sifat juga bisa disebut adjektiva.

Ada cara menarik agar anak mengenal kata sifat lebih banyak. Anak diminta menghafal abjad atau alfabetis lebih dahulu. Jumlah alfabetis dalam Bahasa Indonesia ada 26. Dimulai huruf a,b, c, ….y,z.

Kata sifat yang menggambarkan watak manusia dimulai dengan huruf a adalah agresif, ahli, aneh. Kemudian anak ditanya arti dari kata sifat yang dimulai dengan huruf a.

“Agresif” artinya bersifat menyerang. “Ahli” artinya mahir, dan “aneh” artinya tidak seperti biasanya.

Dilanjutkan dengan kata sifat yang yang menggambarkan watak manusia dan diawali dengan huruf b. Misalnya: baik, banyak, bagus, dll.

Artinya kata sifat tersebut adalah baik artinya bagus. Banyak artinya tidak sedikit, bagus artinya baik. kata “batil” artinya tidak benar.

Kata sifat yang menggambarkan watak manusia dimulai dengan huruf c misalnya “cantik”. Kata “cantik” mempunyai arti elok, molek, atau indah. Ceroboh artinya tidak sopan atau kasar. Congkak artinya sombong.

Kata sifat yang menggambarkan watak manusia lainnya adalah dahsyat artinya hebat, mengerikan, amat sangat. Damai artinya tidak ada perang. Detail artinya sangat rinci ddan teliti.

Kata sifat yang menggambarkan watak manusia lainnya lagi dan dimulai dengan huruf e adalah erat artinya sangat kuat. Emosi artinya marah. Etis artinya sopan.

Itulah Moms, cara menarik mengajari anak untuk mengenal perbendaharaan kata. Fokuskan perbendaharaan kata yang berkaitan dengan sifat atau watak anak.

Dengan cara seperti itu, perbendaharaan kata pada anak dapat bertambah. Selain itu, cara ini juga bermanfaat bagi anak untuk mengenal bermacam-macam watak manusia.

4. Membedakan Bunyi-Bunyian dalam Bahasa Indonesia

Kemampuan memahami bahasa pada anak usia 4-5 tahun yang keempat adalah membedakan bunyi-bunyi bahasa dalam Bahasa Indonesia. Membedakan bunyi bahasa itu dapat berupa kemampuan menjelaskan bunyi bahasa yang sama.

Bunyi bahasa yang sama itu adalah kata-kata yang mempunyai persamaan ucapannya. Selain itu, kata-kata tersebut mempunyai bunyi-bunyi bahasa yang sama. Arti yang didukung oleh kata-kata itu juga harus sama. Tapi, bisa juga beda.

Kata-kata yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah contoh kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sama bunyi dan ucapannya.

Misalnya: kata “anak” diucapkan [a n a k], bunyinya juga sama [a n a k]. Makna kata “anak” dalam KBBI adalah keturunan.

Contoh lainnya adalah kata “usia” harus diucapkan [u s i a], bunyinya juga [u s i a]. Makna kata “usia” adalah umur.

Berbeda dengan kata “cocacola” tulisannya [c o c a c o l a]. Kata tersebut harus diucapakan [ k o k a k o l a]. kata tersebut tidak sama antara tulisan dan bunyinya.

Arti yang didukung oleh kata-kata yang bunyi dan ucapan sama tapi, bisa beda artinya. Simak contohnya berikut ini.

Latih Anak Usia 4-5 Tahun Paham Bahasa, Bedakan Bunyi Bahasa

Misalnya: kata “bisa” diucapkan [b i s a] bunyinya jika diucapkan sama yaitu [b i s a]. Makna kata tersebut adalah “dapat.” Contoh kalimatnya: Anak itu bisa main puzzle.

Dalam kalimat lainnya, kata “bisa” mempunyai arti “racun”. Misalnya dalam kalimat: “Bisa ular membahayakan manusia.”

Kata “kali” harus diucapkan sesuai dengan huruf-huruf yang digunakan yaitu [k a l i] bunyinya juga harus sesuai dengan huruf yang digunakan yaitu [k a l i] yang bermakna “sungai”.

Kata “kali” dalam kalimat lain mempunyai arti yang berbeda. Misalnya dalam kalimat “Dua kali dua sama dengan empat.” Kata “kali” dalam kalimat tersebut bermakna “kelipatan.”

Kata “genting” diucapkan [g e n t i n g], bunyinya juga [g e n t i n g] artinya adalah atap. Dalam kalimat lain bisaberarti “darurat.” Contoh: Saat ini situasi sedang genting. Kata genting dalam kalimat tersebut adalah “darurat.”

Demikianlah penjelasan mengenai kemampuan memahami bahasa pada anak usia 4-5 tahun. Kemampuan itu terdiri atas: kemampuan menyimak perkataan Anak lain (bahasa ibu atau bahasa lainnya).

Kemampuan memahami bahasa lainnya adalah anak juga harus mampu memahami cerita yang dibacakan, dan mengenal perbendaharaan kata mengenai kata sifat. Dan dapat membedakan bunyi-bunyian dalam Bahasa Indonesia (bunyi dan ucapan harus sama).

Semoga dapat menambah wawasan. Terima kasih atas kunjungannya. Dan sampai jumpa pada artikel berikutnya di kurdefrin.com.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *