Latihkan Kecerdasan Moral Bayi-Remaja, Hadapi Tuntutan Dunia

Latihkan Kecerdasan Moral Bayi-Remaja, Hadapi Tuntutan Dunia

kurdefrin.com- Kata “moral” mempunya arti ajaran baik buruk yang diterima mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb. Selain  itu, kata “moral” dapat juga bermakna kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, dan berdisiplin (KBBI).

Pengertian “cerdas” zaman sekarang sudah berubah dan berkembang dengan dengan pesat. Patokan kecerdasan seseorang tidak dilihat dari IQ (Intelegence Quotient) saja, tetapi dilihat juga dari EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), dan CQ (Creativity Quotient). Kini muncul aspek kecerdasan baru yang akan menambah kualifikasi kecerdasan seseorang yaitu MQ (Moral Quotient).

Kecerdasan moral merupakan tipe kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan untuk memahami tuntutan  yang ada di lingkungan, mengetahui apa yang baik dan yang buruk. Kecerdasan Moral merupakan kemampuan untuk memahami benar dan salah, serta pendirian yang kuat untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan norma moral (Michele Borba, Ed.D)

Anak yang memiliki kecerdasan moral akan mampu membedakan ajaran baik dan buruk. Selain itu, anak mampu melakukan perbuatan yang dapat diterima oleh masyarakat umum. Anak juga dapat bersikap dengan baik sehingga dapat diterima oleh masyarakat.

Kondisi mental yang baik akan dimiliki seorang Anak yang memiliki kecerdasan moral yang baik. Kondisi mental yang baik dapat membangkitkan sikap berani, bersemangat, dan berdisiplin dalam segala hal. Kondisi mental yang baik akan membawa kesuksesan pada anak kelak dewasa.

Tantangan orang tua kini makin canggih. Selain berupaya mengisi otak anak dengan berbagai ilmu pengetahuan, orang tua dituntut mengisi hati anak dengan sederet kebaikan aspek kecerdasan moral. Seperti rasa empati, jujur, adil, disiplin, berani, bersemangat, dan lain-lain. Tantangan ini akan menjadi ringan apabila orang tua mengajari anak sejak dini.

Kecerdasan moral merupakan panduan antara faktor genetik dan bentukan lingkungan di sekitarnya (Nessi Purnomo, Psi. Msi). Perkembangan moral seorang anak sejalan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu Sensori Motor 0-2 tahun, Pra-Operasional Konkret (2-7), Operasional Konkret 7-11 tahun, Operasional Formal 11 tahun ke atas). Seorang anak usia 5-6 tahun mulai berperilaku baik karena ia sudah melihat dan memahami konsekuensinya.

Baca Juga:

Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Kecerdasan moral akan menjadi bekal anak kelak berhadapan dengan dunia yang makin kompleks. Kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan anak akan kurangnya bekal kecerdasal moral. Karena anak sudah membawa kecerdasan moral sejak lahir (genetik), dan juga kecerdasan moral bisa dibentuk atau dilatih.

Kini, orangtua mempunyai PR untuk membentuk atau melatih anak agar memiliki kecerdasan moral yang baik. Tapi, orang tua perlu menambah bekal pengetahuan dalam membentuk kecerdasan moral anak yang diawali dengan mengetahui tahap perkembangan moral pada anak agar melatih anak sesuai dengan usianya.

1. Tahapan Perkembangan Moral

a. Bayi

Seorang bayi belum memiliki kapasitas untuk mengembangkan kecerdasan moralnya. Ia hanya memiliki rasa benar dan salah terhadap sesuatu yang berlaku untuk dirinya sendiri. Kondisi benar salah ini berlangsung hingga bayi berusia 12 bulan.

Contohnya: bagi bayi, rasa lapar, haus, gerah, basah popoknya, dan lain-lain itu salah. Sebaliknya, kenyang, tidak haus, nyaman, kering popoknya, dll itu benar bagi bayi. Digendong, dibelai, diajak berbicara, disusui merupakan perbuatan benar di mata bayi.

b. Batita

Batita artinya bawah tiga tahun lebih dari satu tahun. Menginjak usia satu tahun lebih, kecerdasan anak mulai berkembang. Ia tidak hanya tahu benar dan salah. Tapi juga belum tahu menilai sesuatu itu benar salah. Ia hanya berpatokan pada perkataan orang tuanya.

Sebagai contoh, anak belum mengerti dan belum menyadari bahwa memukul atau mencubit orang lain itu merupakan tindakan yang salah, karena menyakiti orang lain. Anak baru mengerti atau menyadari bahwa tindakannya itu salah setelah orang tua atau orang di sekitarnya mengatakan salah. Ia akan diberi hukuman atau sanksi karena memukul atau mencubit.

c.Pra-sekolah (3-7 tahun)

Inilah saatnya seorang anak mengetahui pelajaran kecerdasan moral. Inilah saatnya orang tua mulai memasukkan nila-nilai keluarga dalam diri seorang anak.  Apa-apa yang penting bagi orang tua akan menjadi penting bagi anak. Dalam tahap ini orang tua mulai dapat mengarahkan perilaku anak karena ia mulai memahami bahwa apa yang dilakukan akan mempengaruhi orang lain.

Di sini, orang tua mulai dapat mengarahkan perilaku anak. Arahkan anak untuk berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku. Baik aturan dalam berkeluarga, maupun dalam lingkungan masyarakat. Kedua aspek tersebut tentunya memiliki aturan yang berbeda.

Misalnya, aturan dalam keluarga, aturan makan, contohnya yang sederhana. Kita harus mengarahkan anak mencuci tangan, dan berdoa sebelum makan. Anak juga diarahkan agar tidak boleh berbicara saat makan, tidak boleh berkecap, makanan tidak boleh tumpah dan berantakan, dll.

Latihkan Kecerdasan Moral Bayi-Remaja, Hadapi Tuntutan Dunia
Latihkan Kecerdasan Moral Bayi-Remaja, Hadapi Tuntutan Dunia

Aturan dalam masyarakat, aturan bermain bersama teman, contohnya. Anak tidak mencubit, memukul, menendang teman, tidak merebut mainan milik teman, dll. Anak sudah berperilaku baik karena anak sudah tahu bahwa ia akan kena marah orang tua.

d. Usia Sekolah (7-10 tahun)

Otoritas orang dewasa ( ayah, Bunda, guru, dsb) tidak lagi terlalu “menakutkan” buat anak usia sekolah. Seorang tetap tahu bahwa orang tua adalah sosok yang harus ditaati. Anak juga tahu jika melanggar aturan, maka ia harus memperbaikinya. Perasaan bahwa “ini” benar dan itu salah sudah meulai tertanam kuat dalam diri seorang anak.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah anak usia sekolah sudah mulai memilah perilaku. Perilaku apa yang akan mendatangkan keuntungan, dan kerugian. Misalnya anak setuju membantu adik mengerjakan PR asalkan orang tua memberinya izin nonton film kartun sesudahnya.

e. Pra-Remaja dan Remaja

Pada usia ni anak akan berusaha untuk menjadi populer. Tekanan teman sebaya dan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya akan membuat mereka terus memilah mana nilai-nilai yang akan menjadi bagian dari dirinya.

Pra-Remaja dan remaja mungkin akan terombang-ambing dan mencoba nilai yang berbeda dengan nilai keluarga untuk melihat mana yang cocok. Bisa jadi, nilai keluarga yang telah dianutnya sejak lama justru dibuang karena ‘kalah’ dengan nilai baru yang diperolehnya dari lingkungan luar.

Artikel terkait:

6 Cara Melatih Anak Bertanggung Jawab Mulai dari Hal Kecil

Misalnya, anak akan melepas sepatu dan meletakkannya dengan rapi di rak sepatu setiap pulang sekolah merupakan hasil arahan dari orang tua dari rumah. Orang tua tidak pernah absen, selalu mengingatkannya untuk melakukan hal itu. Kalau anak lupa meletakkan sepatunya di rak, ia akan mendapat teguran dari orang tua terutama dari Bundanya.

“Pada usia yang lebih besar, anak mulai bisa berpikir lebih jauh. Ia akan melakukan sesuatu bila adakeuntungannya buat dia” (Nessi)

Misalnya, ketika anak diminta untuk membereskan tempat tidurnya sendiri, ia mungkin akan mencoba melakukan proses negosiasi dengan Bunda. Ia akan meminta imbalan atau minta dibebastugaskan dari pekerjaan rumahnya.

Bunda, ada 7 kebaikan utama yang diperlukan untuk membangun kecerdasan moral seseorang (Michele Borba, Ed.D.) Kebaikan itu adalah

a. Empati

Kebaikan empati akan membuat anak menjadi peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Anak juga peka untuk menolong orang yang kesusahan atau kesakitan. Anak juga dituntut untuk memiliki rasa kasihan dan keinginan untuk membantu saat melihat anak menangis karena jatuh. Bahkan anak bertanya, “Apanya yang sakit?”

b. Hati Nurani

Kebaikan hati nurani akan selalu membantu anak memilih jalan yang benar, tetap berada di jalur yang bermoral, membuat dirinya bersalah ketika menyimpang dari patokan. Kebaikan ini akan membentengi anak dari pengaruh buruk dan membuatnya mampu bertindak dengan benar meskipun ada godaan.

Tapi ingat Bunda, orang tua berkewajiban mengasah hati nurani anak. Kita kenalkan mana yang boleh dan yang tidak boleh, mana yang baik dan yang tidak baik. Kita kenalkan akibatnya bagi yang melanggarnya. Tidak instan Bunda, lakukan sejak dini dan terus menerus sampai hati nurani anak yang menjadi salah satu kecerdasan moral anak benar-benar terasah.

c. Kontrol diri

Kebaikan kontrol diri akan membantu anak menahan dorongan dari dalam dirinya dan berpikir sebelum bertindak. Tujuannya adalah agar anak melakukan hal yang benar dan menghindari tindakan yang akan menimbulkan keburukan. Kebaikan ini akan membantu anak menjadi mandiri karena ia  bisa mengontrol dirinya.

Misalnya, latihlah anak dengan baik dan benar. Orang tua tidak selalu menuruti keinginan anak. Orang tua juga harus membiasakan anak menunggu dan sabar. Orang tua tidak perlu melakukan hal yang serba siap, serba instan, serba memberi kemudahan pada anak.  Itu tidak melatih kotrol diri anak.

d. Menghormati Orang Lain

kebaikan ini mengarahkan anak memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingir orang lain memperlakukan dirinya. Hal ini mengandung maksud agar anak tidak bertindak kasar, tidak adil, dan memusuhi orang lain. Jika terbiasa bersikap hormat pada orang lain, anak akan memperhatikan hak-hak serta perasaan orang lain. Pada akhirnya, ia juga akan menghormati dirinya sendiri.

Artikel terkait
9 Cara Sederhana Mendisiplinkan Anak Mulai dari Rumah

Untuk melatih, biasanya anak akan memperhatikan dan mendengarkan saat orang lain bicara. Anak anak mengucapkan “Terima kasih” apabila sudah mendapatkan sesuatu dari orang lain. Anak akan bicara “Tolong” jika ia membutuhkan bantuan dari orang lain. Anak akan mengucapkan “Maaf” bila ia merasa berbuat salah.

e. Kebaikan Hati

Kebaikan  hati akan membantu anak agar mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain. Hasil dari mengembangkankan kebaikan ini adalah anak menjadi berbeas kasih, tidak egois, serta menyadari bahwa  perbuatan baik merupakan tindakan yang benar.

Bunda, PR kita adalah membiasakan. Biasakanlah anak untuk berbagi atau bertukar makanan, bertukar makanan, atau mengajak anak memberikan sesuatu ke panti asuhan. Pengalaman itu jauh lebih berharga daripada sekadar membaca teori. Maka, lebih baik anak diajak untuk melakukannya.

f. Toleransi

Kebaikan toleransi membuat anak mampu menghargai perbedaan kualitas dalam diri orang lain, dan membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru. Anak juga mampu menghargai orang lain tanpa membedakan suku, gender, penampilan, budaya, kepercayaan, kemampuan, dan orientasi seksual. Kebaikan ini membuat anak dapat memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh pengertian.

Bunda bisa melatihnya dengan cara menunjukkan perbedaan warna kulit orang melalui internet. Mereka tetap bisa bermain bersama. Lalu jelaskan pada anak bahwa perbedaan warna kulit, tidak menjadi masalah. Mereka memiliki kesukaan yang sama, yaitu bermain.

g. Keadilan

Kebaikan ini akan menuntun anak agar memperlakukan orang lain dengan baik, yidak memihak, adil dan mematuhi aturan. Selain itu, anak mau bergiliran, berbagi, serta mendengar semua pihak secara terbuka sebelum memberi penilaian apapun.

Artikel terkait:

Ciri, Manfaat dan Cara Mengembangkan Sifat Jujur pada Anak

Bunda bisa melatih anak bersikap adil dengan memberi contoh. Misalnya, saat anak bertengkar dengan temannya, jadilah bunda wasit yang adil, tidak memihak kepada anak sendiri, dan menyalahkan anak lain. Dengarkan penjelasan dari kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan. Dengan begitu, anak belajar untuk tidak secepatnya menyalahkan pihak lain.

Latihkan Kecerdasan Moral Bayi-Remaja, Hadapi Tuntutan Dunia

Bunda, kecerdasan moral pada anak harus diajarkan, dilatih, dibiasakan, dan diteladani. Sejak tahapan awal, saat anak usia 3 tahun dapat menerima pelajaran kecerdasan moral dari orang tua dan orang-orang sekitarnya. Bunda harus benar-benar melatih kecerdasan moral Buah hati agar dapat menghadapi tantangan zaman.

Demikian penjelasan mengenai kecerdasan moral bayi-Remaja agar siap menghadapi tuntutan dunia. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *