Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

kurdefrin.com – Kemampuan berbahasa secara umum terdiri atas kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan berbahasa pada bayi usia 0-1 tahun baru mencapai dua jenis saja yaitu kemampuan mendengarkan, dan kemampuan berbicara.

Kemampuan mendengarkan berhubungan erat dengan keterampilan menerima dan memahami informasi melalui alat pendengaran. Sedangkan, kemampuan berbicara adalah keterampilan menyampaikan maksud atau ide tertentu kepada orang lain.

Pada artikel ini akan dibahas mengenai kemampuan berbahasa pada bayi usia 0-1 tahun. Ini berarti fokus pembahasan dalam artikel ini berada dalam lingkup kemampuan mendengarkan dan kemampuan berbicara.  Kemampuan mendengarkan seorang bayi sebenarnya sudah dimulai sejak dalam kandungan.

Sedangkan kemampuan berbicara dimulai sejak anak sudah lahir. Begitu bayi dilahirkan ke dunia, ia sudah bisa berbicara, hebat ya. Wujud berbicaranya adalah menangis. Mari kita mulai pembahasannya.

Kemampuan berbahasa pada bayi usia 0-1 tahun berada pada tahap pralinguistik. Dalam tahap ini bayi berkomunikasi dengan bahasa simbol untuk mengekspresikan maksud tertentu. Misalnya menangis, berteriak, bergumam, tertawa.

Bayi akan menangis jika lapar, haus, risih karena mungkin pampers penuh, dll. Bayi juga akan tertawa jika ia merasa senang dan Bahagia saat digendong Bundanya.

Secara rinci kemampuan berbahasa pada anak usia 0-1 tahun terdiri atas: kemampuan berbahasa pada anak usia 0-3 bulan. Kemampuan berbahasa pada anak usia 0-3 bulan adalah menangis, berteriak, bergumam.

Kemampuan berbahasa pada anak usia 3-6 bulan: memperhatikan atau mendengarkan ucapan orang, meraban atau berceloteh (babbling) seperti ba ba ba, dan tertawa kepada orang yang mengajak berkomunikasi.

Kemampuan berbahasa pada anak usia 6-9 bulan adalah menirukan kata yang terdiri dari dua suku kata, merespon permaian “cilukba.” Kemampuan berbahasa pada anak usia 9-12 bulan: menyatakan penolakan dengan menggeleng atau menangis, menunjuk benda yang diinginkan

A. Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia 0-3 Bulan

Kemampuan berbahasa pada bayi usia 0-3 bulan adalah menangis, berteriak, bergumam. Kemampuan ini termasuk kemampuan berbicara. Untuk menyampaikan maksud atau keinginannya, bayi hanya bisa bersuara dengan tangisan, teriakan, dan bergumam.

Karena, alat ucap pada bayi belum semuanya berfungsi. Jadi, bentuk berbicara seorang bayi usia 0-3 bulan hanya melalui tangisan dan bunyi-bunyi letupan yang dikeluarkan dari mulutnya.

Anehnya, meskipun bayi berbicara melalui tangisan, teriakan atau gumaman, kita selaku orang tua bisa memahami maksud pembicaraan bayi. Luar biasa. Ketika bayi menangis, kita langsung bertanya mengapa menangis, mengajak bicara, dan mengecek sesuatu di badannya.

Barangkali basah popoknya, dll. Kalau ternyata pokoknya tidak basah, berarti ada keingingan lain dari tangisannya tadi.

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

Kita berpikir lagi, apa penyebab bayi nangis, padahal popoknya masih kering, belum lama habis minum susu. Akhirnya, bayi digendong. Begitu di gendong, bayi langsung diam tidak nangis lagi. Nah, di sini kita sudah dapat simpulan bahwa bayi tadi menangis karena minta digendong.

Buktinya, ketika digendong langsung bayi diam dan tidak nangis lagi. Itulah hebatnya berkomunikasi dengan bayi. Bayi akan berhenti menangis jika keinginannya sudah terpenuhi. Berhenti menangis itu juga bermakna lho.

Bayi mau bilang ”Terima kasih, Bunda” karena sudah digendong. Jadi, tangisan itu melambangkan kemampuan berbicara pada bayi. Kita tidak perlu cemas pada saat bayi menangis karena ia sedang mengkomunikasikan gagasan tertentu kepada kita.

Ketika lapar, senang, sedih, nyaman, takut, haus, ngantuk, gatal, gerah, masuk angin, kembung, Lelah berbaring, minta gendong, dll, bayi menyampaikannya kepada kita dengan menangis, bergumam, atau berteriak.

Untuk menumbuhkembangkan kemampuan berbicara pada bayi usia 0-3 tahun, adalah perbanyak bayi diajak berbicara, diajak bernyanyi, tapi tidak diajak menangis tentunya. Setiap kali bayi beraktivitas, kita harus mengajaknya berbicara.

Misalnya: bayi hendak minum susu, ajaklah berdoa mau makan, karena bayi belum bisa berdoa, kitalah yang berdoa seraya mendikte bayi agar mengikuti kita berdoa. Tentu kita berdoanya pelan-pelan.

Bayi hendak tidur, kita ajak bernyanyi dan bersenandung “Nina bobok, oh nina bobok kalau tidak bobok, digigit nyamuk. Bobok lah bobok, oh anakku sayang, kalau tidak bobok digigit nyamuk.”

Bisa juga kita ajak bernyanyi lagu religi, sambal memberikan masukan pada bayi mengenai agama. Misalnya mengenalkan Rosulullah, kita bernasid “ya Nabi salam, alaikaaa, ya Rosul salam alaika, ya habib salam alaika, sholawatullah salam alaika.”

Kalau bayi sudah bangun tidur, tanya dia, bagaimana bobok-nya, nyenyak atau tidak, bagaimana badannya terasa nyaman atau tidak. Tawari dia, mau minum susu atau mau mandi dulu. Kalau mau mandi, mau mandi sama siapa, ayah, atau bunda.

Mau digendong atau tidak. Mau diganti pokoknya atau tidak. Beri tahu bayi, agar sabar menunggu karena Bunda mau ambil popok di tempatnya, dll.

Kemampuan berbicara bayi usia 0-3 bulan merupakan kemampuan berbicara simbolik. Bayi tidak mengatakan sesuatu saat berbicara, tapi ia berbicara dengan simbol menangis, berteriak, dan bergumam.

Agar kemampuan berbicaranya dapat tumbuh kembang dengan cepat, bayi memerlukan stimulan dengan banyak mendengarkan contoh-contoh orang sekitarnya berbicara. Semakin banyak bayi mendengarkan semakin terampil juga ia berbicara.

B. Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia 3-6 Bulan

Kemampuan berbahasa pada bayi usia 3-6 bulan meliputi: memperhatikan atau mendengarkan ucapan orang, meraban atau berceloteh (babbling) seperti ba ba ba, dan tertawa kepada orang yang mengajak berkomunikasi. Kemampuan berbahasa di sini berupa kemampuan menyimak dan kemampuan berbicara.

Kemampuan menyimaknya berupa memperhatikan dan mendengarkan ucapan orang lain. Kemampuan berbicaranya adalah meraban atau berceloteh (babbling) seperti ba ba ba, dan tertawa kepada orang yang mengajak berkomunikasi.

Kemampuan Menyimak

Untuk menumbuhkembangkan kemampuan menyimak pada anak usia 3-6 bulan dapat ditempuh beberapa cara, diantaranya mendengarkan percakapan, mendengarkan lagu, instrumentalia, mendengarkan cerita, dongeng, ceramah, khutbah, drama, sandiwara, mendengarkan murotal, dll.

Proses pelaksanaannya bisa langsung lewat Bunda, atau melalui media, televisi, atau radio, kaset yang diputarkan. Semua media yang diperdengarkan itu diupayakan pembicaranya atau penyanyinya dari anak-anak agar lebih menarik.

Ketika kita menggunakan media televisi, hendaknya kita hanya memanfaatkan suaranya saja. Bayi belum tepat untuk melihat televisi, saraf matanya masih terlalu halus. Sayang, apabila digunakan melihat tayangan televisi yang menyilaukan.

Kemampuan Meraban

Untuk menumbuhkembangkan kemampuan berbicara meraban atau berceloteh, hendaknya kita selalu menstemulasi dengan mengajaknya berbicara. Bisa juga dengan mengajari ucapan-ucapan satu suku kata.

Misalnya: baa, baa, baa, paa, paa, paa, maa, maa, maa, mii, mii, mii, pelafalannya dilambatkan. Lakukan sesering mungkin, bayi pasti akan mudah menirukannya kalau sudah sering mendengar lafa-lafal tersebut. Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

Apabila pengucapan satu suku kata sejenis seperti di atas, kita lanjutkan melatih mengucapkan satu suku kata tetapi berselang-seling. Misalnya: baa, paa, baa, paa. maa, mii, maa, mii. Latihan pelafalan dua suku kata tersebut diarahkan agar nantinya membentuk satu kata.

Misalnya: baa dengan paa, maa, mii untuk maksud agar bayi bisa mengucapkan kata /ba-pak/ dan /ma-mi/. Upayakan latihan pelafalan satu suku kata selalu dirangkai dengan suku kata lainnya yang dapat membentuk kata.

Pada saat mengeja, perlihatkan mulut kita terbuka lebar kepada bayi untuk mengucapkan kata berhuruf /a/, mulut kita nyengir dengan menarik kedua bibir ke kiri dan ke kanan sehingga terlihat semua gigi depan untuk mengucapkan kata berhuruf /i/.

Tujuannya agar stimulan tersebut dapat menembus dua indera bayi, yaitu indera penglihatan dan pendengaran. Proses belajar yang melibatkan beberapa indera akan mendapatkan hasil belajar yang bagus.

Nah, untuk belajar berceloteh atau babbling, berilah stimulan pandang dan dengar. Niscaya, hasilnya akan bagus. Bayi akan pintar berceloteh. Tumbuh kembang kemampuan berbahasa pada bayi akan cepat meningkat.

Kemampuan Tertawa

Untuk menumbuhkembangkan kemampuan tertawa pada bayi usia 3-6 bulan dapat diberi stimulan suara, gerak, dan sentuh. Stimulan suara dapat berupa ucapan-ucapan yang bunyinya aneh. Anak usia 3-6 bulan belum dapat memahami makna kata.

Karena itu, stimulan suara yang kita gunakan adalah stimulan suara-suara tertentu. Misalnya: suara orang tertawa, suara kucing yang lucu, suara burung tertawa. Dengan stimulan suara yang lucu diharapkan bayi dapat merespon dengan tertawa.

Selanjutnya stimulan berupa gerak, kita dapat melakukan gerakan lucu, aneh, mengejutkan di hadapan anak. Misalnya: kita menirukan gerakan melompat katak, atau menirukan gerakan hewan lainnya yang lucu.

Contoh lainnya adalah kita meniru gerakan senam, menari, atau berjoget. Diharapkan anak akan merespon dengan tertawa. Peniruan gerakan-gerakan tersebut harus ditampulkan gerakan yang jenaka agar menarik perhatian anak.

Stimulan terakhir adalah sitmulan sentuh. Caranya adalah kita akan menyentuh pipi bayi, tapi perlihatkan dulu tangan kita yang bergerak-gerak telunjuknya kepada bayi. Jika bayi sudah melihat tangan kita, lalu arahkan atau sentuhkan tangan kita kepada pipi bayi.

Tapi, ups, jangan langsung menyentuh pipi bayi. Permainkan dulu, selonongkan tangan kita ke arah pipi bayi, tapi tidak jadi menyentuh. Lakukan berulang-ulang, respon anak berupa tawa pun akan muncul.

C. Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia 6-9 Bulan

Kemampuan berbahasa pada bayi usia 6-9 bulan meliputi: mulai menirukan kata yang terdiri dari dua suku kata, merespon permaian “cilukba.”

Kemampuan berbicara pada anak usia 6-9 bulan sudah meningkat. Tadinya hanya belajar mengucapkan kata yang terdiri atas satu suku kata, sekarang pada anak usia 6-9 bulan meningkat menjadi dua suku kata dan membentuk kata.

Menirukan ucapan

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun
Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

Untuk menumbuhkembangkan kemampuan menirukan kata, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Pertama, kita latih anak menirukan kata-kata yang melambangkan aktivitas sehari-hari.

Ini akan mempermudah pemahaman makna kata sehingga maksud menirukan kata-kata tersebut dapat dimengerti anak. Misalnya: /maem/ /mimi/ /bobok/ /pakpung/ /BAB/ /pipis/ /main/ /duduk/ /jalan/ /

Selanjutnya, untuk menambah kosakata anak usia 6-9 bulan, kita juga dapat memberi stimulan dengan menirukan ucapan kata dengan vokal atau huruf hidup yang sama. Misalnya kita gunakan vocal /a/:/aa/ /bapak/ /caca/ /dada/ /gagah/ /haha/ /jajan/ /kakak/ /lala/ mamah/ /nanah/ /papah/ /rara/ /sasa/ /tata/ /yaya/, dll.

Selanjutnya, kita latih anak menirukan ucapan dengan vokal /i/: /bibi/ /cici//didi/ /fifi/ /gigi/ /hihi/ /jijik/ /kiki/ /lilik/ /mimi/ /nini/ /pipi/ /riris/ /sisi/ /titik/, dll. Dilanjutkan menirukan kata dengan vokal /u/: /bubuk/ /cucu/ /duduk/ /jujuk/ /kuku/ /luluk/ /mumun/ /nunung/ /pupuh/ /susu/ /tutuk/ /yuyu/,dll.

Berikutnya anak dilatih menirukan kata dengan huruf /e/: /bebek/ /cecep/ /dedek/ /hehe/ /jejek/ /keke/ /lele/ /nenek/dll. Berikutnya lagi, anak dilatih menirukan kata dengan vokal /o/: /bobok/ /cocok/ /dodol/ /gogon/ /jojo/ /momon/ /nonong/ /popok/ /sosok/ /totok/ /yoyok/ /wowok, dll.

Latihan menirukan kata, bisa juga kita manfaatkan dengan menyebutkan anggota keluarga: /bapak/ /mamah/ kakak/ /adik//nenek/ /kakek//paman/ /bibi/,dll.

Latihan menirukan kata dengan menyebutkan anggota badan:/mata/ /hidung/ /pipi/ /bibir/ /gigi/ /rambut/ /telinga/kuping/ /dagu/ /pundak/ /perut/ / /pinggang/ /pinggul/ / paha/ /lutut/ /kaki/ /jari/ /tapak/telapak/.dll.

Latihan menirukan kata, bisa juga kita manfaatkan dengan menyebutkan nama buah dan makanan: /apel/ /jeruk/ /pisang/ /manggis/ /anggur/ /nangka/ /sawo/ /tomat/; /nasi/ /bubur/ /air/ /roti/ /wafer/ /es/ /tempe/ /tahu/ /ikan/ /daging/ /sate/ dll.

Anak juga bisa dilatih menirukan dengan menyebut nama-nama alat makan dan alat dapur: /piring/ /sendok/ /gelas/ /garpu/ /mangkok/ /panci/ /wajan/ /teko/, dll. Dilanjutkan dengan latihan menirukan dengan menyebutkan nama alat rumah tangga: /kursi/ /meja/ /dipan/ /Kasur/ /bantal/ /selimut/, dll.

Masih banyak lagi kosakata yang terdiri dari dua suku kata untuk bahan latihan menirukan kata. Bisa kita kenalkan benda alam, nama sayuran, nama-nama pohon, nama-nama bunga, empon-empon, pakaian, mainan, dll.

Kita memiliki bahan yang cukup banyak untuk melatih anak menirukan kata. Jika dilatih secara rutin, niscaya kosakata pada anak akan semakinkaya. Akhirnya, anak akan semakin pandai berbicara.

Merespon Permainan Ciluk Baa

Selain menirukan kata, anak usia 6-9 bisa dilatih merespon. Media latihan merespon bisa dengan permainan agar anak merasa tertarik, senang, dan akhirnya mau melakukan permainan itu. Permainan yang sederhana dan mudah dilakukan adalah permainan “Ciluk Baa.”

Untuk tahap pengenalan, anak diminta melihat contoh yang diberikan Bunda atau orang lain. Selanjutnya, anak diajak bermain Ciluk baa. Misalnya: Bunda mengucapkan kata: “Ciluk Ba.” Anak menirukan kata: “Ciluk Ba.”

Bunda mengucapkan “Ciluk,” anak merespon dengan melanjutkan ucapan Bunda“baaa.” Permainan ini sederhana dan menyenangkan. Kapan dan dimana pun kita bisa bermain “ciluk baa.”

Untuk keberhasilan merespon ini adalah perbanyak stimulus dari kita sebagai orang yang selalu berada di sekitar anak. Makin banyak stimulus, makin banyak dan lancar pula respon dari anak. Jadi, perbanyaklah stimulus untuk memicu respon dari anak.

D. Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia 9-12 Bulan

Kemampuan berbahasa pada anak usia 9-12 bulan meliputi: menyatakan penolakan dengan menggeleng atau menangis, menunjuk benda yang diinginkan.

Menyatakan Penolakan

Untuk menumbuhkembangkan agar anak mampu melakukan menolakan, berilah stimulus yang tidak disukai anak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar anak melakukan penolakan.

Misalnya: saat anak asyik bermain, mainannya kita ambil, pasti anak akan menangis. Menangisnya anak menyatakan penolakan. Pada saat anak menonton televisi, lantas televisinya dimatikan kita. Tentu anak akan berteriak “Jangan!” “Ojo!” “No, No, No!” atau dengan menggelengkan kepala.

Contoh lainnya lagi: makanan kesukaannya direbut, tentu anak akan menggelengkan kepala atau bahkan menangis bahkan menjerit. Anak sedang asyik mandi dan main air, lalu kita gendong ke luar dari kamar mandi, anak akan menangis. Bahkan, anak menggeleng-gelengkan kepala dan menunjuk ke arah kamar mandi.

Ia minta bermain air lagi di kamar mandi. Selain dengan gerakan tubuh, sebagai tanda menolak, anak juga mengatakan “Tidak” “Tidak” “Emoh” “Emoh” “Gak mau” “Gak mau”, dll ucapan tidak mau atau tidak setuju. Itulah tanda anak menolak untuk menyudahi main air di kamar mandi.

Artikel terkait:

5 Tips Hebat Latih Motorik Kasar pada Anak Usia 5-6 Tahun

7 Tips WOW Tingkatkan Motorik Kasar pada Anak Usia 4-5 Tahun

6 Tips ini Tingkatkan Motorik Kasar pada Anak Usia 3-4 Tahun

Menunjuk Benda yang Diinginkan

Ada beberapa stimulus untuk melatih anak menunjuk benda yang dinginkan. Kita ajak anak ke toko mainan, ia menunjuk boneka. Kita harus paham pada isyarat anak “menunjuk.”

“Menunjuk” di sini maksudnya adalah minta dibelikan boneka.Kita bisa memberi respon berupa tindakan membelikan boneka atau tidak membelikan boneka yang ditunjuk anak.

Contoh lainnya lagi adalah ketika anak kita gendong ke kamar tidur, lantas ia menunjuk ke luar kamar tidur.  Itu berarti, anak menyuruh kita menggendongnya ke luar kamar tidur. Bisa juga berarti anak belum mengantuk, anak belum mau tidur, anak masih ingin bermain di luar kamar tidur.

Tumbuh Kembangkan Kemampuan Bahasa Pada Bayi Usia 0-1 Tahun

Makna kinestetik “menunjuk” pada anak bisa mempunyai banyak arti. Tapi, kecenderungan atau pada umumnya makna “menunjuk” pada anak di sini adalah untuk mengungkapkan keinginan terhadap yang ditunjuk.

Anak ingin mempunyai benda yang ditunjuk. Responnya dari orang tua bisa membelikan atau mengambilkan benda yang ditunjuk anak.

Pemberian stimulus biasanya dari orang tua kepada anak. Tapi, untuk mengembangkan kemampuan berbahasa yang satu ini, malah terbalik. Anak memberi stimulus, orang tua meresponnya.

Demikianlah penjelasan mengenai kemampuan berbahasa pada anak usia 0-1 tahun dan cara menumbuhkembangkannya. Kemampuan berbahasa anak usia 0-1 tahun terdiri atas: Kemampuan berbahasa pada anak usia 0-3 bulan: menangis, berteriak, bergumam.

Kemampuan berbahasa pada anak usia 3-6 bulan: memperhatikan atau mendengarkan ucapan orang, meraban atau berceloteh (babbling) seperti ba ba ba, dan tertawa kepada orang yang mengajak berkomunikasi.

Kemampuan berbahasa pada anak usia 6-9 bulan adalah menirukan kata yang terdiri dari dua suku kata, merespon permaian “cilukba.” Kemampuan berbahasa pada anak usia 9-12 bulan: menyatakan penolakan dengan menggeleng atau menangis, menunjuk benda yang diinginkan

Semoga dapat menambah wawasan untuk menumbuhkembangkan kemampuan berbahasa pada anak 0-1 tahun sehingga kemampuan mendengarkan dan berbicara pada anak dapat berkembang dengan pesat.

Referensi: dari Berbagai Sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *